Jam dinding sudah menunjukkan pukul 21.00 malam. Ryujin baru saja menemani putrinya tidur, namanya Kahee.
Setelahnya, Ryujin keluar dari kamar. Ia berjalan menuju ruang keluarga untuk membereskan mainan anak-anaknya sembari menunggu Asahi yang belum pulang kerja.
Tak lama terdengar pintu dibuka, itu Asahi. Namun lagi-lagi Ryujin harus sabar melihat sikap suaminya akhir-akhir ini.
"Saat masuk rumah, ucap salam. Sepatu dan kaos kaki disimpan rapi," ucap Ryujin sembari merapikan sepatu Asahi.
Tidak ada balasan dari Asahi, suami Ryujin itu langsung berjalan begitu saja menuju dapur.
"Udah makan? aku udah siapin banyak makanan."
Ryujin menyiapkan makanan di atas meja untuk Asahi.
"Aku mau nyiapin handuk dulu di kamar buat kamu mandi, makan yang banyak ya mas."
Ryujin mengambil tas kerja dan jas Asahi dan berjalan kearah kamarnya. Setelahnya langsung kembali ke ruang makan dan duduk di depan suaminya.
Asahi sudah selesai makan dan barulah Ryujin mengajak berbicara.
"Mas kamu kenapa? ada masalah?"
"Aku capek."
Asahi bangun dari duduknya dan hendak pergi namun dihentikan oleh Ryujin.
"Kalau ada apa-apa itu cerita sama aku."
"Kamu gak akan ngerti juga soal pekerjaanku."
Jujur perkataan Asahi sedikit menyakitkan bagi Ryujin, bahkan nada bicara Asahi sangat dingin.
"Aku tau mas, tapi harus gitu ya responmu? akhir-akhir ini juga kamu seenaknya aja kayak tadi contohnya, terus juga nyimpan baju sembarangan. Isi lemari juga berantakan."
"Kenapa kamu ngeluh kayak gitu? itu kan tugas kamu. Kamu gak pernah capek kayak aku ngurus perusahaan."
"Apa? jadi menurutmu ngurus anak dan rumah itu gak capek?"
"Kamu sendiri yang pilih itu."
"Iya aku sendiri yang pilih tapi bisa kan kamu gak bandingin apa yang aku lakukan dengan apa yang kamu lakukan."
"Ya udah urus aja sendiri."
"Mas."
.
Asahi menghabiskan banyak waktunya hanya untuk melamun di kamar mandi. Ia menyadari apa yang ia katakan pada istrinya tadi itu salah.
Semua itu terucap karena Asahi sedang pusing dengan pekerjaannya karena ada masalah. Biasanya tidak sampai seperti tadi, ia menyesal sekali dan berencana untuk meminta maaf pada Ryujin.
Saat sudah keluar dari kamar mandi, ia melihat Ryujin yang tengah berdiri di balkon kamarnya.
"Sayang."
Ryujin membalikkan badannya dan melihat pada Asahi.
"Sayang maafin aku ya." ucap Asahi sembari memeluk Ryujin dari belakang.
"Aku menyesal, aku lagi banyak pikiran."
"Kalau banyak pikiran kenapa gak cerita?"
"Iya maaf," ujar Asahi dengan suara yang dibuat manja sembari menghirup aroma tubuh istrinya.
"Geli."
Bukannya berhenti, Asahi malah memeluk lebih erat lagi, juga menciumi leher Ryujin.
"Perusahaan lagi kena masalah, udah satu bulan ini belum dapat solusinya. Maafin aku ya sayang."
"Lain kali jangan gitu lagi ya, apapun masalahnya cerita aja. Aku bisa bantu atau enggak, yang penting kamu gak jadi marah-marah."
KAMU SEDANG MEMBACA
ROSE - Asahi Ryujin
Fanfic[COMPLETED] ✓ "Perihal takdir, cinta, luka dan melepaskan" "Cintaku seperti mawar merah, sekarang memang terlihat indah tapi duriku yang tajam akan melukaimu. Cintaku seperti mawar merah, benar. Aromanya begitu harum tapi semakin kau dekati, semakin...
