Pulang Bareng Mark

1.8K 180 19
                                        

Selamat membaca, jangan lupa komen dan vote 😊 maaf jika ada yang typo 🙏. Jangan lupa masukkan cerita ini ke reading list kalian dan juga recommended ke teman kalian😊 follow juga akun ini, Terima Kasih 🤍 
*
*
*

Hari-hari berlalu, sikap Zara makin seenaknya terhadap Lio. Zara selalu ingin full bersama Lio jika di sekolah. Jika Lio tidak mau selalu saja Zara memberikan ancaman konyol nya membuat Lio muak.

Berkali-kali Zara membuat rencana agar Lio kembali memiliki perasaan terhadap dirinya. Zara tau Lio pasti pernah menaruh hati terhadap.

Seperti sekarang Lio lagi-lagi harus pulang bersama Zara. Zara tidak membiarkan Lio dan Aqila memiliki waktu. Bahkan sering Zara mengulur waktu agar Aqila pulang sendiri.

"Antar Zara lagi?" tanya Danu yang dibalas anggukan kepala oleh Lio.

Sebenarnya semua teman Lio termasuk istrinya Aqila susah tau tentang kenapa Lio menerima Zara kembali. Lio tidak ingin mereka salah paham seperti waktu dulu. Lio tidak ingin mengulangi hal yang sama lagi.

Respon Aqila ia mau saja di keluarkan dari sekolah ini. Aqila tidak peduli, Aqila tidak ingin sayang dan cinta Lio terbagi. Tapi Lio tidak ingin hal itu terjadi, sekarang Aqila tanggung jawab dirinya, Lio tidak ingin Aqila putus sekolah karena hal ini.

Bukan karena Lio menyukai atau mencintai Zara. Sedikit pun perasaan itu tidak ada lagi dalam hati Lio. Lio sudah membuang jauh-jauh perasaan pada siapa pun. Ia hanya ingin Aqila selamanya menjadi miliknya.

"Kakak akan selesai ini cepat, kakak gak akan pernah tertarik sama Zara. Percaya sama kakak dan tetap cinta sama kakak." Kata-kata itu lah yang Aqila pegang.

Lio sudah berjanji hal ini akan ia selesai kan secepatnya Aqila juga sangat percaya pada Lio sepenuhnya.

"Aqila di mana key?" tanya Lio pasalnya Key datang sendiri.

"Aqila di panggil Bu Ira ke ruang gue. Aqila bisa pulang sendiri, kak Lio gak perlu khawatir," ujar Key menyampaikan pesan dari Aqila tadi.

"Ayok antar Zara pulang kak," regek Zara membuat yang lain menatap jijik kepada Zara.

Lio merogoh kantung celananya. Mulai mengetik sesuatu di benda pipi itu.

Hp Aqila berbunyi membuat ia menatap benda tersebut.

'Ada pesan dari kak Lio.'

Dengan segera Aqila membuka pesan dari suaminya itu.

Suami Aqila🤍: 'Jaga diri baik-baik sayang, nanti langsung pulang ya. Kalau masih lama gue jemput.'

Isi pesan dari Lio.

Suami Aqila🤍: 'Iya kak.'

"Kita luan," ujar Gara saat dirinya dan Ariana susah memasuki mobil Gara.

Gara dan Ariana telah menjalin hubungan pacaran sejak satu minggu yang lalu. Ariana yakin Gara tidak akan menyakiti dirinya, Gara juga cowok baik yang selalu ada untuk nya.

"Lio kita cabut," ujar Danu meninggalkan Zara dan Lio di parkiran.

Jangan tanya kemana Satria pergi. Cowok itu tadi buru-buru pamit ke sahabat nya. Ada yang penting katanya.

"Kak pulang yuk," rengek Zara lagi dan lagi.

Lio hanya diam tanpa memperdulikan Zara. Lio masuk ke dalam mobilnya membuat Zara mencabik bibirnya kesal.

Selama perjalanan hanya Zara yang asik mengoceh tidak jelas. Lio diam fokus pada jalan di depannya.

"Kak Lio Zara lapar. Kita singgah makan dulu ya," ajak Zara.

Diam.

"Kak Lio." Masih diam.

"Kak Lio jangan diam nanti Zara bong..."

"Bongkar aja gue gak peduli. Lo bisa diam gak sih? Tugas gue banyak tambah lagi lo yang aneh kaya gini. Bisa gak lo jadi Zara yang dulu aja!" teriak Lio membuat Zara bungkam.

Persetan dengan Zara membongkar rahasia itu. Lio sudah muak dan lelah dengan sifat Zara.

Zara menunduk dalam bahu gadis itu berguncang pelan. Lio tau saat ini Zara sedang menangis tapi Lio tetap biasa saja, ia tidak mau berlebihan lagi terhadap gadis itu.

"Kak Lio suka sama Zara yang dulu?" tanyanya di sela isak tangisnya.

Lio menatap Zara sekilas. Pipi Zara sudah basa dengan air matanya. "Gue gak pernah suka sama lo," lirih Lio.

"Kenapa kak Lio nelpon Zara, kirim SMS sama Zara bahkan kak Lio juga datang cara Zara ke rumah! Zara tau kak Zara tau tapi kenapa hiks hiks," tangis Zara mempertanyakan perbuatan Lio waktu dulu.

"Itu dulu dan itu kesalahan gue. Gue hanya sayang dan cinta sama satu orang. Orang itu istri gue Aqila Andrilio Azkha Putra," ucap Lio penuh penekanan.

***

Aqila tidak punya cara lain ia harus berjalan ke arah rumahnya. Padahal seingat Aqila tadi ia memiliki uang tapi sekarang sudah hilang membuat ia jalan.

HP Aqila juga sudah mati sejak tadi langit juga sudah gelap pertanda hujan akan turun.

Aqila berdecak kesal. "Kenapa sih hujan mau turun!" guman gadis itu kesal.

Beberapa kali Aqila menghentakkan kakinya kasar. Bagaimana ia harus menghubungi Lio sekarang. Apa ia harus mengalami nasib yang sama di waktu dulu. Kehujanan dan berakhir sakit.

Jika Aqila mengingat kejadian itu Aqila kembali merasa sakit dan sesak di dadanya. Semua kejadian itu akibat Zara dan sekitar Zara kembali lagi.

Tinn..
Bunyi klakson mobil yang kuat membuyarkan lamunan Aqila.

'Mark,' batin Aqila. Gadis itu sangat paham dengan mobil yang Mark gunakan.

Benar dugaan Aqila. Cowok itu menurunkan kaca mobilnya menatap Aqila.

"Ayo naik, gue antar," ujar Mark.

"Ngak usah Mark, Aqila jalan aja," tolak Aqila cepat.

"Lo mau kehujanan?"

Aqila menatap ke atas. Langit sudah sangat gelap sudah pasti ia akan kehujanan.

"Hujan gak akan turun Mark."

"Cikh dasar keras kepala. Lo bilang gak akan hujan noh lihat baik-baik udah gelap." Tunjuk Mark ke arah langit.

"Cepat naik, nanti lo sakit kena hujan!" titah Mark.

"Iya iya." Mau tidak mau Aqila masuk ke dalam mobil Mark.

Baru saja Aqila masuk, hujan sudah sangat lebatnya mengguyur kota Jakarta. Untung keras kepala Aqila tidak bertahan lama, gadis itu tidak sampai terkena hujan.

"Apa gue bilang, hujan turun kan," oceh Mark. Aqila berdehem membenarkan.

Dalam perjalanan sesekali mereka mengobrol dan tertawa bersama. Aqila tidak bisa membaca tingkah Mark. Kadang cowok itu pendiam, kadang juga ngeselin bahkan Mark juga bisa jadi teman yang baik buat Aqila.

Mark menoleh ke bangku belakang lalu mengambil patung yang ada di sana.

"Nih."

Mark menyodorkan payung tersebut. Hujan belum juga reda.

"Terimakasih Mark sudah antar Aqila pulang. Dan juga terimakasih buat payung ini."

Mark tersenyum manis. "Sama-sama."

Setelah Aqila turun dan masuk kedalam rumahnya Mark pun berlalu meninggalkan pekarangan rumah mewah itu.

"Semoga lo selalu bahagia Aqila," guman Mark di tengah derasnya hujan.

Lio & Aqila (END)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang