Stonehenge

18 2 0
                                        

Hujan turun deras di atas Stonehenge. Tetesan air menghantam batu-batu raksasa kuno itu, membuatnya tampak semakin kelam dan menakutkan di bawah langit abu-abu yang mencekam. Petir menyambar di kejauhan, membelah langit malam seolah menjadi tanda buruk bagi yang berani menjejakkan kaki di tempat itu.


Anya berdiri di tengah lingkaran batu, jubahnya basah kuyup menempel pada tubuhnya. Rambutnya yang panjang kini tergerai kusut, sebagian menutupi wajah pucatnya. Kedua matanya menatap tajam ke satu titik di tanah, tempat pecahan kristal yang dulu ia sembunyikan terkubur jauh di bawah permukaan.


Di sampingnya, Gabriel berdiri tegak, tidak terpengaruh oleh hujan deras yang mengguyur. Tatapan matanya yang dingin dan penuh obsesi menatap Anya tanpa berkedip. Tidak ada lagi kelembutan di wajahnya—hanya ambisi yang telah lama membakar dirinya dari dalam.


"Cepatlah, Anya," desak Gabriel, suaranya berat dan menusuk di tengah deru hujan. "Aku tidak punya waktu untuk menunggu."


Anya memejamkan matanya sesaat, menarik napas dalam-dalam, sebelum berlutut dan meletakkan kedua tangannya di atas tanah. Bibirnya bergerak-gerak, mengucapkan mantra kuno dalam bahasa yang hampir tidak terdengar di tengah badai. Energi samar mulai bergetar dari bawah tanah, membuat udara di sekitar mereka terasa lebih berat.


"Segel ini tidak akan bertahan lama," gumam Anya, lebih kepada dirinya sendiri. "Aku harap kau siap dengan konsekuensinya."


Gabriel tidak menjawab, hanya mengamati dengan seksama. Cahaya mulai muncul dari tanah, berpendar dalam warna perak kebiruan. Kilatan cahaya itu semakin lama semakin kuat, hingga tiba-tiba retakan muncul di permukaan tanah. Dengan sebuah letupan kecil, pecahan kristal itu akhirnya muncul ke permukaan.


Pecahan kristal itu kecil, seukuran genggaman tangan, tetapi cahaya yang dipancarkannya mampu menyilaukan mata. Energi luar biasa mengalir dari dalamnya, membuat udara bergetar hebat di sekeliling mereka.


Gabriel menatap kristal itu dengan mata penuh kemenangan. "Akhirnya..." bisiknya lirih, langkah kakinya mendekat ke arah Anya yang masih berlutut.


Anya menatap kristal itu dengan campuran rasa takut dan sedih. Ia tahu apa yang akan terjadi jika kristal itu masuk ke dalam tubuh Gabriel. Ia tahu kekuatan itu bukanlah sesuatu yang bisa dikendalikan dengan mudah.


"Gabriel..." suara Anya terdengar lirih di tengah derasnya hujan. "Jangan lakukan ini. Pecahan ini terlalu berbahaya."


Gabriel berhenti tepat di depannya, memandang Anya dengan tajam. "Kau masih mencoba menghentikanku?" tanyanya dengan nada mengejek. "Bukankah ini yang kau inginkan, Anya? Bukankah kau berjanji akan membantuku?"


"Aku tidak pernah ingin ini terjadi," jawab Anya, suaranya nyaris tenggelam dalam suara hujan. "Aku hanya ingin kita kembali seperti semula. Aku hanya ingin memperbaiki kesalahan..."


Gabriel mendengus. "Kesalahan? Tidak ada yang perlu diperbaiki, Anya. Aku akan menjadi apa yang seharusnya aku jadi—Tuhan. Dan kau akan menjadi bagian dari itu."


Tanpa menunggu jawaban, Gabriel mengulurkan tangannya ke arah pecahan kristal yang berpendar itu. Begitu jemarinya menyentuh kristal, kilatan cahaya menyambar seperti kilat. Suara gemuruh terdengar dari tanah, seolah-olah dunia itu sendiri merespon kehadiran kekuatan kristal tersebut.


Anya memekik, terhempas ke belakang oleh energi yang meledak dari kristal itu. Matanya membelalak saat melihat Gabriel berdiri di tengah-tengah cahaya itu, tubuhnya menyerap energi kristal dengan cepat. Cahaya perak kebiruan itu meresap ke dalam tubuhnya, merayap melalui kulit dan pembuluh darahnya seperti aliran petir yang tak terhentikan.


Gabriel mendongak ke langit, kedua matanya kini bersinar terang, seolah menjadi dua matahari kecil yang membakar dalam kegelapan. Tubuhnya bergetar sesaat, tetapi kemudian ia berdiri dengan tegak, lebih kuat dari sebelumnya.


"Aku bisa merasakannya..." gumam Gabriel, suaranya bergetar oleh kekuatan baru. Ia mengepalkan kedua tangannya, seolah-olah ingin menguji batas kekuatan yang kini mengalir dalam dirinya. "Aku... tak terkalahkan."


💎💎💎💎💎💎💎


Gabriel masih berdiri di tengah-tengah hujan deras yang mengguyur Stonehenge, tubuhnya dilingkupi cahaya perak kebiruan yang perlahan meredup, tapi jelas mengalir kuat dalam dirinya. Matanya berkilat tajam, senyum kecil yang penuh kemenangan tersungging di bibirnya. Ia telah berhasil mendapatkan pecahan kristal itu—sebuah kekuatan yang selama ini ia dambakan.


Di sisi lain, Anya masih terduduk di tanah basah. Tubuhnya gemetar, bukan karena hujan atau hawa dingin, melainkan ketakutan akan apa yang akan terjadi selanjutnya. Matanya menatap punggung Gabriel yang tampak seperti dewa yang turun dari langit, padahal ia tahu pria itu kini lebih dekat dengan kehancuran dibandingkan kebangkitan.


Anya menggigit bibirnya, hatinya bergejolak. "Jika aku tidak bertindak cepat, semuanya akan berakhir di tangan Gabriel."


Axum.


Itu satu-satunya tempat tersisa—tempat di mana pecahan kristal terakhir berada. Namun, kristal itu bukan miliknya lagi. Hukuman yang dijatuhkan kepadanya bertahun-tahun lalu telah membuatnya tidak bisa mengendalikan kekuatan kristal tersebut sendirian.


Saudara-saudaranya. Mereka adalah kunci. Lael, Jaziel, Thea, Kenaz, dan Nediva. Dalam tubuh mereka, kekuatan kristal abadi miliknya terkunci. Dulu, ketika ia melanggar sumpah dengan mencuri kristal mereka untuk menghentikan Gabriel, ia dihukum: kekuatan itu hanya akan bisa digunakan jika mereka memilih untuk bersatu kembali dengannya.


Anya memejamkan mata, merasakan air hujan yang membasahi wajahnya. "Aku hanya bisa berharap mereka semua sudah berada di Axum..." gumamnya, suara lemah di tengah derasnya hujan. "Jika rencana ini gagal, maka tidak akan ada yang tersisa—untuk kita semua."


Tiba-tiba, suara Gabriel memecah lamunannya. "Berdiri, Anya. Kita akan pergi."


Anya menoleh, menatap Gabriel yang kini memandangnya dengan mata yang berpendar dingin. "Ke mana?" tanyanya dengan suara yang sengaja ia buat bergetar.


Gabriel menyeringai kecil, seolah tahu Anya berusaha menyembunyikan sesuatu darinya. "Kau sudah tahu jawabannya. Axum. Tempat dimana kau menyimpan pecahan kristal terakhir milikku itu. Setelah itu, semuanya akan selesai."


Anya bangkit dengan susah payah, hatinya berdebar kencang.


"Kau sudah memikirkannya dengan matang, bukan?" tanya Anya, mencoba mengulur waktu sambil berpikir keras.


Gabriel mendekat, tangannya menyentuh dagu Anya dengan gerakan yang nyaris lembut namun tetap mengancam. "Aku memikirkan ini selama ratusan tahun, Anya. Aku akan memulihkan dunia—dengan tanganku sendiri. Dan kau..." Matanya semakin berkilau. "Kau akan ada di sisiku, seperti yang seharusnya."


Anya menatap mata Gabriel, ingin mengatakan sesuatu, tetapi kata-kata itu tertahan.


Aku harus sabar.


Aku harus menunggu mereka.


Gabriel mengulurkan tangannya ke arah Anya, dan tanpa bisa menolak, kekuatan tak kasatmata menarik tubuhnya mendekat. Cahaya kembali berpendar dari tubuh Gabriel, semakin terang dan memancar ke langit, memecah hujan deras seolah dunia itu sendiri tunduk pada kekuatannya.


Dalam satu kilatan cahaya perak kebiruan yang menyilaukan, Gabriel dan Anya lenyap dari Stonehenge.


(TBC)

 SEVEN UNKNOWNTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang