Embun sedang duduk disebuah taman, sambil menunggu Elang datang. Dengan sesekali bermain, dengan anak-anak lainnya.
Tiba-tiba ada seorang bocah laki-laki, yang menghampiri Embun yang sedang tertawa dengan teman-temannya.
"Lihat dia, dia gak punya ibu!" ledek bocah laki-laki itu.
Embun segera berdiri dari tempat bermainnya, dan menghampiri bocah laki-laki itu dengan kesal.
"Siapa bilang?! Aku punya bunda!" bentak Embun.
"Kalo punya, kemana sekarang bunda kamu?" tanya, seorang anak perempuan.
"Dia sudah meninggal."
Seketika semua teman-teman Embun tertawa, dengan begitu menggelegar. Embun seketika menekuk bibirnya.
"Embun bundanya meninggal!" ejek salah satu dari mereka.
"Embun gak punya ibu."
"Embun gak punya ibu"
Ejekan itu, semakin tergiang ditelinganya. Embun menutup, kedua telinga dan menangis.
"Embun, Bundanya meninggal" ejek, mereka.
"Piatu!"
"Piatu!"
"Berisik! Udah aku bilang! Aku punya bunda, tapi bunda aku udah bahagia sama tuhan!" teriak Embun, dengan tangisannya.
Embun segera berlari menjauh dari teman-temannya, dia merasa sakit hati. Karena semua orang, meledeknya.
"Embun!" panggil seseorang.
Embun segera membalikan badannya, dan berlari menghampiri ayahnya itu. Elang segera memeluk, gadis kecilnya itu.
"Kenapa nangis tuan, putri?" tanya Elang lembut.
"Temen-temen Embun, pada ledek Embun. Ka-tanya Embun engga punya, bunda ayah!" adu Embun, dengan nafasnya yang terengah-engah.
Seketika Elang terdiam, dan memegang kedua pipi gembul putrinya itu. Dan segera, memeluk Embun dengan erat.
"Embun punya bunda, tapi bunda Embun. Udah bahagia sama tuhan sayang," ujar Elang. Mencoba, menenangkan putrinya.
"Embun mau punya bunda!" teriak Embun, dan melepaskan pelukannya.
Embun segera berjalan, masuk kedalam mobilnya. Meninggalkan Elang, yang terpaku.
Elang membalikan badannya, dan melihat kearah mobil. Embun sudah masuk, namun tangisannya tidak berhenti.
Dengan cepat, Elang masuk kedalam mobil. Dan menjalankan mobilnya menuju rumah.
¥¥¥
Saat sudah sampai dirumah, Embun segera membuka pintu mobil. Dan menutupnya dengan keras.
Elang terlonjak kaget, karena perilaku Embun. Elang segera keluar, dan berlari mengejar putrinya.
Embun berjalan, menuju kamarnya dengan kesal. Dan air mata yang tidak berhenti, keluar dari pelupuk mata indahnya.
"Ini bukan putri ayah," ucap Elang.
Embun seketika berhenti berjalan, sungguh kata-kata Elang tidak masuk kedalam otak gadis kecil itu.
"Anak ayah engga cengeng" lanjut Elang.
"Anak ayah kuat."
Embun segera membalikan tubuhnya, melihat ayahnya yang sudah berkaca-kaca. Menahan tangisnya.
"Tapi, Embun ingin punya bunda ayah." ucap Embun, dengan sesenggukan.
"Kata siapa Embun engga punya bunda?" tanya Elang.
Embun terdiam, dan menghapus air matanya dengan tangan mungilnya.
"Embun punya bunda, tapi. Bunda Embun, udah bahagia sama tuhan." lanjut Elang.
"Embun pengen ketemu bunda, ayah!" bentak Embun.
Elang tersenyum, dan berjalan menuju putri kecilnya itu. Dan berjongkok, lalu memegang kedua pundak Embun.
"Kita, pasti akan ketemu bunda disurga sayang." ucap Elang lembut.
"Embun sayang bunda kan?" tanya Elang.
Embun mengganggukan kepalanya, dia begitu menggemaskan sekarang. Menjadi, Embun penurut.
"Kalo Embun sayang bunda, Embun gak bakal bilang gitu."
"Ayah pernah bilangkan, jangan pernah. Membentak orang tua, dan orang dewasa" ujar Elang, dengan nada lembut.
"Ma-af ayah, Embun gak akan bentak ayah lagi. Embun engga bakal, bilang gitu lagi. Embun janji!"
Elang tersenyum dan segera memeluk Embun, walaupun Embun bukan anak kandung Elang.
Tetapi, ia sangat sayang dengan gadis kecil itu. Sangat takut, kehilangan Embun.
Semua keluarga besar, Embun dan Elang. Sudah sangat menyayangi, gadis kecil itu seperti anak yang dilahirkan oleh Embun.
Walaupun mereka memang tidak menikah, tapi Elang sangat menyayangi Embun. Dari dulu, hingga masa depan kitu.
Tidak ada yang merasa keberatan, dengan keputusan Elang. Semuanya sangat mendukung.
"Embun sangat membutuhkan kasih seorang ibu, apa aku harus. Mencari seorang ibu, untuk Embun?"
Elang melepaskan pelukannya, lalu mencium dahi putrinya cukup lama.
TBC
.
.
.
.
.
Jangan lupa tinggalkan jejak teman 🧡
Jangan lupa, buat komen dan vote🧡
Luka_10
KAMU SEDANG MEMBACA
After Embun
Fiksi RemajaBIASAKAN FOLLOW SEBELUM MEMBACA REVISI DILAKUKAN SETELAH CERITA SELESAI diusahakan untuk membaca cerita Embun terlebih dahulu. Agar tau, alur ceritanya bagaimana. Agar, tidak salah paham. Embun Ravandra Praciska, memang bukanlah bagian keluarga Rava...
