Cemburu

3.9K 180 2
                                        

Setelah selesai sarapan Aqila menaiki kamarnya karna sore ini ia akan berangkat ke Jakarta bersama keluarga suaminya.

Sedih itulah yang Aqila rasakan saat ini, bagimana mungkin ia berpisah dengan kedua orang tuanya. Baik Papa mau pun Mama Aqila tau bahwa putri mereka itu tidak bisa dibiarkan untuk sendiri. Diwaktu umur Aqila delapan tahun kedua orang tua Aqila pergi keluar negeri untuk mengurus bisnis mereka saat itu Aqila ditinggalkan bersama pengasuhnya. Dan saat itu pula Aqila langsung jatuh sakit. Semenjak saat itu Bram dan Susi tidak pernah meninggalkan Aqila sendiri.

Jam sudah menunjukkan pukul 15.12 menit. Baik Aqila dan keluarga Azkha sudah siap dengan barang-barang mereka.

"Sebaiknya kita berangkat jika tidak ingin ketinggalan pesawat," ujar Toni.

"Besan kami kembali, terima kasih," ucap Rani memeluk Susi erat.

"Hati-hati."

"Lio saya percayakan putri saya kepada kamu. Jaga dia dengan baik," jelas Bram.

"Iya Pah, Lio akan jaga Aqila dengan baik," jawab Lio memerhatikan istrinya yang terlihat murung.

"Papa yakin kamu bisa menjaga Aqila."

"Papa." Aqila terisak dalam dekapan sang Papa. Bagaimana ia harus menjalani hidupnya tanpa kedua orang tua nya.

"Hei jangan menangis, malu di lihat suami kamu," goda Bram.

"Biarin," ucap Aqila acuh.

"Sudah jangan menangis lagi, kamu harus menjadi istri yang baik buat suami kamu," ucap Bram kembali mengecup puncak kepala Aqila.

"Jadi istri yang penurut, da. Jadilah wanita yang dewasa sayang," ucap Susi mengeluh rambut panjang Aqila sayang.

"Kami berangkat Bram," ujar Toni berlalu masuk krdalam mobilnya.

Bram, Rani dan Iqbal berada didalam satu mobil yang sama. Sedangkan Lio dan Aqila berada dimobil bersama. Aqila selalu saja menundukkan pandangannya ia takut jika si kutub es disamping ya akan menyakiti dirinya.

"Mengapa selalu saja menunduk, apao takut sama gue? Gue udah janji sama Papa akan jaga lo. Jadi lo tenang aja." Tetap saja Aqila dengan posisi ya membuat Lio menghembuskan nafasnya kasar.

...

Cukup lama perjalanan yang mereka tempur, akhirnya keluarga Azkha sudah sampai di Jakarta. Rani langsung membawa menantu ya ke kamar milik Lio sedang kan para pria masih ada urusan yang harus mereka selesaikan.

"Sayang, ini kamar milik Lio. Sekarang kamu bisa beres-beres," jelas Rani. "Mama kebawa dulu," sambung Rani dan dibalas anggukan oleh Aqila.

"Cukup luas dan rapi." Takjub itulah yang Aqila gambaran saat melihat kamar Lio. Bagaimana tidak kamar cowok yang biasanya berantakan tapi tidak dengan kamar Lio yang bersih dan rapi.

Kamar Lio yang bernuansa biru laut dan putih menambahkan kesan nyaman jika berada disana. Aqila dengan gerakan cepat langsung menyusan barang miliknya dan tidak lupa barang milik Lio juga suaminya.

"Akhirnya selesai juga." Aqila menggerakkan otot-otonya yang kaku. "Mandi aja deh, biar lebih segar," guman Aqila langsung memasuki ruang kamar mandi.

Dua puluh menit Aqila selesai dengan ritual mandinya. Sangat sial ia lupa membawa pakaian gantinya. Hanya ada handuk kecilyang berada di kamar mandi. Tidak mungkin ia memakai handuk itu.

"Gimana Aqila mau keluar? Masa iya Aqil keluar dengan handuk sependek ini. Gimana kalau Kak Lio ada diluar?" Monolog Aqila.

Cukup lama Aqila berdebat dengan pikirannya. Akhirnya Aqila Aqila mutuskan untuk keluar dengan handuk kecil yang memilih tubuhnya.

"Keluar aja, lagian Kak Lio tidak ada diluar. Suaranya juga tidak kedengaran semenjak tadi." Aqila mulai bergegas keluar dari kamar mandi. Saat ini tu uh mungitlnya benar-benar sudah menggigil.

Pintu kamar mandi terbuka, dan segera Aqila keluar dari sana tapi langka mungil ya terhenti saat tatapan ya berada dengan tatapan mematikan dari Lio.

Lio meneguk air liburnya dengan susah payah. Bagaimana mungkin Aqila dengan handuk yang sangat kecil memilih tubuhnya. Apa dia tidak tau kalau Lio juga lelaki normal.

Lio langsung membuang tatapan ya kesembang arah, sedangkan Aqila menunduk malu.

"Kenapa tidak pakaian di kamar mandi saja?" Tanya Lio berusaha untuk tenang.

Gugup, Aqila sangat gugup saat ini. "Aqila tadi lupa bawa pakaian ganti Kak."

"Lo ganti pakaian aja, gue mau keluar." Buru-buru Lio keluar dari tempat panas itu.

Hari semakin sore saat ini Aqila tengah duduk didepan TV meni ton acara kesukaannya. Tentu saja upin dan ipin apa lagi.

"Aqila," panggil Iqbal yang baru memasuki kediaman Azkha.

"Iya Kak," jawab Aqila tanpa mengalihkan pandangannya dari siaran TV tersebut.

Iqbal mulai mengedarkan pandangannya keseluruh penjuru ruangan tapi ia tidak menemukan siapapun kecuali Aqila.

"Diman yang lain?"

"Papa dan Mama keluar, ada urusan katanya."

"Lio?"

"Dari tadi belum balik Kak," ucap Aqila menatap Iqbal. "Kakak perlu sesuatu?"

"Tidak, Kakak ke atas dulu bersiin diri." Iqbal mengacak rambut Aqila gemas sedangkan Aqila hnya tersenyum manis atas perilaku Kakak iparnya tersebut.

...

Aqila dan Iqbal sedang berada di meja makan menikmati makan malam mereka. Toni dan Ra i tadi menelepon akan pulang larut malam sedangkan Lio tidak tau kemana, sudah berulang kali ditelpon tapi tidak diangkat.

Selesai dengan makan malam mereka, baik Iqbal dan Aqila beranjak keruang keluarga, bercanda gurau bersama. Tanpa mereka sadari seseorang cemburu melihat kedekatan mereka.

Lio berusaha menghindari istri dan Kakaknya tersebut, buru-buru ia menaiki tangga untuk sampai ke kamarnya.

"Dari mana saja Lio?" Pertanyaan Iqbal berhasil menghentikan langka Lio.

"Bukan urusan lo," sinis Lio.

"Aqila keatas dulu ya Kak." Aqila segera menyusul langka Lio.

Aqila yang baru memasuki kamar la vsung melihat Lio yang duduk ditepi ranjang dengan benda pipi miliknya.

"Kak."

"Apa?!" Tanya Lio dingin dan tajam menatap Aqila sedangkan yang ditatap hanya menunduk takut.

"Kak Lio dari mana?"

"Apa urusan lo?"

Aqila mengangkat kepalanya menatap  wajah tampan milik suaminya. 'Kenapa Kak Lio jadi seperti ini?' Batin Aqila bertanya-tanya.

Lio bergegas menuju kamar mandi meninggalkan istrinya dengan tatapan bingung.

Lio & Aqila (END)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang