Hari ini sakral bagi Lio dan Aqila, hari ini mereka akan mengikat diri mereka dalam sebuah hubungan suci. Aqila terlihat cantik dan anggun dengan make up tipis dan baju pengantinnya. Sedangkan Lio terlihat sangat gaga dan tampan dengan jas hitam yang melekat ditubuh atletisnya.
"Putri mama cantik banget," ucap Susi mendekat kepada putri satu-satunya itu. Ada rasa bahagia dan sedih yang harus ia rasakan secara bersamaan.
Sedih karena dia akan berpisah dengan putri kecilnya tersebut. Bahagia karena Aqila putrinya akan memasuki hidup baru bersama suaminnya Lio.
"Mama," ucap Aqila sambil memeluk erat Susi enggan untuk melepaskannya.
"Jadi istri yang nurut sama sama suami kamu ya sayang," ucap Susi mengelus punggung Aqila. Aqila hanya tersenyum.
"Wahh menantu mama cantik banget," ucap Rani berjalan kearah Aqila dan Susi.
"Iya tante."
"Etss jangan panggil tante lagi, kan kamu udah sah sama anak mama."
"Iya mah," ucap Aqila malu-malu. Rasanya sangat aneh memanggil orang lain dengan sebutan Mama selain Mama Susi. Tapi saat ini ia harus terbiasa dengan panggilan itu untuk Mama mertuannya.
"Ya udah mari kita turun, semua sudah menunggu dibawa," ajak Rani.
Mereka pun menuruni satu persatu anak tangga, semua mata tertuju pada Aqila sedangkan Aqila hanya menunduk malu.
Bram menggenggam erat tangan putri kecilnya, membawa Aqila kepada Lio. Dan memberi kepercayaan serta tanggung jawab penuh atas Aqila kepada Lio.
Sedangkan Lio menerima dan menggenggam erat tangan Aqila enggan untuk melepaskannya.
"Cantik," guman Lio nyaris tidak terdengar.
Acara sakral pernikahan telah selesai, pemasangan cincin dilakukan Lio dan Aqila dengan bahagia. Mereka berdua menyalimi satu persatu tamu undangan. Walau tidak banyak yang diundang keluarga Gibran maupun keluarga Azkha tetap saja Aqila merasa lelah dengan gaun yang ia gunakan.
Acara pun berakhir, Aqila langsung naik kekamarnya membersikan tubuhnya yang sangat lengket dan lelah.
15 menit Aqila selesai dengan ritual mandinya beranjak dari kamar mandi melihat Lio sedang duduk ditepi ranjangnya. Terkejut itulah yang Aqila rasakan.
"Gue dah sah jadi suami lo, jadi ngak usah terkejut kaya gitu," ucap Lio dan berlalu menuju kamar mandi.
"Apa Aqila harus tidur sama ka lio?" bantin Aqila bertanya-tanya.
--------
Matahari telah menampakkan sinarnya , Aqila yang merasa tidur nyeyaknya diganggu langsung terbangun. Ia merasa risih dengan sesuatu yang melingkar dipinggangnya. Ternyata itu tangan kekar milik lio suaminya saat ini.
Aqila tersenyum memperhatikan wajah damai suaminya saat ini. Setelah puas memandangi wajah tampan suaminya Aqila bergegas mandi dan membatu mama nya menyiapkan sarapan.
"Pagi mah," sapa Aqila.
"Pagi sayang," balas Susi dan Rani bersamaan.
"Lio belum bangun?" tanya Susi dan hanya dapat anggukan dari Aqila.
"Lio emang gitu sayang, mama aja selalu kerepotan buat bangunin dia. Tapi karan kamu sudah ada tuga itu mama serahkan kepada kamu," jelas Mama Rani.
"Iya mah," ucap Aqila malu-malu.
Makanan sudah tertata rapi di meja makan dan sudah ada Bram dan Toni sedang berbincang-bincang.
"Sayang kamu panggil suami kamu ya, mungkin dia masih molor," ucap Rani terkekeh.
"Iya mah."
Aqila menaiki tangga untuk sampai ke kamarnya, tapi di tangga ia berjumpa dengan abang iparnya Iqbal.
"Pagi," sapa iqbal manis.
"Pagi kak."
"Mau ke mana?" tanya Iqbal.
"Panggil kak Lio."
"Dasar tuh kebo ngak berubah aja. Padahalkan dah punya bini," ketus Iqbal.
"Hehe ya udah Aqila kekamar dulu ya kak."
"Iya, kalau tuh anak ngak mau bangun juga siram ajah tuh muka nya," ucap Iqbal dan dapat kekehan dari Aqila.
Aqila melanjurkan menuju kamarnya, saat membuka pintu ia melihat Lio tidur memeluk guling enggan untuk dibangunkan.
"Apa ini akan jadi rutinitas Aqila setiap pagi nya? Bagunkan Kak Lio?" batin Aqila.
Aqila mulai membuka tirai jendela kamarnya untuk membiarkan sinar marahari masuk.
"Kak bangun," panggil Aqila tapi tidak mendapat respon.
"Kak."
"Kak Lio bangun!" teriak Aqila sedikit kencang sambil mengguncang bahu Lio.
Lio yang merasa tidur nyeyak nya tergagu langsung menarik tangan Aqila lembut yang mampu membuat Aqila terjatuh kedada bidang milik Lio.
Aqila merasa detak jantungnya tidak karuan dan ia bisa merasakan hembusan nafas Lio dengan jarak yang sedekat ini.
"Kenapa sih bangunin gue?" Guman Lio dengan suara khas bangun tidur menatap Aqila.
"Kak sarapan, mama sama yang lain udah nunggu di bawa," ucap Aqila gemetar masih dengan posisi sama.
Cuppp
Lio mengecup kening Aqila sekilas dan berlalu meninggalkan Aqila yang tengah benggong dengan perbuatan suaminya tersebut.
"Biasain diri lo, mungkin lebih dari situ," ucap Lio dan berlalu kekamar mandi.
"Apa?!" teriak Aqila mencerna kata-kata Lio barusan.
Lio yang berada didalam kamar mandi hanya tersenyum puas melihat pipi merah istrinya karena ulahnya sendiri.
KAMU SEDANG MEMBACA
Lio & Aqila (END)
عاطفية[FOLLOW DULU SEBELUM MEMBACA!!!] Pernikahan anak SMA. Bisa dikatakan perjodohan sesama anak SMA. Tidak ada yang tau hubungan keduanya lebih dari sekedar sepupu saat menjalani hubungan rumah tangga tersebut. Awalanya tidak ada rasa suka dan cinta di...
