Chapter 26 : Second chance

69.6K 6.5K 974
                                        

Persidangan hanya tersisa dua hari lagi. Tapi Sergio tidak pernah menjawab panggilan Nala setelah hari itu. Tindakan Nala mungkin memang membuat Sergio marah. Tapi perlu diingatkan bahwa Nala adalah seorang pengacara yang sedang mengurus kasus sengketa tanah, bukan seseorang yang ingin bergabung ke dalam kelompoknya sehingga harus di uji dengan keberanian membunuh. Walaupun ada perasaan tidak enak, tapi Nala perlu meyakinkan dirinya bahwa keputusan yang ia ambil sudah sangat tepat. Persetan dengan kelompok mafia yang mungkin sekarang akan mengincarnya.

Dan sebagai seseorang yang profesional, Nala pun akhirnya mendatangi kantor Sergio pagi itu.

Setelah tiga puluh menit menunggu, ia dipersilakan memasuki ruangan Sergio. Berbeda dengan kantornya di New York, disini ternyata lebih luas. Interiornya terkesan memiliki aura gelap yang lebih kental dan entah mengapa lutut Nala sedikit gemetaran ketika ia dihadapkan dengan Sergio yang sedang duduk di kursi kebesarannya, membaca dokumen yang ada di tangan tanpa menoleh padanya. Dan Nala baru menyadari ternyata mereka tidak hanya berdua saja melainkan ada Julio dan seorang wanita Rusia berpakaian formal lainnya yang tengah duduk di sofa— tampak seperti sedang membahas beberapa hal.

"Kebetulan sekali aku juga baru saja ingin menghubungimu, Mrs. Làzcano." Sergio meletakkan dokumen yang sedang ia baca di atas meja lalu mengarahkan pandangannya pada Nala kini.

Raut wajah pria itu terkesan sangat dingin. Tidak ada senyum bahkan senyum tipis sekalipun. Matanya menatap wajah Nala datar sehingga menimbulkan efek canggung di atmosfer sekitar.

"Aku sudah menghubungimu sejak kemarin tapi kau tidak menjawabnya—"

"Ah, aku pasti sedang sangat sibuk." Jawab Sergio lalu bangun dari duduknya."Apakah kau ingin bicara sambil berdiri atau duduk, Mrs. Làzcano?"

Sergio memang bukan pertama kali memanggilnya dengan sebutan Mrs. Làzcano tapi kali ini kenapa Nala sangat amat tidak menyukai panggilan sialan itu?

"Duduklah." Sergio mengarahkan tangannya ke arah sofa tempat dimana Julio dan wanita Rusia itu duduk.

Tersenyum kecut, Nala pun mematuhi. Julio memberikannya senyum tipis dan si wanita Rusia memberikannya senyum ramah. Wanita itu memakai kemeja putih dengan kancing yang dibuka sebagian hingga menampakkan belahan dadanya yang besar serta rok ketat sepaha yang menampakkan hampir seluruh pangkal pahanya. Sedangkan Nala terlihat seperti manusia purba dengan sweater kedodoran serta celana cullotes hitam dengan potongan mengembang ke bawah.

Benar-benar perbedaan yang kontras sekali.

Nala berdeham pelan kemudian mengalihkan pandangannya pada Sergio yang kini duduk di sofa single di hadapannya."Bukankah persidangan akan berlangsung dalam dua hari lagi? Aku bermaksud ingin membahas beberapa hal tentang si penjual tanah denganmu. Karena aku menemukan sedikit kejanggalan—"

"Mrs. Làzcano, sebenarnya aku sudah mengirimkan sebuah dokumen ke hotelmu. Apa kau tidak melihatnya?"

Nala mengingat-ingat. Memang benar ada sebuah dokumen yang dikirimkan ke hotelnya tapi karena Nala buru-buru, ia berencana membacanya nanti.

"Itu adalah surat pemecatanmu. Aku ingin mengakhiri hubungan kerja kita." Lanjut Sergio.

Ucapan itu terdengar cukup menohok sehingga kerongkongan Nala tercekat oleh rasa tidak percaya. Ia menatap Sergio dengan kening berkerut seolah meminta penjelasan lebih lanjut karena ini benar-benar sangat tidak profesional rasanya.

"Mulai hari ini kau tidak lagi mengerjakan kasusku."

"Tapi persidanganmu—"

"Ms. Gracia Metvienko akan menggantikanmu." Sergio mengarahkan pandangannya pada si wanita Rusia yang duduk di sebelahnya.

AFFAIRTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang