Chapter 10 : The beginning

94.4K 6.6K 835
                                        

Sudah tiga hari berlalu semenjak kedatangan Nala ke rumah Sergio. Selama tiga hari itu tidak ada lagi kebetulan bodoh yang mempertemukan mereka. Sergio kembali pada rutinitasnya. Kini ia sudah sepenuhnya pulih hingga tak perlu menggunakan gips lagi di tangannya.

"Bagaimana dengan kakimu?" Tanya Andrès."Masih ada bagian yang mengganggu saat berjalan?"

"Everything is fine." Jawab Sergio di depan cermin sembari mengancingkan kemeja hitamnya. Ia gulung bagian lengan hingga sampai siku lalu dibiarkannya dua kancing teratas terbuka.

"Aku tidak berpikir kau perlu ikut di transaksi kali ini." Kata Andrès kemudian menghisap cerutunya."Biarkan John dan Julio yang pergi."

"Transaksi ini tidak akan terjadi jika hanya aku dan John yang datang. Cho Kang ingin bertemu langsung dengan sang pemimpin. Siapapun pasti ingin bertemu langsung dengan pemimpinnya." Kata Julio.

"Jika aku yang harus berhadapan dengan Cho Kang, siapa yang akan menembak kepalanya dari puncak gedung andai dia bikin ulah?" John menyeringai sombong.

"Ini transaksi senilai 2 juta US dollar." Tambah Julio.

"Justru karena itu, aku tidak mempercayai Cho Kang. Jangan sampai ini hanya jebakan."

"Rodolfo sudah memastikannya bahwa orang Korea itu tak akan punya waktu bahkan hanya untuk berpikir untuk macam-macam dengan kita."

"Kita juga baru menentukan lokasi transaksi satu jam yang lalu."

"Mereka bisa lakukan apapun dalam kurun satu jam tersebut." Jawab Andrès."Aku sudah bekerja cukup lama bersama ayahmu." Kini Andrès menatap Sergio lagi."Dan Cho Kang bukan orang yang dapat dipercaya."

"Memang siapa yang dapat dipercaya dalam bisnis sialan ini?" John mengangkat alisnya sebelah dan Andrès menghembuskan napasnya."Simpan kekhawatiranmu, dad. Cho Kang akan pulang tanpa bola mata jika berani mengacau."

Julio kini mengarahkan pandangannya pada Sergio yang selalu tak banyak bicara saat sedang bekerja. Ia ingin mendengarkan pendapat temannya itu tapi Sergio seperti sedang larut sendiri dalam pikirannya.

Mendadak sekelebat memorinya beberapa tahun silam saat pertama kali ia bertemu dengan Sergio menyusup ke dalam ingatannya. Saat itu Julio adalah pecandu narkoba yang terlibat hutang dengan salah satu bandar di New York. Malam itu ia berencana kabur namun nahasnya ia tertangkap di perempatan jalan. Bangun-bangun tubuhnya sudah berada di sebuah sel sempit.

"Bangun."

Tubuhnya diseret dengan kasar dari sel tersebut kemudian dilemparkan ke sebuah arena.

"Kau harus memenangkan duel ini maka hutangmu akan lunas." Pria berambut merah dengan mantel hitam berkata sambil membuka borgol di tangan Julio.

"Dimana aku? Dan siapa kau? Siapa orang-orang ini?" Julio memandangi sekeliling arena— ada puluhan orang yang sedang berteriak tidak sabar menyaksikan pertunjukan.

"Kita akan berkenalan nanti jika kau menang. Karena jika tidak, kau akan berkenalan dengan Tuhan di atas sana."

Ketakutan menyusup ke dalam benak Julio kala itu. Ia tak tau dirinya dibawa kemana.

"Berdoalah." Si pria berambut merah berbisik sebelum ia keluar dari arena tersebut dan meneriakkan pada orang-orang bahwa permainan akan segera dimulai.

Teriakan orang-orang semakin keras saat seorang laki-laki memasuki arena. Dia masih sangat muda— mungkin baru menginjak dua puluh tahun dan tubuhnya tidak lebih besar dari tubuh Julio. Mereka menyuruhnya berduel dengan bocah? Julio tertawa. Sebagai anggota Farfalla— bersama Winter dan kakak laki-lakinya Jaxon— ia cukup yakin dapat mengalahkan bocah ingusan tersebut dalam waktu singkat.

AFFAIRTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang