The Truth

61 11 16
                                        

"Ayah dan Ibumu menghirup banyak asap karbon monoksida. Seharusnya mereka dirawat di rumah sakit, tapi aku tahu akan sangat berbahaya jika media mengetahui bahwa mereka masih selamat. Jadi aku membawa mereka ke sini. Tenang saja, adikku sering datang kemari untuk memantau perkembangan orang tuamu." jelas Profesor Jeremy pada Alceena yang duduk terpaku sambil menangis sesenggukan memandangi kedua orang tuanya yang terbaring di atas tempat tidur dengan berbagai alat medis menempel di badan mereka.


Alceena tahu ibunya alergi dengan asap rokok, itu sebabnya sang ayah sama sekali tidak menyentuh benda yang mengandung nikotin itu. Membayangkan ibunya berjam-jam menghirup karbon monoksida pasti membuat wanita itu benar-benar tersiksa.



Kemudian Alceena tersadar. Dia meraba alat komunikasi yang menempel di telinganya kemudian memeriksa apakah Profesor Jeremy menggunakan alat yang sama. Betapa terkejutnya Alceena mendapati bahwa tidak ada alat komunikasi yang terpasang di telinga Profesor Kim. Dia pikir, dia bisa memahami ucapan Profesor Kim dalam bahasa Indonesia karena Trey meminjamkan alat itu kepada Profesor Kim.


Ternyata tidak.


Jadi....???


"Kenapa ? Kamu baru menyadarinya sekarang, Shin Alceena bahwa sejak tadi aku bicara dengan bahasa ibumu tanpa menggunakan alat bantu ?"


Alceena mengusap air matanya kemudian mengangguk.


"Itu keistimewaan kami sebagai mahluk abadi. Kami menguasai semua bahasa. Zefanya juga melakukannya kan ?"


"Ah iya..... Aunty Anya !!!! Aku lupa !!!!" Alceena merubah posisi duduknya yang tadi tegak lurus dengan posisi tempat tidur yang ditempati oleh Adrianne Arnault dan Shin Michael, menjadi sedikit menyamping lalu menatap Profesor Kim dengan wajah serius.


"Uncle ini beneran mahluk abadi kayak Aunty Anya? Uncle nggak bohong kan ?"


Profesor Kim tertawa lembut. "Namaku Jeremy. Panggil aku Jeremy."


"Iya... nanti.... Uncle jawab dulu.... Om bukan suruhan papanya Yuta kan?" cecar Alceena.


Profesor Kim menggelengkan kepalanya.


"Aku bisa menolong orang tuamu karena permintaan Thea, ah... maksudku Tia. Dia melihat apa yang akan menimpa kalian. Makanya aku bisa datang tepat waktu." Profesor Kim memulai ceritanya.


"Yuta yang kamu maksud itu Yonathan Grey kan? Aku sering mengawasinya dari jauh. Aku pikir, dia akan datang ke sini bersama denganmu. Ada hal penting yang ingin aku bicarakan dengannya."


"Yuta pulang ke Jakarta bersama dengan Ara. Kami harus mencari ksatria yang lain supaya bisa menolong Aunty Anya."


"Anya.... Zefanya..... Ceritakan padaku bagaimana dia hidup selama ini...." pinta Profesor Kim. Wajahnya tiba-tiba berubah menjadi sendu.


"Ayolah Uncle.... Umurku aja baru dua puluh tahun. Otakku hanya bisa mengingat setidaknya sampai umurku lima tahun.... Sebelum usia lima tahun, semuanya blur. Kabur."


"Ceritakan saja yang kamu ingat...."


"Aku juga cerita soal ini ke Aunty Tia. Aunty Anya itu partner in crime aku. Mama aja sampai kewalahan menghadapi kami berdua. Ada-ada saja ide gila Aunty Anya. Membangun labirin di belakang rumah, mengundang sirkus untuk pertunjukan ulang tahunku. Tahu nggak Uncle, Aunty Anya udah janji mau undang EXO ke pesta ulang tahun aku empat bulan lagi. Tapi Uncle jangan salah paham ya...Aku nyari Aunty Anya bukan demi EXO. Aku bener-bener niat mau nyari Aunty Anya kok. Beneran...."


 SEVEN UNKNOWNTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang