Hidangan masakanpun tersaji. Semua orang yang ada ditempat itu langsung mencicipi makanan tersebut.
Tidak ada banyak percakapan diantara mereka hanya sesekali terdengar seperti mengungkapkan bahwa makanannya enak dan sesuai dengan selera mereka.
Beberapa menit kemudian masakan yang mereka makan sudah habis, terlihat senyum mengembang diwajah mereka karena merasa puas dan kenyang disaat bersamaan. Hingga ayah Ryujin membuka obrolan.
"Bisnismu lancar kan Bin?" ayah Jinhwan bertanya pada Hanbin, ayah Asahi.
Dua tahun lalu Jinhwan dan Hanbin bertemu saat ada seminar antar perusahaan di Bogor. Mereka berkenalan dan kebetulan kamar hotel besebelahan jadilah mereka memutuskan untuk berteman lebih lanjut.
Setelah sudah kembali ke Jakarta, mereka jarang sekali bertemu karena jarak kedua perusahaan yang berjauhan dan kesibukan masing-masing, alhasil hanya beberapa kali bertemu dan komunikasi lewat telepon.
"Alhamdulillah lancar, kamu bagaimana? aku lihat sekarang para investor sedang minat dibidang bisnismu," jawab Hanbin
"Ya alhamdulillah lagi lancar."
Jinhwan dan Hanbin kemudian lebih lanjut lagi membicarakan soal bisnis. Sedangkan istri mereka juga saling berbincang satu sama lain, maklum ibu-ibu.
Sowon dan Mina merupakan teman satu kampus saat mereka kuliah di salah satu universitas negeri di Bandung, mereka satu jurusan dan menjalin persahabatan sampai saat ini.
Beda dengan suami mereka, justru Sowon dan Mina lebih sering bertemu, Mina sering mampir ke salon milik Sowon dan begitu sebaliknya Sowon juga sering mampir ke butik milik Mina.
Haruto dan Junghwan asik berbincang juga, sesekali membuat boomerang untuk update di ige mereka satu sama lain, biasalah anak hits.
Jihoon sibuk memainkan ponselnya hingga senggolan dari Ryujin yang memang duduk disampingnya itu mengharuskan Jihoon melihat kearah Ryujin.
Jihoon tidak bertanya hanya menatap seolah berbicara "apa?"
Ryujin berbisik "Lo masih marah sama gue? tadi di rumah gue udah minta maaf duluan loh."
Jihoon menggeleng, Ryujin bingung apa tanda gelengan tersebut. Apakah Jihoon udah gak marah atau kakaknya itu tidak mau mendengarkan ucapannya.
"Junghwan juga udah jelasin semuanya kan, jadi gak usah marah napa. Suasananya kan jadi canggung gini, gak enak tau diliat keluarga temen ortu."
"Iya gue maafin."
Akhirnya Jihoon membalas Ryujin dengan berbicara dan telah memafkan adiknya itu, ya sebenarnya masih kesal tapi sungguh dia tidak marah lagi.
Ryujin dan kedua saudaranya itu memang sering ribut tapi cepat juga berbaikan.
"Yes," Ryujin kini senyum sumringah dan mulai mensenggol-senggolkan lengan Jihoon, menggoyangkan bahu kakaknya. Jihoonpun sudah mulai tersenyum dan ikut saling senggol lengan.
Aktivitas Ryujin dan Jihoon ternyata diperhatikan oleh Asahi. Asahi kebetulan duduk tepat didepan Ryujin dan Jihoon, jadi mau tidak mau terlihat juga.
"Btw, tadi siapa nama lo?" kini Jihoon membuka pembicaraan dengan orang yang ada dihadapannya itu.
"Asahi."
Jihoon mengulurkan tangannya untuk bersalaman dengan Asahi, Asahi membalas tangan Jihoon.
"Gue Jihoon. Oh iya tadi ibu lo bilang lo line 2001 berarti seangkatan dong sama ade gue. Ryujin juga line 2001," Jihoon menunjuk Ryujin dengan jari jempol tangan kirinya.
KAMU SEDANG MEMBACA
ROSE - Asahi Ryujin
Hayran Kurgu[COMPLETED] ✓ "Perihal takdir, cinta, luka dan melepaskan" "Cintaku seperti mawar merah, sekarang memang terlihat indah tapi duriku yang tajam akan melukaimu. Cintaku seperti mawar merah, benar. Aromanya begitu harum tapi semakin kau dekati, semakin...
