Selamat membaca, jangan lupa komen dan vote 😊 maaf jika ada yang typo 🙏. Jangan lupa masukkan cerita ini ke reading list kalian dan juga recommended ke teman kalian😊 follow juga akun ini, Terima Kasih 🤍
*
*
*
Seluruh murid kelas sepuluh sudah berada di lapangan sedangkan murid kelas sebelas dan dua belas sudah memulai proses pembelajaran. Berulang kali Key mengoceh tidak jelas karena ulah adik kelasnya tersebut. Mark sama sekali tidak merasa bersalah membuat Aqila basa seperti saat ini.
Key berjalan di belakang Aqila, walau Aqila sudah melepaskan ikat rambutnya tetap saja pakaian dalam yang Aqila pakai masih terlihat.
"Lihat aja tuh adik kelas. Gue akan buat pelajaran sampai di mau minta maaf sama lo," kesal Key lagi.
"Sudah lah Key, orang seperti itu tidak perlu di ladenin. Nanti dia tambah ngelunjak."
Lio saat ini sedang mengawasi pada adik kelasnya. Setelah selesai memberi pengarahan Lio langsung memberikan tugas ke masing-masing anggotanya. Tapi pandangan Lio jatuh kepada Aqila dan Key yang terlihat aneh di sana.
Lio berlari kecil menghampiri kedua gadis tersebut. "Kenapa?" tanya Lio berhasil menghentikan keduanya.
"Kak Lio," guman Aqila.
"Lo berdua kenapa jalannya aneh gini?"
"Seragam Aqila basah kak, jadi itu..." ujar Key menggantung.
"Kenapa bisa?" tanya Lio lagi.
"Tadi..."
"Gak sengaja keciprat air kak." Potong Aqila cepat. Ia tidak mau Key membesar-besarkan masalah ini.
Lio mengangguk paham, Lio melepaskan almamater yang ada di tubuhnya lalu memasangkan pada tubuh Aqila.
"Kak ini kan almamater kak Lio."
Di SMA Nusa Bangsa hanya para jajaran OSIS lah yang memiliki almamater. Itu di buat khusus bagi mereka, dan Lio termasuk kedalam nya. Almamater dengan lambang SMA Nusa Bangsa dan lambang OSIS menjadi ciri khas dari almamater tersebut dan sedikit berbeda dengan Lio. Karena Lio menjabat sebagai sang ketua Lio memiliki lambang dua garis hitam di lengan sebelah kanan pada almet putih tersebut, menandakan kalau dia sang ketua.
"Lebih baik lo pake, gue gak mau orang lain lihat. Milik gue!" tekan Lio mengucapkan kata milik gue.
"Tapi kak Lio kan lagi MOS murid baru. Entar kak Lio di kira bukan OSIS lagi," ujar Aqila.
"Gue bisa atasi, lebih baik kalian berdua masuk kelas. Pembelajaran udah di mulai," usul Lio.
"Iya kak."
Lio mengacak puncak kepala Aqila gemas. "Semangat belajarnya sayang."
"Ehemm!" dehem Key keras menghancurkan momen romantis itu.
"Yaudah gue ke sana dulu." Setelah mengucapkan kata itu Lio berlari ke kerumunan murid baru.
"Gue jadi nyamuk nih.
Aqila terkekeh pelan. "Yuk kelas."
Key dan Aqila bernafas lega, untung saya guru belum masuk ke dalam kelas mereka jika tidak saat ini mereka sudah di hukum. Tapi tatapan murid di kelas membuat Aqila sedikit risi. Aqila paham ini semua karena almamater Lio yang ia pakai.
"Gak usah tatapin Aqila kaya gitu. Seragam Aqila basa, wajar Lio minjamin almet nya ke Aqila. Mereka sepupu," jelas Key yang melihat tatapan intimidasi untuk Aqila.
Semua hanya terdiam kembali ke aktivitas mereka. Aqila tersenyum bahagia. Ia bangga memiliki sahabat seperti Key, Key selalu ada untuk dirinya.
***
Akhirnya MOS di SMA Nusa Bangsa telah selesai. Aqila sangat senang karena Lio tidak dekat-dekat dengan perempuan lain. Aqila tau banyak yang mendekati suaminya tersebut. Tapi Lio tidak tertarik sedikit pun dengan adik kelasnya itu.
Aqila sibuk dengan buku tebal yang di suruh Bu Ira untuk di bawakan ke dalam kelas. Bu Ira adalah wali kelas sekaligus guru Fisika senior di SMA itu.
Aqila mulai merasa keram di kedua tangan. Buku fisika ini sangat berat dan jarak dari perpus ke kelasnya lumayan jauh. Berulang kali Aqila memperbaiki buku tersebut agar tidak jatuh dari tangan nya.
Brak!
Entah kenapa akhir-akhir ini Aqila selalu terjatuh di lapangan dan sekarang paling parahnya buku-buku itu jatuh mengenai tubuhnya.
"Awww," ringis Aqila kesakitan.
"Kalau jalan itu pake mata!" sinis cowo yang berada tepat di hadapan Aqila.
Aqila berdecak kesal, cowo itu lagi. Padahal di sini jelas-jelas cowo itu yang salah tapi masih saja menyalahkan Aqila. Aqila bangkit dan membereskan buku-buku tersebut.
"Kalau seseorang itu ngomong dengar!" Tatapannya tajam.
Aqila menatap mata biru itu tak kalah tajam. Kenapa cowo itu suka sekali membuat ia marah. Mata Aqila beralih menatap nama cowo itu di bagian dada.
"Fery Mark Luis," gumamnya.
"Lo benar-benar gak ada sopan ya!" ketus Mark.
"Hei lo yang gak ada sopan! Gue gak punya salah apa-apa sama lo dan dari awal lo masuk ke sekolah ini lo yang udah buat banyak masalah ke gue! Lo adik kelas belagu amat!" Geram Aqila panggilnya sudah berubah menjadi lo gue.
Mark memegang lengan Aqila kuat, membuat Aqila meringis kesakitan. "Gue memang adik kelas lo, tapi lo gak ada hak buat bentak gue."
Aqila menepis tangan Mark kasar berlalu dari sana. Sepanjang jalan sampai ke kelas, Aqila selalu menggerutu adik kelas nya yang bernama Mark itu sangat tidak memiliki sopan santun.
"Belagu amat lo. Lo kira lo siapa ha!"
Berulang kali Aqila menghentakkan kakinya kasar. Perasaan nya benar-benar kacau karena Mark.
Aqila menghembuskan nafas perlahan, ia sudah sampai di depan pintu kelas sebelas IPA satu. Siap-siap saja ia di marahi karena terlalu lama mengambil buka.
"Permisi bu, maaf saya lama," ujar Aqila dari arah pintu.
"Kamu lama sekali Aqila. Satu jam mata pelajaran sudah habis hanya menunggu kamu," ucap Bu Ira.
"Maaf Bu." Aqila menunduk dalam dalam hatinya menyumpahi agar Mark kena karma atas apa yang dilakukan cowo itu kepadanya.
"Letakkan buku itu di meja, kembali duduk di bangku kamu."
"Dari mana aja lo dan kenapa tangan lo berbiru gini?" tanya Key saat Aqila sudah duduk di samping.
Aqila menatap tangan nya yang di genggaman Key. 'Ini pasti kena tumpukan buku itu,' batin Aqila.
"Aqila gak sengaja jatuh Key."
"Lain kali lo harus lebih hati-hati. Atau lo ke UKS aja gue antar."
"Gak perlu Key. Aqila gak merasa sakit juga, biarin aja."
Key mengangguk lalu mereka kembali fokus pada pelajaran yang di jelaskan Bu Ira kepada mereka. Aqila tidak bisa fokus entah kenapa ia selalu berpikir tentang Mark. Kenapa ia selalu saja bertemu dengan cowo itu. Dan kenapa Mark selalu membuat masalah kepadanya tidak mungkin itu semua hal yang tidak di sengaja, pikir Aqila.
KAMU SEDANG MEMBACA
Lio & Aqila (END)
Romance[FOLLOW DULU SEBELUM MEMBACA!!!] Pernikahan anak SMA. Bisa dikatakan perjodohan sesama anak SMA. Tidak ada yang tau hubungan keduanya lebih dari sekedar sepupu saat menjalani hubungan rumah tangga tersebut. Awalanya tidak ada rasa suka dan cinta di...
