Chapter 28 : To be finished

65.6K 6.4K 1K
                                        

Rasanya sudah lama sekali tidak berada di rumah besar satu ini. Rumah Valerian. Benar-benar terasa asing sekali rasanya. Padahal Nala sudah terbiasa melihat Cliff— sang supir pribadi yang setiap pagi akan mencuci mobil. Atau beberapa pelayan yang sibuk beres-beres.

"Anda sudah kembali, Ma'am." Sapa Cliff.

"Apa kabarmu, Cliff?"

"Baik, Ma'am. Bagaimana dengan Anda?"

Nala tersenyum kecut."Aku juga baik-baik saja."

Cliff selalu tau saat Nala sedang tidak baik-baik saja namun pria tidak banyak bicara itu memilih untuk mengangguk lalu melanjutkan kembali pekerjaannya.

Nala perlu mengambil napas panjang karena mendadak dadanya terasa tidak nyaman. Setelah dipecat sana sini, ia tentu tidak baik-baik saja. Harusnya bukan rumah ini yang dipilih sebagai tempat untuk menenangkan diri. Tapi Valerian tau bahwa Nala sudah pulang jadi ia tidak punya alasan untuk tidak berada disini.

"Akhirnya kau pulang juga." Valerian menghampiri Nala dengan sebuah senyum dan langsung merengkuh wajahnya untuk mendaratkan sebuah ciuman."Aku sangat merindukanmu."

"Bagaimana perjalanan ke Paris?" Tanya Nala setelah ciuman usai.

"Pekerjaan disana berjalan lancar." Jawab Valerian sambil mengajak Nala untuk masuk ke dalam."Bagaimana denganmu?"

Valerian memang tidak mengikuti perkembangan pekerjaan Nala. Dia bahkan tidak tau kapan persidangan sengketa tanah Sergio diselenggarakan.

"Sebaiknya kita tidak usah bicarakan soal pekerjaan sekarang." Valerian tersenyum sembari mengangkat tubuh Nala ke atas meja. Ia mulai mencumbu bibir Nala lagi, melumatnya seolah sedang kelaparan."Sudah berapa lama aku tidak merasakan bibir ini? Kau tidak merindukan bibirku?"

Diam saja, Nala mencoba untuk menikmati ciuman ini. Ia memejamkan matanya sembari melingkarkan kedua tangan pada leher Valerian. Bibir keduanya terus bergerak saling mencecap satu sama lain. Jantung Nala berdetak cepat kala wajah Sergio menyusup ke dalam benaknya secara tiba-tiba. Dan setiap sentuhan pria itu mengambil alih kini.

Erangan Valerian berubah menjadi erangan Sergio. Bola mata Valerian berubah menjadi lelehan coklat panas. Senyum Valerian berubah menjadi senyum tipis menggoda. Saat Valerian menciumi lehernya, seketika rekaman percintaan di Moskow hadir kembali bagai palu yang memukul-mukul gairahnya.

"Apakah kau bahagia?" Tanya Valerian kemudian.

"Apa maksudmu?"

"Bersamaku, apakah kau bahagia?" Kini kedua bola mata mereka saling memandangi satu sama lain dalam diam.

"Apakah aku terlihat bahagia?"

"Aku ingin memperbaiki hubungan kita." Valerian berkata dengan nada berat."Tapi aku bingung, apakah itu akan berhasil? Aku masih tidak paham kenapa aku selalu merasakan ketidakpuasan terhadapmu. Bukan soal seks, tapi seperti ada saja yang membuatku ingin marah. Aku tidak tau siapa yang salah dalam hal ini. Aku, atau kau."

Nala tidak berada dalam mood membahas hal-hal seperti ini karena kepalanya benar-benar sedang kacau.

"Kau masih ingat Helen Yin?"

"Mantan pacarmu."

Valerian mengangguk."Dulu aku sering memukulinya tapi dia tidak pernah sekalipun membangkang padaku. Dia akan langsung berlutut minta maaf dengan sungguh-sungguh dan itu membuat amarahku seketika menghilang."

AFFAIRTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang