[FOLLOW DULU SEBELUM MEMBACA!!!]
Pernikahan anak SMA. Bisa dikatakan perjodohan sesama anak SMA. Tidak ada yang tau hubungan keduanya lebih dari sekedar sepupu saat menjalani hubungan rumah tangga tersebut. Awalanya tidak ada rasa suka dan cinta di...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Beberapa hari ini Lio sangat sibuk dengan sesuatu hal. Bukan dengan pekerjaan kantor tapi karena acara resepsi pernikahan yang akan mereka adakan satu minggu lagi.
Mungkin terlalu terburu-buru, tapi hal ini sudah sangat lama mereka tunda. Hampir tiga tahun hanya orang-orang tertentu yang tau tentang hubungan mereka. Lio tidak menginginkan hal tersebut, Lio ingin seluruh dunia tau kalau Aqila adalah miliknya, istri sah nya.
"Sudah berapa persen persiapan saat ini?" tanya Lio pada beberapa orang yang ikut membantu dirinya.
"Sudah 90%, hanya beberapa hal lagi yang harus di bereskan," ucap salah satu dari mereka.
"Selesaikan dengan cepat, saya tidak mau ada kesalahan nantinya."
"Baik, kami permisi pak Lio."
Lio mengagguk singkat mempersilahkan orang-orang tersebut kembali bekerja di bidang mereka.
Tangan Lio mengambil undangan yang berada di atas meja. Mengcek satu persatu nama tamu, supaya tidak ada yang ketinggalan.
Aqila mengambil duduk di samping Lio. Bahkan kehadiran Aqila tidak di gubris oleh Lio.
"Kak," panggil Aqila pelan.
Lio menoleh ke arah Aqila. Tangannya naik mengusap pipi istrinya itu. "Kenapa hem? Mau sesuatu?" tanya Lio lembut seperti biasa.
Aqila menggeleng pelan. Pandangan jatuh pada orang yang berlalu lalang menyiapkan dekorasi di rumah mereka.
Acara resepsi mereka memang diadakan di kediaman mereka. Bermodal dengan rumah dan taman belakang mereka yang cukup luas cukup untuk menampung tamu undangan yang akan datang nanti.
Jangan beranggapan kalau Lio tidak bisa menyewa gedung mewah seperti Gara. Hanya saja Lio ingin melukis kenangan mereka di rumah itu.
"Harus semewah ini kak?"
Lio mengagguk mantap. "Ini masih kurang sayang."
"Aqila rasa ini terlalu berlebihan kak," ucap Aqila.
Aqila berpikir ini semua terlalu berlebihan. Harusnya mulai saat ini mereka harus lebih hemat dalam pengeluaran. Tanggung jawab mereka pun akan semakin besar kedepannya.
"Tidak ada yang berlebihan sayang. Ini sekali dalam seumur hidup. Harus di rayakan dengan meriah dan mewah. Jangan khawatir dengan hal apapun," ujar Lio menyakinkan Aqila.
"Kamu istirahat ya, jangan sampai kecapaian," sambung Lio.
Aqila menggeleng. "Aqila gak ngelakuin apa-apa, gimana mau capek. Yang harus istirahat itu kak Lio. Dari kemarin kakak belum tidur."
"Kakak masih kuat sayang."
"Beneran masih kuat?" tanya Aqila memastikan.
Lio terdiam beberapa saat sebelum senyum jahil terbit di bibirnya. Lio mendekat ke arah Aqila membisikkan sesuatu.