Azazel, The Fallen Angel

61 11 17
                                        

Gabriel berdiri di balkon jendela kamarnya, menatap pemandangan kota di waktu malam sambil menikmati rasa cerutu yang semakin terasa nikmat ketika Gabriel menenggak segelas Cognac dan dihabiskan dalam satu tegukan. Dinginnya angin malam yang menerpa permukaan kulitnya yang tidak tertutup kimono tidur tidak diperdulikan oleh Gabriel.


Suara kepakan sayap yang familiar di telinganya membuat salah satu sudut bibir Gabriel sedikit tertarik ke atas. Dia sudah bertanya-tanya, kenapa mahluk itu tidak kunjung menampakkan dirinya di hadapan Gabriel setelah mereka mendapatkan Zefanya.


Gabriel memutar tubuhnya. Di hadapannya berdiri sosok pria dengan sayap hitam yang keluar dari punggungnya. Saat dia berjalan mendekati tempat Gabriel berdiri, sayap hitam besar itu perlahan-lahan memudar, dan menyisakan pria muda dengan wajah tampan namun dengan pandangan mata tajam dan sepasang iris berwarna hitam pekat.


Gabriel menyunggingkan senyumnya menyambut kedatangan pria muda tersebut.


"Akhirnya kau datang juga, Azazel.... Aku pikir, kau tidak tertarik lagi dengan Zefanya...." sapa Gabriel.


Sosok pria muda yang dipanggil dengan nama Azazel membalas senyum Gabriel. "Aku harus mempersiapkan diri sebelum bertemu dengan Zefanya. Kau tahu sendiri, meskipun dia tidak lagi memiliki kekuatan, tapi Dia menganugerahkan perisai abadi untuk Zefanya. Aku dan anggotaku yang lain tidak bisa mendekati adikmu itu..."


Gabriel terkekeh. "Jadi, ini tujuanmu yang sebenarnya? Kau membutuhkan aku untuk mendapatkan Zefanya...."


Azazel meraih gelas Cognac yang dipegang Gabriel lalu menyesap pelan isinya. Dia memiringkan kepalanya menatap Gabriel sementara tangannya yang lain meremukkan gelas yang ada di tangannya.


"Simbiosis mutualisme. Kau dan aku memiliki tujuan yang sama. Kenapa kita tidak saling membantu ? Kita berdua sama-sama diuntungkan. Kau mendapatkan kembali kekuatanmu. Aku mendapatkan Zefanya. Terdengar adil bukan ?"


"Kau benar-benar ingin menjadikan Zefanya sebagai istrimu ?"


Azazel mengangkat kedua alisnya yang rapi memanjang bak ribuan semut yang sedang berbaris. "Kenapa? Kau tidak ingin aku menjadi adik iparmu?" tanya Azazel berpura-pura terluka karena mendengar pertanyaan Gabriel barusan.


Tidak..... Aku tidak ingin memiliki hubungan apapun dengan malaikat jatuh sepertimu....


Tentu saja Gabriel tidak menyuarakan isi hatinya yang sebenarnya. Dia memilih untuk tersenyum tipis kemudian mengalihkan pandangannya ke depan.


"Grigori butuh pemimpin baru yang hebat. Dengan Zefanya, aku bisa mewujudkan hal tersebut. Meskipun itu berarti, aku harus melenyapkan setiap pria yang mendekati Zefanya. Ah, untuk kasus Zefanya hanya ada satu pria yang selalu membuat hati Zefanya jatuh padanya...." ucap Azazel.


"Apa kau lupa? Kami kehilangan kemampuan untuk menghasilkan keturunan setelah kami melewati api suci. Bagaimana caranya kau dan Zefanya bisa menghasilkan keturunan ?"


Azazel tersenyum misterius. "I am one of heaven's most powerful and clever angels.... Dan sampai saat ini, belum ada yang bisa menandingi kekuatanku." Azazel melangkah lebih dekat kemudian mencondongkan badannya tepat di depan telinga Gabriel.


"I was cast down on earth because i refused to bow to man, and i still refuse to do that until now... Jadi jangan pernah meremehkanku, Gabriel. Tanpa aku, kau tidak akan sampai di posisimu saat ini...."


Azazel menarik tubuhnya menjauh lalu menepuk pelan pundak Gabriel. "Kita harus bergerak lebih cepat. Raquel sudah mengetahui campur tanganku. Jangan sampai dia merusak semua rencana kita. Kau tahu akibatnya kan kalau sampai rencana kita kembali gagal?"


 SEVEN UNKNOWNTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang