Sergio melangkah masuk ke kediamannya di jam tujuh pagi setelah menghabiskan waktunya sebentar bersama Andrès untuk mengurus beberapa hal yang perlu diurus. Andrès merupakan seorang dokter kepercayaan Carlos yang sudah mengurus Sergio sedari kecil layaknya seorang ayah.
"Sarapan apa pagi ini?" John bergerak ke dapur untuk memeriksa para pelayan yang sedang menyiapkan makanan.
"Bagaimana perjalanan kalian? Apa semuanya berjalan lancar?" Tanya Carlos dengan suara tuanya yang berat.
Pria tua itu berada dalam balutan baju kaos putih dan celana hitam. Kalung dengan liontin berupa taring singa menghiasi lehernya. Cincin-cincin titanium nyaris melingkar di semua jarinya. Rambutnya sudah banyak memutih dan kulitnya pun mulai keriput namun sorot matanya yang tajam dan penuh kegelapan tidak akan pernah mati di makan usia.
"Tentu, jika tidak lancar, John pasti kembali ke rumah tanpa kepala." Jawab Rodolfo.
"Mana mungkin?" John berkata."Siapa pula yang tega memenggal kepala tampan ini?"
"Jika itu kepalamu, sudah pasti semua orang waras bakal tega." Sahut Julio sambil melenggang pergi.
"Untunglah tadi itu kita tidak berhadapan dengan orang waras."
Carlos mengabaikan pemuda-pemuda itu lalu mengarahkan pandangannya pada Sergio."Kudengar kau pergi mengunjungi kakakmu minggu yang lalu? River dan Sea, apa mereka baik-baik saja?"
"Mereka baik-baik saja." Jawab Sergio.
"Apa yang kalian lakukan disana?"
"Bermain."
"Bermain apa?"
"Sekolah River mengadakan pertandingan bisbol, kami pergi menonton karena dia adalah kaptennya. Tim mereka memenangkan pertandingan."
"Kalau Sea bagaimana?"
"Seperti biasa, bertengkar setiap satu jam sekali dengan River."
Carlos terkekeh."Coba kulihat fotonya."
Sergio menyerahkan ponsel pada ayahnya dengan layar menampilkan foto seorang anak laki-laki berusia empat belas tahun yang lengkap dengan pakaian bisbol. Foto berikutnya menampilkan gambar anak itu di sebelah Sergio— tersenyum tipis dan terlihat begitu akrab. Lalu Carlos menggeser lagi foto berikutnya dan kini seorang gadis cilik berambut coklat dengan gaun biru laut berbahan tulle— bak seorang cinderella, sedang meniup lilin ulang tahun dengan angka sepuluh.
"Sayang sekali Carla tidak sempat melihat cucunya." Gumam Carlos dengan suara parau."Mereka semua tumbuh sehat."
"Apa pentingnya? Bukankah bocah-bocah itu pada akhirnya juga akan kau bunuh?" Tanya John.
"Orang-orang menyebarkan isu memuakkan. Aku memang ingin memberi pelajaran pada keturunan Patlers tapi tidak sampai membunuh cucuku sendiri. Bagaimana pun dia punya darah Leonelle di dalam tubuhnya. Konyol sekali pikiran orang-orang ini." Kata Carlos sambil berpindah ke dapur dengan bantuan tongkat kayu jati yang kokoh berukiran kepala singa di ujungnya.
"Aku tak mengira Anda masih pikirkan soal darah." John menyahut sambil meletakkan pantatnya di tepi pantry dapur.
"Dulu ayahku sangat terobsesi menggabungkan darah Patlers dengan Leonelle melalui pernikahan Carla dan Maxime. Sayangnya gagal. Menurutmu aku akan membunuh anak-anak berdarah campuran itu sekarang?" Carlos nyaris melotot pada John.
KAMU SEDANG MEMBACA
AFFAIR
عاطفيةLeonelle #1 | Sergio Leonelle dikenal sebagai seorang bandar narkoba yang sedang diintai oleh polisi. Dan sebagai salah satu agen yang ditugaskan dalam misi tersebut, Nala akan menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuan yang dia inginkan yaitu m...
