Selamat membaca, jangan lupa komen dan vote 😊 tandai jika ada yang typo . Jangan lupa masukkan cerita ini ke reading list kalian dan juga recommended ke teman kalian😊 follow juga akun ini, Terima Kasih 🤍
*
*
*
"Kak Lio!"
Zara langsung menggenggam lengan Lio erat saat melihat cowok itu berada di parkiran.
"Kak Lio kenapa sih nggak jemput Zara? Zara tungguin tau," ucap Zara manja membuat mereka jijik melihat tingkah Zara. Berlebihan.
"Gak usah berlebihan!" Dengan kasar Lio menarik tangan Zara dari lengannya. Tidak sudih dekat-dekat dengan sikap Zara yang ajaib bin aneh itu.
Zara berjinjit di samping telinga Lio. Membisikkan sesuatu di sana.
"Bukan Zara yang berlebihan tapi kak Lio yang berlebihan sama Zara semalam."
Lio membulatkan matanya tidak percaya. Ingin sekali ia berteriak kencang di wajah Zara kalau semalam tidak ada hal yang terjadi di antara mereka.
Tingkah laku Zara tidak luput dari pandangan ketiga sahabat Lio. Jika Lio tidak melarang mereka untuk tidak ikut campur dalam masalah itu. Sudah di pastikan hidup Zara tidak akan sebahagia sekarang ini.
"Kita luan bro. Jijik gue lama-lama dekat nenek lampir," sinis Gara menatap Zara.
"Hati-hati sama nih ular." Danu menepuk pundak Lio cukup keras. Memperingati cowok itu.
Lio menatap Zara sengit. Lio menunjuk wajah Zara dengan emosi yang sudah memuncak. "Gue bisa jamin semalam gue gak lakuin apa-apa sama lo. Jangan harap lo bisa gantikan posisi Aqila di hati gue!" desis Lio tajam.
Zara tersenyum lagi kali ini senyum nya sangat licik. "Gimana kalau Zara hamil anak kak Lio?"
Lio tertawa meremehkan setelah itu wajah Lio berubah menjadi sinis. "Lo terlalu berharap. Halu."
Lio pergi dari hadapan Zara. Jika bukan karena perempuan sejak tadi Lio sudah membunuh Zara. Kali ini Lio tidak akan mau di tipu lagi oleh Zara.
Lio yakin semua acara makan siang itu siasat Zara.
Zara menatap punggung Lio yang sudah hilang di balik tembok kokoh SMA Nusa Bangsa. Lagi-lagi Zara senyum psikopat.
"Kita lihat aja apa yang akan terjadi. Gue Zaraadkara Purnama nggak akan pernah kalah."
Lio melempar tasnya ke sembarang arah. Cowok itu terlihat frustasi, baju seragam Lio sudah keluar dari celana abu-abu nya.
"Bangsat!" teriak Lio frustasi.
Beberapa murid yang melihat itu terkejut. Baru kali ini Lio mengumpat seperti itu. Lio benar-benar sangat seram jika sudah marah.
Gara yang berada di samping Lio menarik cowok itu untuk duduk di bangkunya. "Sabar bro."
"Gue harus gimana supaya cewek licik itu keluar dari kehidupan gue," lirih Lio.
"Kita akan bantu lo Lio. Kali ini jangan larang kita lakuin sesuatu kepada Zara."
***
Ting
Notifikasi dari HP Lio membuat mata cowok itu membulat sempurna. Gara menepuk-nepuk Lio tapi cowok itu masih dengan ekspresi diam tanpa berbicara apapun.
"Lo kenapa?"
"Papa..." Tenggorokan Lio tercekat, tidak bisa mengeluarkan suara apa pun.
"Bokap lo kenapa?" tanya Gara mulai khawatir. Lio diam seperti patung, bahkan panggil yang lain juga tidak di hiraukan oleh Lio.
Lio memasukkan bukunya asal kedalam tas. Tanpa permisi pada guru yang mengajar Lio berlalu begitu saja meninggalkan kelas tersebut. Teriakan dan panggil dari guru dan teman sekelas sudah Lio hiraukan.
"Lio kenapa?" tanya Satria dari bangku belakang.
"Gue nggak tau, dari tadi Lio manggil bokap nya."
"Semoga aja nggak terjadi sesuatu," ucap Danu.
***
"Kak mau kenapa?" Aqila heran dengan sikap Lio. Lio menarik tangannya dari kelas tanpa mengatakan hal apa pun.
"Kita mau ke mana kak?"
Lio masih menghiraukan ucapan Aqila. Lio membela jalan raya dengan kecepatan tinggi.
'Ini semua nggak mungkin terjadi. Ini semua nggak benar," batin Lio.
Lio berusaha menyakinkan dirinya. Kalau kabar yang ia dapat tidak benar. Lio yakin Papa nya pasti baik-baik saja.
Aqila melihat Lio yang masih fokus dengan jalan di depan. Aqila masih bingung dengan sikap Lio. Lio tiba-tiba membawanya keluar dari lingkungan SMA Nusa Bangsa.
Aqila merasa familiar dengan jalan tersebut. Ini bukan jalan ke rumah mereka, ini jalan ke rumah keluarga Azkha.
Perasaan Aqila mulai tidak tenang. Apa yang terjadi, dada Aqila sesak tidak tau apa sebabnya.
Langka Lio terhenti saat melihat kediaman Azka penuh dengan orang berpakaian serba hitam. Tanpa di minta air mata nya terjatuh saat melibat sang papa terbujur kaku di sana. Mama nya juga ikut menangis di samping mayat yang berstatus sebagai papa nya.
Langkah Lio linglung kakinya nya lemas. 'Apa yang terjadi? Kenapa semuanya begitu cepat?' batin Lio.
Lio duduk di samping wanita paruh baya yang ia sebut mama. Berusaha untuk tetap tegar.
"Mah ini kenapa? Kenapa papa kaya gini? Kenapa banyak orang di rumah kita. Kenapa mah?"
Lio masih tidak percaya, papanya pergi ke luar negeri dengan keadaan baik dan sehat tidak mungkin Toni pergi meninggalkan dirinya secepatnya ini.
"Kenapa mah?"
"Papa terkena serangan jantung di sana, dokter mengatakan kalau papa tidak bisa tertolong lagi."
Tangis Rani pecah begitu saja. Rani memeluk tubuh putra keduanya. Mereka harus tabah kehilangan orang yang mereka sayangi untuk selamanya.
Aqila yang baru turun dari dalam mobil tidak percaya dengan kedatangan orang tuanya dari Bali.
"Mama papa." Aqila memeluk kedua orangtuanya bergantian.
"Mah pah apa yang terjadi?"
Aqila masih bingung dengan semua ini. Seolah otaknya tidak bekerja hari ini, Lio yang terlihat aneh, orang tuanya yang berada di Jakarta dan rumah keluarga Azkha penuh dengan orang berpakaian hitam. Aqila benar-benar tidak paham.
"Kamu yang sabar sayang." Susi memeluk tubuh Aqila erat. Wanita paru baya itu menangis sesenggukan di pundak Aqila.
Susi mengusap surai panjang Aqila. "Kamu harus kuat. Masuk ke dalam, kuatkan suami kamu."
Aqila membawa langkanya semakin masuk ke dalam rumah tersebut. Aqila sama persis syok seperti Lio. Aqila berlari ke samping mayat sang papa mertuanya.
Aqila menangis di sana. Toni sangat baik pada Aqila, bahkan Toni sudah menganggap Aqila sebagai Putrinya. Tapi kenapa sang pencipta seakan begitu jahat kepada mereka. Memberi mereka cobaan terus menerus.
Aqila memeluk tubuh Rani yang berada di samping nya. Menguatkan mama mertuanya tersebut. Mereka semua sangat terpukul dengan berita ini.
"Mah." Aqila semakin erat memeluk, menyalurkan kekuatan sebagai menantu di rumah ini.
Aqila melirik Lio yang diam memandang mayat sang Papa. Aqila tau Lio sangat terpukul dengan berita ini, tapi Lio seakan menyembunyikan semua rasa sakit dan tangisan. Lio mencoba terlihat tegar dengan keadaan.
"Kak."
Aqila menarik tubuh Lio kedalam pelukannya. Lio tidak bisa lagi menahan tangisannya, Lio menangis di pelukan Aqila menumpahkan semua kesedihan yang ia pendam.
"Papa," lirih Lio.
"Tenang kak, masih ada Aqila, Mama dan kak Iqbal masih ada kita semua," ucap Aqila menenangkan.
Aqila harus kuat.
KAMU SEDANG MEMBACA
Lio & Aqila (END)
عاطفية[FOLLOW DULU SEBELUM MEMBACA!!!] Pernikahan anak SMA. Bisa dikatakan perjodohan sesama anak SMA. Tidak ada yang tau hubungan keduanya lebih dari sekedar sepupu saat menjalani hubungan rumah tangga tersebut. Awalanya tidak ada rasa suka dan cinta di...
