*Selamat membaca 🙏 jangan lupa vote dan komen😊*
*
*
*
Lio tetap bersikap dingin pada Aqila. Sudah satu minggu berlalu, papa Toni dan juga Mama Rani sudah pulang dari urusan bisnis mereka.
Aqila duduk di tepi ranjang membuka bingkisan yang di bawa Rani untuk menantunya tersebut. Ketika sedang asik melihat hadiah dari sang mama tiba-tiba Lio masuk kedalam kamar mereka.
"Beresin barang-barang. Kita akan pindah sekarang juga!" perintah Lio dingin.
"Pindah?"
"Iya, sebelum gue nikah sama lo gue udah beli sebuah rumah. Gue gak mau udah nikah tapi masih nyusahin orang tua," jelas Lio.
"Kenapa harus pindah kak? Aqila lebih senang di sini ada mama dan juga kak Iqbal. Kalau Aqila sama kak Lio, kak Lio akan selalu tinggalkan Aqila sendiri."
Aqila hanya takut di tinggal sendiri oleh Lio saat mereka hanya tinggal berdua. Tau saja sifat Lio paling tidak betah di rumah.
'Gue gak suka lo dekat sama kak Iqbal," batin Lio. "Gue gak akan tinggalin lo sendiri."
"Janji?"
"Iya janji."
"Ok Aqila beres-beres sekarang."
Aqila mulai mengkemasi barang-barang milik mereka. Sore ini Aqila akan pindah bersama suaminya. Ia tidak tau Lio akan menepati janjinya atau tidak menepatinya. Tapi sebagai seorang istri Aqila harus menuruti kemauan sang suami.
"Sering-sering ke sini ya," ucap Rani.
"Iya Mah." Rani memeluk menantunya sangat sayang. Semenjak Aqila masuk kedalam keluarga mereka, keluarga mereka makin berwarna dengan segala tingkah laku Aqila. Gadis cantik yang selalu tersenyum.
Toni menepuk pundak Lio cukup keras. "Jaga Aqila, jangan sering keluyuran. Ingat kamu udah punya tanggung jawab yang besar," ucap Toni menasehati putranya tersebut.
"Iya pah."
"Ayok." Mereka berdua meninggalkan rumah keluarga Azkha. Tiga puluh menit dalam perjalan. Lio fokus dengan jalanan sedangkan Aqila memilih untuk diam, menatap keluar.
Rumah realistis. Tidak terlalu besar dan tidak terlalu kecil. Dua lantai dengan empat kamar di dalam. Lengkap dengan semua isi dalam rumah tersebut. Lio benar-benar sudah mempersiapkan semuanya.
Setelah asik melihat bentuk rumah yang di beli Lio. Aqila segerah membereskan barang-barang milik mereka. Menaruh barang miliknya dan milik Lio bersampingan.
"Gimana lo suka?" tanya Lio saat memperhatikan istrinya tersebut sibuk dengan barang mereka.
"Suka," jawab Aqila singkat.
"Baguslah kalau lo menyukainya. Lo juga bisa mengubah apa aja sesuai dengan kemauan lo." Aqila hanya mengangguk paham.
Malam ini pertama kali bagi Lio dan Aqila duduk di bangku meja makan dengan makanan mereka masing-masing. Canggung entah kenapa perasaan keduanya menjadi canggung saat ini.
Tingg!
Satu notifikasi masuk ke HP Lio. Pertanda ada seseorang yang mengirimnya pesan. Ada pesan dari temannya. Seperti biasa pesan mengajak Lio untuk ke luar nongkrong bersama.
Lio melihat Aqila sekilas. Lio sudah berjanji tidak akan meninggalkan Aqila. Dengan cepat jari-jari Lio mengetik jika ia tidak bisa ikut.
Malam berganti dengan cerahnya matahari pagi. Aqila menggerjap matanya saat cahaya matahari mengenai mata nya. Aqila duduk ditepi ranjang, menghirup udara pagi yang segara. Berbalik ke samping menatap Lio yang masih tertidur pulas.
Aqila segerah beranjak menuju dapur. Membuat sarapan untuk mereka berdua. Sederhana hanya nasi goreng dengan telur mata sapi di atasnya.
"Kayanya enak deh," guman Aqila melihat penampilan masakannya.
Aqila segerah bergegas naik ke lantai atas membersihkan tubuhnya bersiap untuk ke sekolah.
Aqila keluar dari kamar mandi dengan seragam putih abu-abunya. Sedangkan Lio masih tidur pulas di ranjang.
"Dasar kebo!" gerutu Aqila. "Kak ayok bangun. Entar kakak mau kita terlambat. Bangun kak."
"Kak."
"Kak Lio!" teriak Aqila sedikit kencang.
"Hem," guman Lio dengan suara serak.
"Bangun dong kak! Kakak Lio mau kita telat!"
"Iya iya sayang. Bawel bangat sih. Jadi tambah sayang," ucap Lio berlalu ke kamar mandi. Sedangkan Aqila sudah malu dengan pipi yang memerah.
***
Untuk pertama kalinya Lio dan Aqila berangkat ke sekolah bersama. Banyak yang iri melihat kedekatan kedua pasutri tersebut. Walau mereka hanya tau Lio dan Aqila sepupu banyak juga yang menjodohkan mereka.
"Beneran sepupu? Kok dekat banget ya?"
"Anjir gue dukung mereka berdua."
"Cocok banget."
"Jadi pingin sepupu Lio biar dekat terus."
Cibiran beberapa murid yang melihat Lio dan Aqila. Lio bersikap biasa saja tapi Aqila sedikit risi dengan tatapan para murid perempuan di SMA ini.
"Yang rajin belajarnya sayang," ucap Lio lagi dan lagi membuat Aqila tambah malu.
"Ihh kak Lio ini sekolah tau!"
"Bodoh amat!" ucap Lio acuh tak acuh. Lio mengacak puncak kepala Aqila gemas. "Udah sana masuk."
Sasa Kusendria melihat kedekatan Lio dan Aqila membuat ia marah. Sasa sudah lama suka kepada Lio. Berbagai hal telah ia lakukan tapi Lio tidak mau melirik dirinya.
"Lihat aja lo cewek centil. Gue akan buat hidup lo sengsara!" sinis Sasa berlalu ke kelasnya.
"Tumben berangkat bareng sepupu lo," ucap Danu pada Lio.
"Emangnya salah?"
"Gak."
Di kelas sebelas IPA satu juga banyak yang membicarakan Lio. Banyak yang mengatakan kalau Lio dan Aqila cocok. Entah kenapa hal itu membuat Satria kesal.
KAMU SEDANG MEMBACA
Lio & Aqila (END)
Romance[FOLLOW DULU SEBELUM MEMBACA!!!] Pernikahan anak SMA. Bisa dikatakan perjodohan sesama anak SMA. Tidak ada yang tau hubungan keduanya lebih dari sekedar sepupu saat menjalani hubungan rumah tangga tersebut. Awalanya tidak ada rasa suka dan cinta di...
