Ryujin dan Jihoon tak percaya dengan dokumen yang sedang mereka lihat sekarang, disana tertera nama Ryujin untuk orang yang melunasi hutang.
"Pak saya benar-benar tidak punya uang sebanyak itu. Saya masih sekolah pak dan kakak saya masih kuliah."
"Benar kata adik saya dan apa yang seperti ini diperbolehkan?"
Jihoon tidak mengerti bagaimana bisa orang lain yang berhutang dan harus Ryujin yang melunasi.
"Dokumen itu sah dan legal, karena berisikan kesepakatan kedua belah pihak yaitu antara saya dengan peminjam hutang. Saya tidak peduli siapa yang akan melunasi selagi tertera jelas nama orang tersebut."
"Kalau begitu beri kami waktu, kami janji pasti akan melunasinya."
Ryujin melihat kearah Jihoon, bagaimana bisa mereka berdua melunasi hutang disaat penghasilan saja tidak punya.
"Oke untuk kali ini saya kasih waktu. Melihat adikmu, jadi inget anak saya. Saya tidak akan meminta kalian menulasi cepat tapi tolong kalian tulis dalam kontrak akan melunasi sesegera mungkin."
"Baik."
.
.
.
Satu bulan berlalu, dua minggu masa skorsing hukuman dari sekolah Ryujin sudah selesai. Ryujin juga sudah sekolah dan sepertinya rumor tentangnya lambat laut mereda walaupun masih ada yang memandang buruk.
Semenjak mengetahui putrinya difitnah begitu saja, Jinhwan dan Sowon meminta pihak sekolah untuk menyelidiki lebih lanjut. Usaha mereka didengar dan ternyata kebenaran terungkap.
Ryujin tidak mencuri, pelapor mengakui bahwa ia memfitnah Ryujin. Karena itu, pelapor diberikan hukuman skorsing juga.
Di depan bu Chorong, pelapor bilang kalau ia melakukan itu karena tidak suka pada Ryujin sedangkan pada Ryujin ia terpaksa melakukannya karena disuruh seseorang dan diancam.
.
.
.
"Soojin maksud lo apa?" tak ada balasan.
"Salah gue apa sama lo? kenapa lo lari dari tanggung jawab lo sendiri?" masih tidak ada balasan.
"Gue gak mau tau pokoknya lo harus tetep lunasin hutang lo."
"Gak. Udah jelas kan nama lo yang tertulis di kontrak itu Ryujin"
"Kenapa Soojin? kenapa? lo udah gue anggap sahabat sendiri."
Ryujin benar-benar tidak menyangka orang yang selama ini sudah dia anggap sahabat tega melakukan ini padanya tanpa sebab apapun.
Soojin berjalan mendekat pada Ryujin kemudian mencengkram bahu Ryujin dengan kuat.
"Inget ya Ryujin semua ini juga karena lo, lo pikir sendiri. Bentar lagi ujian, gue gak mau lo terus-terusan ganggu gue apalagi sampe datang ke rumah lagi. Dan satu lagi, gue gak pernah nganggep lo sahabat. Gue benci sama lo, inget itu."
Setelah berkata seperti itu Soojin melepaskan bahu Ryujin dan meninggalkan Ryujin begitu saja di taman sekolah.
.
.
.
Ryujin dan Chaeryeong sedang berada di halte bus, sesekali keduanya pulang menggunakan bus. Karena rute rumah Chaeryeong dan tempat kerja Ryujin berlawanan, jadi mereka tidak menggunakan bus yang sama.
"Lo berangkat kerja part time lagi Jin?" Ryujin mengangguk.
"Sorry gue gak bisa bantu banyak Jin."
KAMU SEDANG MEMBACA
ROSE - Asahi Ryujin
Fanfiction[COMPLETED] ✓ "Perihal takdir, cinta, luka dan melepaskan" "Cintaku seperti mawar merah, sekarang memang terlihat indah tapi duriku yang tajam akan melukaimu. Cintaku seperti mawar merah, benar. Aromanya begitu harum tapi semakin kau dekati, semakin...
