Selamat membaca, jangan lupa komen dan vote 😊 tandai jika ada yang typo . Jangan lupa masukkan cerita ini ke reading list kalian dan juga recommended ke teman kalian😊 follow juga akun ini, Terima Kasih 🤍
*
*
*
Pagi ini Lio sudah berada di depan rumah Zara. Sebenarnya tadi Zara sudah meminta Lio untuk tidak menjemput dirinya. Bahkan satu minggu ini Lio tidak lagi menjemput Zara.
Hanya saja sikap Zara yang seperti ini membuat Lio jadi plin-plan. Lio hanya ingin menanyakan apakah Zara sudah melepaskan dirinya dan hubungan mereka dan apakah hubungan mereka sudah selesai sampai di sini. Lio hanya ingin menanyakan hal itu, hanya itu.
"Kak Lio," guman Zara bingung dan heran.
Zara yang sudah berada di depan gerbang kediaman Purnama bersama sang Mama sempat heran karena kedatangan Lio.
"Pagi Tante," sapa Lio seperti biasa. Manis dan sopan.
"Pagi Lio," balas mama Zara. "Kenapa nak Lio jarang jemput Zara? Kalian berdua lagi berantam?"
Mama Zara melihat Lio dan putrinya secara bergantian. Lio terlihat biasa saja Zara terlihat gugup.
"Mah, kan Zara udah kasih tau. Zara sama kak Lio baik-baik aja."
"Mama hanya khawatir dengan hubungan kalian sayang. Kalau ada apa-apa selesaikan baik-baik ya nak Lio."
Lio mengangguk. "Iya tante."
"Lio sibuk nggak nanti siang?"
Lio menaikkan alisnya tidak paham dengan ucapan Zara.
"Tante berniat ngajak Lio makan siang hari ini. Lio mau kan?"
Lio melirik Zara yang di lirik hanya diam tanpa mau memandang Lio. Lio berpikir keras bagaimana cara dia agar menolak secara halus.
"Iya bisa Tante." Lio tidak punya cara lain untuk menolak.
'Hanya sebatas silahturahmi,' batin Lio.
***
Lio dan ketiga sahabat duduk manis di kelas. Jam pelajaran pertama kosong karena guru yang mengajar kelas tersebut sakit. Jadi kelas itu ribut begitu saja.
Percakapan serius dan konyol silih berganti dalam obrolan mereka. Sesekali Lio ikut tertawa dan ikut membahas obrolan sahabat. Memang sikap Lio tidak berubah saat bersama teman-temannya. Tetap menjadi Lio yang dingin dan tidak banyak bicara.
Beda lagi jika bersama Aqila. Lio akan menjadi ceria dan hangat terkadang juga bawel.
Cinta memang aneh, dapat merubah segalanya. Dan cinta Aqila dapat membuat warna baru dalam hidup Lio.
Setelah menghantar Aqila pulang Lio kembali membelokkan mobilnya menuju rumah Zara. Sesuai dengan ajakan mama Zara mereka akan makan siang bersama hari ini. Lio juga tidak memberitahu Aqila tentang hal itu, Lio yakin ini hanya makan siang saja.
Zara sudah pulang sejak tadi. Seperti benar-benar ingin jaga jarak dengan Lio. Lio berharap Zara juga sudah tau dengan statusnya saat ini.
"Ayok masuk Lio," ajak mama Zara saat Lio terdiam di depan pintu utama keluarga Purnama.
Mama Zara langsung mengajak Lio duduk ke salah satu bangku yang sudah tersedia di meja makan. Juga dengan makanan dan juga minuman yang tertata rapi di meja makan.
"Tante panggil Zara dulu. Kamu Jangan sungkan ok, anggap aja rumah sendiri."
Lio memperhatikan kediaman Purnama tidak hanya dari luar. Di dalam rumah Zara juga sangat mewah dengan barang-barang mewah juga. Terbesit di pikiran Lio kenapa Zara waktu dulu bertingkat seperti orang cupu.
Pandang Lio terahlikan pada Zara dan mama nya yang sedang berjalan ke arah Lio. Terlihat Zara hanya memakai kaos biasa dan celana pendek yang memperlihatkan paha mulusnya di depan Lio.
Buru-buru Lio mengalikan pandangannya dari hadapan Zara. Lio berdesis tidak suka. Aqila saja tidak pernah pakai celana sependek itu di hadapannya.
Acara makan siang berlangsung dengan hikmat. Sedikit percakapan menemani makan siang mereka.
"Gimana dengan masakan Tante Lio?"
"Enak Tan." Lio akui masakan mama Zara benar-benar enak. Jika ia tidak tau malu sejak tadi Lio sudah mengambil banyak.
Mama Zara tersenyum kecil. "Lain kali kamu harus lebih sering-sering main ke sini. Nanti Tante masakin yang lebih enak dari sini." Lio mengangguk kecil.
Tiba-tiba HP yang berada di samping mama Zara berbunyi. Wanita paruh baya itu dengan sigap langsung mengangkat telpon yang masuk.
"Iya mas."
"...."
"Mama segerah ke sana."
"Siapa Mah?" tanya Zara saat sambungan telpon tersebut terputus.
"Papa. Mama harus ke kantor sekarang, ada urusan yang harus Mama selesaikan juga." Mama Zara berdiri dari bangkunya.
"Kalian berdua nggak apa-apa kan di tinggal berdua." Lio dan Zara menggeleng bersamaan.
"Maaf ya Lio Tante harus ke kantor dulu."
"Nggak apa-apa Tante."
"Mama berangkat dulu ya sayang." Mama Zara mengecup kening putri satu-satunya itu.
"Tante pergi dulu ya Lio. Tolong jaga Zara."
"Iya Tante."
Setelah kepergian Mama Zara hanya ada dentingan sendok dan piring yang beradu. Lio masih fokus pada makanan di hadapan. Zara sesekali memperhatikan Lio.
"Kak Lio nggak pulang?"
Lio menatap Zara. "Lo ngusir gue?"
"Bukan. Zara takut nanti ada yang fitnah. Hanya ada Zara dan kak Lio di rumah ini."
Tatapan mereka bertemu untuk beberapa saat. "Lo nggak apa-apa sendiri?" Bukannya karena Lio khawatir menanyakan hal tersebut. Hanya saja mama Zara sudah berpesan agar Lio menjaga Zara.
"Zara sudah biasa sendiri kaya gini."
"Gue balik, jaga diri lo baik-baik."
Baru saja Lio berdiri dari duduknya kepalanya sangat sakit dan nyeri. Lio tidak bisa menahan tubuhnya kembali duduk di bangku meja makan dengan keadaan tidak sadarkan diri.
***
"Kak Lio di mana sih? Kenapa belum ada kabar dari tadi."
Aqila mulai tidak tenang. Bagaimana tidak jam sudah menunjukkan pukul 19.50 tapi suaminya Lio belum juga pulang.
Berkali-kali Aqila menelpon nomor Lio tapi tidak ada jawaban dari cowok itu. Aqila juga sudah menelpon nomor teman-teman Lio tapi mereka tidak juga bersama suaminya.
"Sebenarnya Kak Lio ada di mana?" guman Aqila.
"Aqila."
"Kak Lio, dari mana aja?"
Aqila memeluk tubuh Lio erat. Suaminya masih lengkap dengan seragam putih abu-abu nya walau terlihat kusut.
"Maaf sayang kakak tadi ngumpul sama OSIS lama dan baru," bohong Lio.
Lio belum berani mengatakan yang sebenarnya terjadi walau ia sangat yakin ia tidak melakukan apa-apa dengan Zara.
"Kak Lio pasti lelah. Bersih-bersih dulu, Aqila siapkan makan malam."
Lio mengecup kening Aqila cukup lama. Lalu naik ke lantai dua untuk membersihkan dirinya yang sangat lengket.
Kejadian itu terus menghantui Lio. Lio terbangun dari pingsannya berada di kamar Zara dengan posisi Zara memeluk tubuh Lio dari samping. Kemeja sekolah Lio sudah lepas tapi bagian bawanya masih lengkap dengan celana abu-abu. Pakaian Zara juga masih melekat di tubuh gadis itu.
'Apa yang terjadi sebenarnya?'
*
*
*
Satu kata buat part ini🔥
Satu kata buat Lio?
Satu kata buat Aqila?
Satu kata buat Zara?
KAMU SEDANG MEMBACA
Lio & Aqila (END)
Romance[FOLLOW DULU SEBELUM MEMBACA!!!] Pernikahan anak SMA. Bisa dikatakan perjodohan sesama anak SMA. Tidak ada yang tau hubungan keduanya lebih dari sekedar sepupu saat menjalani hubungan rumah tangga tersebut. Awalanya tidak ada rasa suka dan cinta di...
