Syatra turun dari kereta api sekitar pukul lima subuh. Udara sangat dingin sampai ia harus melilit syal beberapa kali dileher— membentuk tumpukan yang membuatnya seperti tidak memiliki leher. Lalu memakai sarung tangan wol sambil merapatkan mantel ke tubuhnya. Suasana di stasiun mulai ramai oleh para penumpang yang sedang menanti kereta mereka. Syatra menoleh pada gerbong-gerbong yang tengah menurunkan penumpang.
"Hei, tunggu." Syatra menghentikan seorang nenek bungkuk penjual jajanan yang baru saja melewatinya. Diselipkannya beberapa lembar dollar ke tangan keriput nenek tersebut dengan sebuah senyuman kecil."Untukmu."
Mata nenek itu membulat dan sebelum dia sempat berterimakasih, Syatra sudah pergi untuk membagikan uang itu pada penjaja-penjaja asongan lain yang ada disana. Walaupun itu uang haram hasil cinta satu malam, tapi uang tetaplah uang— lagipula ia tak berniat menyimpan atau meninggalkannya di kereta api karena ada yang lebih membutuhkan.
"Semoga uangnya bermanfaat untukmu dan keluargamu." Kata Syatra sembari mengusap pelan pipi berdebu dan lusuh anak kecil yang ada dalam gendongan ibunya.
"Terimakasih banyak, semoga hidupmu diberkati." Si ibu tua itu tersedu-sedu sambil mengusap air mata dan mencium tangan Syatra sebelum ia permisi untuk pergi.
Lalu Syatra menghembuskan napas dan menggosok tangannya yang beku, ia menoleh ke belakang saat suara kereta api mulai menderu lagi, siap untuk berangkat. Secara tidak sengaja Syatra melihat Sergio dari salah satu jendela. Pria itu duduk sambil menghidupkan rokok— di depannya ada seorang pria lain yang memakai setelan jas, mereka tampak bercakap-cakap. Lalu kereta pun bergerak lebih cepat hingga Syatra tak bisa melihatnya.
"Ma'am," Suara Cliff mengejutkan Syatra.
Cliff adalah supir pribadi Syatra. Kulitnya yang pucat semakin pucat di udara dingin— terlebih dia memakai setelan hitam yang membuat dirinya kelihatan seperti mayat hidup.
"Sudah lama menungguku, Cliff?"
"Baru tiga puluh menit yang lalu, Ma'am."
"Itu bukan 'baru'"
"Aku pernah menunggu Anda selama dua jam di pusat perbelanjaan." Sahut Cliff.
"Benar juga." Syatra tertawa renyah tapi tidak mengatakan apa-apa. Dilepaskannya high heels yang membelenggu kakinya, lalu ia tenteng benda itu di tangan. Lebih nyaman tak pakai sepatu bodoh ini dan bertelanjang kaki saja walau rasanya seperti sedang berpijak di atas lantai es.
"Anda baik-baik saja?" Tanya Cliff.
"Ya, tentu."
"Anda terlihat sedikit linglung."
"Kepalaku memang pusing."
Dan Syatra sampai di rumah sekitar jam lima tiga puluh. Langkahnya dipaksakan berjalan senormalnya. Yang terjadi di kereta api terasa bagai mimpi, namun anehnya begitu nyata sampai ia menjadi bodoh sebab tak mampu menyingkirkan setiap detik yang terjadi antara dirinya dan Sergio. Bagaimanapun ia harus melupakan pria itu dan semua hal tak senonoh yang sudah mereka lakukan di atas ranjang. Syatra merasa pengaruh Tequila yang ia minum benar-benar berhasil membuatnya lupa diri. Tapi menyalahkan minuman saat ia sama sekali tidak mabuk adalah sebuah tindakan bela diri yang payah.
"Tas Anda, Ma'am."
"Terima kasih."
Lampu-lampu di ruangan hidup secara otomatis saat ia memasukinya. Lutut serta betisnya kram bukan main ketika ia menapaki anak tangga satu persatu. Syatra berhenti sebentar di depan cermin di dinding— dekat dengan kamar— untuk memperhatikan tampilannya. Ia benarkan rambut yang mungkin berantakan entah untuk yang keberapa kalinya dan berdeham pelan untuk menetralkan suara yang parau lalu terakhir cepat-cepat ia memakai sedikit lipstick di bibirnya. Bukannya ingatan itu hilang, tapi ia malah melihat tampilan percintaannya dengan Sergio di cermin. Cara dia mencumbunya, cara dia memainkan organ sensitifnya, dadanya yang bidang, aura berkuasa di wajahnya, dan erangannya— membuat bulu tengkuk Syatra meremang.
KAMU SEDANG MEMBACA
AFFAIR
RomanceLeonelle #1 | Sergio Leonelle dikenal sebagai seorang bandar narkoba yang sedang diintai oleh polisi. Dan sebagai salah satu agen yang ditugaskan dalam misi tersebut, Nala akan menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuan yang dia inginkan yaitu m...
