44

622 118 6
                                        

Soojin melihat Asahi yang sedang berdiri di luar apartemennya melalui kamera pintu, kemudian dengan segera ia membukakan pintu untuk Asahi. 

"Asahi." 

"Gue mau ngomongin sesuatu." 

"Oke, masuk yuk." 

Asahi memasuki apartemen Soojin dan kini keduanya sedang duduk di ruang tamu. Tanpa basa basi Asahi menyerahkan satu dokumen di meja. 

"Apa ini?" Soojin mengambil dokumen tersebut. 

"Kontrak."

Soojin membaca isi kontrak tersebut dan betapa terkejutnya dia "Apa-apan sih Sa? harus ya pake kontrak gini?" 

"Iya, kita cuma jalanin perjodohan politik dan gue gak akan selamanya bareng sama elo." 

"Enggak, gue gak mau. Gue beneran sayang sama lo Sa, apa menurut lo ini semua cuma main-main?"

"Iya." 

Soojin membuang nafasnya kesal "Gue gak mau tanda tangani kontrak ini." Asahi tidak menjawab. 

"Soojin, karena gue udah ngikutin kemauan lo, jadi lo harus minta maaf sama Ryujin dan jangan ganggu dia lagi." 

"Tapi lo bikin kontrak gini." 

"Gue udah nemu firma yang lebih bagus buat perusahaan, kalau lo gak mau tanda tangan kontrak itu, gue pastiin kerjasama bisnis juga selesai." 

"Oke, gue bakalan minta maaf sama Ryujin dan gak akan ganggu dia lagi". 

Sepertinya sekarang posisinya terbalik, Soojin sudah terpojokkan oleh Asahi. 

"Sa lo mau minum apa?"

"Ga usah." 

Tiba-tiba Asahi mengeluarkan sesuatu yang ia kenakan di jarinya, sontak itu membuat Soojin terkejut dan kesal. 

"Ko lo lepas cincinnya?"

"Kita cuma tunangan bukan menikah." 

"Ya tapi apa harus sampe dilepas segala? setidaknya lo simpen lah Sa." 

"Gue emang mau simpen cincin ini tapi gak akan gue pakai." 

Setelah berkata demikian, Asahi bangun dari duduknya kemudian berjalan ke arah pintu dan keluar dari apartemen Soojin. 

Soojin mengepalkan tangan karena kesal, bisa-bisanya Asahi sedingin itu padanya. Tapi jauh dilubuk hati Soojin, ia sedih. Mengapa sebegitu menyakitkannya mencintai seseorang yang tidak pernah melihat kearahnya sama sekali. 

.

.

.

"Ini pak, mohon maaf saya baru mengembalikannya." 

"Gapapa, oh iya kalau lagi gak di kampus gak usah panggil pak, serasa tua haha." 

"Oke kak Renjun." 

Ryujin dan Jihoon sedang berada di rumah Renjun untuk mengembalikan sapu tangan.

"Kalian tunggu sebentar ya, gue lagi ngurus sesuatu." 

"Oke bang, santai aja." 

Setelahnya Renjun meninggalkan Ryujin dan Jihoon di ruang tamu, keadaan rumah saat ini sepi seperti tidak ada penghuni lain. 

"Hoon, lo bilang ini masih rumah orang tuanya kan? ko sepi banget?"

"Kerja semua kayaknya, tapi ya kalau gue kesini sih selalu sepi juga." 

ROSE - Asahi RyujinTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang