They Will Remain Unknown

27 3 1
                                        


Setelah pertempuran dahsyat yang mengguncang Axum, langit yang semula cerah tiba-tiba berubah. Awan-awan gelap berkumpul, dan suara sangkakala yang dahsyat menggema di seluruh penjuru, memenuhi udara dengan getaran ilahi. Para ksatria abadi—Lael, Thea, Nediva, Kenaz, Jaziel, dan Zefanya—mengangkat kepala mereka, menyadari bahwa momen yang telah dinubuatkan kini tiba.


Suara dari langit bagaikan desau air bah, bagaikan deru guruh yang dahsyat. Langit terbuka perlahan, menampakkan pemandangan yang menakjubkan: takhta kudus Yang Maha Kuasa, dikelilingi oleh cahaya kemuliaan yang tak terlukiskan. Di sebelah kanan dan kiri-Nya, barisan malaikat berdiri dengan megah, sayap-sayap mereka memancarkan cahaya yang menyilaukan. Suara sangkakala terus bergema, menandakan kedatangan ilahi yang memenuhi hati dengan rasa hormat dan kagum.


Di antara barisan malaikat tersebut, tampak para Malaikat Agung dengan jubah kemuliaan mereka, kain linen putih halus cemerlang dan sabuk emas melingkari pinggang mereka.


Michael, sang pemimpin para Malaikat Agung, berdiri di depan dengan pedang bercahaya di tangannya, siap memimpin dan melindungi.


Di sampingnya, Gabe, utusan pembawa kabar gembira, memegang gulungan pesan ilahi.


Rafael, penyembuh ilahi, membawa tongkat yang melambangkan penyembuhan dan perlindungan.


Uriel, penerang dalam kegelapan, memegang kitab kebijaksanaan yang memancarkan cahaya pengetahuan.


Bersama mereka, Selaphiel, Raquel, dan Jerahmeel, masing-masing memancarkan aura kemuliaan yang menambah keagungan pemandangan tersebut.


Dan Aiden....


Dia turut berdiri di samping para malaikat, sebagai upah yang dia terima untuk menjalankan tugas sebagai seorang Imam Suci.


Para ksatria segera berlutut, termasuk para manusia yang kewalahan dengan kemuliaan tersebut. Kepela mereka tertunduk dalam penghormatan mendalam. Dengan suara yang menggema, Yang Maha Kuasa berbicara, " Akulah Yang Awal dan Yang Akhir.... Yang Pertama dan Yang Terkemudian..... Akulah Yang Setia dan Yang Benar..... Akulah yang menghakimi dan Aku berperang dengan adil..... Aku membalaskan kepada setiap orang menurut perbuatannya....."



Sebagai pemimpin dari para malaikat, Michael-sang Malaikat Agung-mengeluarkan gulungan kitab kecil kemudian mulai membacanya. "Telah musnah pemberontak karena meminum anggur hawa nafsu.... dia musnah karena perbuatannya..... dan maut adalah ganjarannya....."



"Karena semua manusia telah berdosa dan telah kehilangan kemuliaan-Nya..... Namun Dia, yang menyelidiki hati, yang menguji batin, untuk memberi balasan kepada setiap orang sesuai dengan tingkah langkahnya, setimpal dengan hasil perbuatannya..... Maka sekarang, terimalah perintah-Nya....."


"Untuk jatuh ke dalam tipu daya si jahat.... Hidup dalam rupa-rupa hawa nafsu, perselisihan, perseteruan, memelihara amarah, iri dan dengki.... para Ksatria Abadi harus kembali menjalankan tugas mereka sebagai penjaga keseimbangan dunia sampai ular tua diikat selama seribu tahun dan dilemparkan ke dalam jurang maut. Kalian akan tetap menjadi yang tidak dikenal.... Semua ingatan tentang kalian akan dihapuskan...."


Para Ksatria Abadi dilanda gelombang emosi yang begitu dalam dan kompleks. Setiap kata yang diucapkan seakan menusuk hati mereka, membawa beban yang terasa begitu berat, meskipun mereka tahu bahwa ini adalah bagian dari takdir yang harus mereka jalani.



Lael yang selalu tenang dan bijaksana, merasakan getaran di seluruh tubuhnya. Matanya yang biasanya penuh dengan ketegasan kini terlihat redup, seolah memendam ribuan pertanyaan yang tak terucapkan. Dia menatap langit yang terbuka, mencoba menahan gejolak di hatinya. "Tidak dikenal... dilupakan..." gumamnya pelan, suaranya hampir tak terdengar. Dia tahu bahwa ini adalah pengorbanan terbesar yang harus mereka lakukan, tetapi rasa kehilangan yang mendalam tetap menyelimuti hatinya.



 SEVEN UNKNOWNTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang