Jangan lupa komen dan vote 😊 maaf jika ada yang typo 🙏. Jangan lupa masukkan cerita ini ke reading list kalian dan juga recommended ke teman kalian😊 follow juga akun ini😇
Part ini menguras emosi😁🤭 Selamat membaca, terima kasih🔥🙏
*
*
*
"Gue dengar pemilik sekolah ini punya anak perempuan satu angkatan dengan kita," bisik Rio pada Raka di kelas sebelas IPA satu, tepatnya kelas Aqila.
"Cantik?" tanya Raka antusias.
Rio mendekatkan duduknya. Pembicara mereka mulai seru. "Banget! Kaya bidadari cuyy," cegegesan Rio.
"Pak kepala sekolah ada anak cowo gak?" tanya Key yang tidak sengaja mendengar pembicaraan dua cowo itu.
"Hus Key, ingat kak Danu!" komentar Aqila.
Key cegeges tidak berdosa. "Gue cuman nanya aja Aqila hehe."
"Gue gak tau," jawab Rio membalas pertanyaan Key.
"Dasar lo!" cibir Key tidak suka.
Lio sudah dari dengan almet OSIS miliknya, mungkin almet itu masih miliknya tapi tidak beberapa saat lagi. Almamater yang hampir dua tahun Lio pakai akan ia lepaskan juga. Hari ini Lio akan melepaskan jabatan OSIS nya.
"Saya gue luan ya. Mau lihat persiapan dulu," ujar Lio pada Aqila.
"Iya kak."
Lio berlari terburu-buru ke lapangan, untuk mempersiapkan hal apa saja yang masih kurang untuk acar nanti. Untuk terakhir kalinya Lio ditunjuk untuk mempersiapkan acara tersebut.
Aqila masih berdiri di parkiran entah siapa yang sedang Aqila tunggu saat ini.
Brakk!
Aqila tersungkur ke tanah yang membuat rok di bagian lututnya kotor.
"Sorry sorry gue gak sengaja."
Aqila yang merasa familiar dengan suara tersebut langsung menoleh. Benar saja dugaannya. Itu Mark.
"Mark!" kesal Aqila.
Aqila bangkit dari tempat ia terjatuh. Menepuk-nepuk rok abu-abu yang kotor.
"Aqila maafin gue, bener kali ini gue gak sengaja buat nabrak lo," ujar Mark buru-buru meminta maaf.
"Udah Mark, Aqila gak apa-apa. Lupain aja."
Aqila masih asik membersihkan rok nya. Tapi tetap saja noda tanah yang berada di rok nya tidak bisa bersih begitu saja.
"Wajah lo kenapa?" tanya Mark saat tidak sengaja melihat wajah Aqila yang muram.
"Emangnya wajah Aqila kenapa? Ada yang kotor ya?" Aqila mulai mengusap-usap wajahnya takut ada tanah yang ikut menempel di sana.
Mark terkekeh pelan melihat tingkah lucu Aqila. "Maksud gue bukan itu."
"Jadi?"
"Wajah lo kenapa muram gitu? Harusnya lo bahagia, sebentar lagi kita akan di umumkan jadi pemenang di seluruh sekolah ini," ujar Mark.
"Aqila gak tau Mark, perasaan Aqila gak enak. Mungkin akan terjadi sesuatu yang buruk."
"Itu hanya perasaan lo aja. Semua akan baik-baik saja," ujar Mark bersungguh-sungguh.
Seluruh murid SMA Nusa Bangsa terlah berbaris di lapangan dengan rapi. Sedangkan pemenang olimpiade, OSIS lama dan juga OSIS baru sudah berdiri di tengah lapangan karena acara ini di buat khusus untuk mereka.
Yang paling tidak di sangka-sangka OSIS baru di SMA Nusa Bangsa adalah Brayen, Brayen Brimajaya. Masih ingat satu kelas Aqila dan juga ketua kelas di kelas sebelas IPA satu. Dan juga Martin sahabat Mark menjadi wakil ketua OSIS.
"Selamat pagi anak-anak," sapa Pak wakil kepala sekolah semangat.
"Pagi pak!" teriak seluruh murid.
"Baiklah anak-anak seperti yang bapak beritahukan kemarin. Hari ini kami membuat sebuah acara dan hari ini juga pemilik sekolah ini akan datang berkunjung. Jadi mari kita beri tepuk tangan buat Pak Purnama."
Seluruh murid bertepuk tangan meriah menunggu sang kepala sekolah muncul. Seorang pria paruh baya dan juga istrinya tampak dari balik punggung wakil kepala sekolah. Semua yakin bahwa itu lah pemilik sekolah ini, Pak Purnama.
Tapi semua pandangan teralih ketika seorang wanita muncul dari belakang mereka. Cantik, dengan rambut sebahu, hidung mancung, mata bulat dan juga bibir tipis membuat para murid mulai berbisik-bisik.
"Zara," gumam Lio yang tepat tempat berdiri mereka saling berhadapan.
Aqila jangan tanya, ia sangat terkejut. Aqila menatap Lio yang tidak henti menatap Zara yang saat ini sangat berubah. Sangat cantik. Aqila menunduk dalam merasakan sakit di hatinya.
"You ok?" tanya Mark yang melihat ekspresi Aqila yang tiba-tiba sedih.
Aqila mengangguk kecil. Walau sebenarnya ia tidak baik-baik saja.
"Tolong tenang anak-anak," ujar Pak wakil.
"Terima kasih kepada para murid yang sudah menyambut saya dengan keluarga dengan baik. Kalian semua pasti sudah tau kedatangan saya ke sini, sebelum itu saya akan memperkenalkan diri saya dan juga keluarga saya," ujar Pak Purnama.
"Saya Andrian Purnama pemilik sekolah ini dan ini istri saya," merangkul wanita paruh baya di sampingnya. "Regina Purnama istri saya. Kami memiliki putri tunggal, Zaraadkara Purnama," sambung pak Purnama. Seluruh murid mulai berbisik-bisik.
"Zara si cupu."
"Jadi dia pemilik sekolah ini."
"Dia hanya pura-pura cupu."
"Mampus kita."
Bisik beberapa dari mereka. Zara bodoh amat dengan hal itu, sekarang tatapan nya tidak lepas dari wajah tampan Lio. Dia rindu dengan cowo itu.
'Sudah lama. Zara benar-benar rindu dengan kak Lio,' batinnya.
Acara berlangsung dengan hikmat. Pertama dengan mengucapkan selamat kepada anggota Olimpiade memberi mereka juga sebuah hadiah. Dilanjut dengan penurunan OSIS yang sudah berkerja dengan baik dan terakhir pengangkatan OSIS baru. Acara di lakukan dengan baik.
Setelah acara selesai hhusus untuk hari ini pelajaran di liburkan.
"Kak Lio," panggil Zara membuat pemilik nama lengkap Andrilio Azkha Putra itu menoleh.
"Zara mau ngomong sesuatu kak. Bisa?"
Entah mengapa Lio langsung mengangguk menyetujui permintaan Zara tersebut. Zara menarik tangan Lio ke arah taman belakang tanpa memperhatikan tatapan aneh dari anak murid dan juga tatapan Aqila.
Mereka duduk di bangku yang ada di sana dengan Zara asik meremas ujung rok abu-abu itu. Lio fokus menatap wajah Zara yang ada di sampingnya.
"Kenapa menghilang?" tanya Lio membuka suara.
"Zara gak sanggup di buli terus kak," ujar Zara masih menunduk.
Lio bungkam tidak tau harus berkata apa. Lio mengingat kejadian waktu itu saat dia memutuskan Zara. Zara habis-habisan di buli murid SMA Nusa Bangsa. Cukup lama kembali terdiam sampai...
"Zara rindu kak Lio," kata Zara tiba-tiba. Mata Zara sudah menatap mata tajam milik Lio.
Tiba-tiba Zara memeluk membuat cowo itu diam tidak membalas. Cukup lama sesi pelukan tersebut tetap saja Lio tidak membalas dan juga tidak mendorong Zara. Lio membiarkan begitu saja.
"Maaf," ujar Zara menunduk kembali. Merasa bodoh karena hanya dirinya yang memeluk Lio sedangkan Lio tidak membalas hal tersebut.
Kringgg!
"Gue harus kembali ke kelas."
Zara menarik pergelangan tangan Lio. "Kak Lio mau ninggalin Zara lagi?" Mata Zara sudah berkaca-kaca ingin menangis.
Lio berpikir keras kapan ia meninggal Zara. Akh untuk apa Lio memikirkan hal itu.
"Maaf," lirih Lio berlalu dari sana.
Lio merutuki dirinya yang dengan mudah menyetujui ajakan Zara untuk berbicara. Padahal saat ini Aqila masih di lapangan menyaksikan mereka.
"Bodoh lo Lio!" ujarnya pada diri sendiri.
KAMU SEDANG MEMBACA
Lio & Aqila (END)
Romance[FOLLOW DULU SEBELUM MEMBACA!!!] Pernikahan anak SMA. Bisa dikatakan perjodohan sesama anak SMA. Tidak ada yang tau hubungan keduanya lebih dari sekedar sepupu saat menjalani hubungan rumah tangga tersebut. Awalanya tidak ada rasa suka dan cinta di...
