Selamat membaca, jangan lupa komen dan vote 😊 maaf jika ada yang typo 🙏. Jangan lupa masukkan cerita ini ke reading list kalian dan juga recommended ke teman kalian😊 follow juga akun ini, Terima Kasih 🤍
*
*
*
Seperti empat hari sebelumnya hari ini anggota olimpiade sudah berada di perpus asik dengan tugas mereka. Sesekali terdengar desahan nafas panjang daribketiganya.
"Astaga nih soal ada masalah apa sih sama gue!" teriak Gara kesal, berkali-kali ia mengerjakan tapi tidak menemukan jawabannya.
"Tolong anak olimpiade jangan bising!" tegur penjaga perpus.
Gara menepuk jidatnya pelan ia lupa kalau mereka sedang berada di perpus. "Maaf Bu."
Sebenarnya ada ruangan khusus untuk para anggota Olimpiade. Tapi karena ruang itu dekat dengan ruang olahraga dan seni cukup ribut untuk mereka berkonsentrasi jadi mereka di pindahkan ke perpus agar lebih nyaman dan mudah jika mencari buku yang di perlukan.
"Kak Gara jangan ribut dong. Kan penjaga Perpus jadi marah," bisik Aqila.
"Maaf, gue lagi kesal aja sama nih soal."
Hening tanpa mereka sadari Pak Alex dan juga Bu Ros ada di sana dengan seorang pria di belakang mereka.
"Maaf mengganggu," ujar Pak Alex membuyarkan konsentrasi mereka.
Gara, Aqila dan Ariana menatap pria tersebut. Aqila tanpa sadar berdecak kesal. 'Untuk apa dia di sini,' batin Aqila.
"Anak-anak teman kalian untuk bidang Bahasa Inggris akan bergabung hari ini."
"Ini Fery Mark Luis," sambung Pak Alex.
"Kami harap kalian bisa kompak, dan untuk kamu Mark belajarlah dengan giat juga berbaur dengan yang lain," jelas Bu Ros.
"Kami permisi."
Sepeninggal Bu Ros dan Pak Alex hanya ada keheningan di antara mereka berempat.
"Selamat bergabung," ucap Gara memecah keheningan. "Lo bisa duduk di samping gue."
Mark duduk di bangku yang di beritahu Gara. Di meja itu sudah banyak soal-soal yang harus ia selesai dan Mark pahami beberapa hari ini.
"Blasteran?" tanya Gara.
"Iya."
"Lo murid baru kan? Kelas sepuluh."
"Iya."
Gara menepuk pundak Mark cukup keras membuat pria itu menatap Gara. "Dingin amat lo, berbaur sama yang lain," kesal Gara kerena dari tadi Mark hanya menanggapi dengan kata iya.
"Ganteng," guman Ariana.
Gara berdecak kesal. Ia akui Mark memang memiliki wajah blasteran yang tampan. Tapi tidak bisa kah Ariana memuji dirinya saja.
"Cikh lebih tampan gue," kesal Gara.
Aqila yang tidak berniat dengan hal itu menyibukkan dirinya dengan soal-soal tersebut. Bodoh amat dengan Mark mendengar namanya saja sudah membuat Aqila kesal.
"Awas lo dekat-dekat ini cewek." Acak Gara menunjuk Ariana. "Punya gue," bisik Gara diakhiri kekehan.
Lalu Gara berlalu menunjukkan Aqila. "Kalau yang itu gak masalah." Aqila menatap Gara sengit, jika Gara tau Aqila susah memiliki pawang bisa habis dia.
***
Gara dan Ariana susah pulang pertama, Aqila masih sibuk membereskan beberapa buku yang akan ia bawa pulang. Mark yang baru memasuki perpus pun ikut membereskan mejanya. Meletakkan buku-buku dan pulpen tersebut dengan rapi.
"Mau gue bantu?" tawar Mark.
Tadi Mark ingin segera keluar, langkah nya terhenti melihat Aqila yang kesulitan dengan buku-buku tersebut.
Aqila menatap Mark sekilas. "Gak."
"Gue minta maaf untuk kejadian beberapa hari yang lalu. Gue gak sengaja dan gak bermaksud apapun. Gue tau lo marah, tapi lo harus lupain kejadian itu, harus kita bisa saling dekat."
Kata akhir yang di ucapkan Mark membuat Aqila bingung. Apa maksud 'Harusnya kita bis saling dekat.'
"Maksud gue untuk olimpiade ini kita harus kompak." Mark memperbaiki ucapnnya, walau sebenarnya Mark menaru hati pada Aqila. Ia tidak tau kapan hal itu terjadi, tapi ia menyukai Aqila.
"Lupain aja."
Aqila menenteng buku-buku tersebut berlalu meninggalkan Mark. Mark yang di tinggalkan langsung berlari mengejar Aqila.
"Biar gue bawa." Mark dengan sengaja langsung mengambil buku-buku itu dari tangan Aqila.
Aqila tetap berjalan percuma ia berdebat biarkan saja. "Lo pulang bareng siapa?"
Karena Aqila hanya diam Mark bertanya kembali. "Biar gue antar lo."
Aqila menunjuk Lio yang menunggu dirinya di sana. Mark melihat arah tangan Aqila. "Thanks," ujar Aqila ketika buku itu sudah kembali ke tangan nya.
"Siap? Kenapa lama?" tanya Lio dingin plus datar.
"Ambil buku dulu. Itu Mark murid untuk olimpiade Bahasa Inggris," jawab Aqila jujur.
"Jangan dekat-dekat gue cemburu."
"Gak akan. Yuk pulang."
"Siapa?" lirih Mark memandang kepergian Aqila dan Lio.
Sepuluh hari berlalu dengan cepat Pak Alex dan Bu Ros bisa melihat kemajuan yang pesat pada mereka berempat. Mark pun dengan mudahnya berbaur dengan yang lain ia juga sangat pintar di bidang itu tidak lupa Mark dan Aqila jadi cukup dekat karena hal itu. Gara dan Ariana? Gara masih gencar menggoda Ariana dengan gombalan recehnya ya walau Ariana tersipu juga.
Seperti kali ini, Gara kembali melancarkan aksinya. Ia duduk memandang Ariana yang masih fokus dengan soalnya.
"Lo itu kaya soal matematika," ujar Gara.
"Rumit, tapi gue suka."
Blush
Pipi Ariana memerah begitu saja. Ariana memang termasuk tipe cewek yang cepat terbawa perasaan, jadi mudah bagi dia untuk baper. Gara terkekeh melihat wajah Ariana yang memerah karena gombalan nya.
"Bulshi lo," ujar Mark dari ujung sana.
"Baperin doang, ajak pacaran gak mau!" ujar Aqila memutar bola matanya malas.
"Lo berdua bisa diam gak sih! Nganggu aja," kesal Gara.
"Gak!" jawab Mark dan Aqila bersamaan.
Karena hari ini hari libur, Lio dan Aqila juga libur dari pekerjaan sekolah. Aqila berniat untuk mengajak Lio ke kediaman keluarga Azkha. Aqila mulai mencari Lio ke seluruh ruangan dan menemukan suaminya tersebut dengan tv yang menyala tapi Lio fokus dengan hp nya.
"Kebiasaan buruk!"
Aqila mendekati Lio duduk di samping suaminya itu. Lio belum menyadari kedangan Aqila sangking fokus dengan benda pipi itu. Sesekali Lio tertawa lucu.
Dengan perasaan kesal dan dongkol Aqila merebut hp Lio secara paksa.
"Eh kenapa?"
"Hp mulu, istri sendiri gak di perhatikan!"
"Jadi cemburu nih sama benda kaya gitu aja?" ujar Lio menunjuk hp nya.
"Iya."
Tangan Lio membaguskan rambut Aqila yang sedikit acak-acakan. "Mau apa hemm?"
"Ke rumah mama sama papa yok kak."
"Sekarang?"
"Iya."
"Gak belajar? Olimpiade nya kan empat hari lagi."
"Gak apa-apa kak, sebentar aja."
Lio berpikir sejenak. "Yaudah siap-siap gih."
KAMU SEDANG MEMBACA
Lio & Aqila (END)
Romansa[FOLLOW DULU SEBELUM MEMBACA!!!] Pernikahan anak SMA. Bisa dikatakan perjodohan sesama anak SMA. Tidak ada yang tau hubungan keduanya lebih dari sekedar sepupu saat menjalani hubungan rumah tangga tersebut. Awalanya tidak ada rasa suka dan cinta di...
