Menuju Axum

16 2 0
                                        



Langit memerah keunguan saat Johnny, Alceena, dan Ara tiba di suatu tempat yang benar-benar asing. Udara di sekitar mereka begitu sunyi, nyaris mencekam, dengan hamparan tanah tandus yang retak-retak seolah telah lama ditinggalkan oleh kehidupan. Tak ada suara burung, tak ada angin berdesir—hanya keheningan yang terasa tidak wajar.


"Kita di mana sekarang?" Johnny bertanya, suaranya rendah namun tetap waspada. Matanya menatap sekitar, mencari tanda-tanda bahaya yang mungkin muncul kapan saja.


Alceena menggigit bibirnya, telinganya tajam mendengarkan. "Aku... tidak tahu. Tapi tempat ini terasa berbeda. Ada sesuatu yang—"


Langkah kaki terdengar mendekat, memecah kesunyian. Suara itu begitu tenang, namun langkahnya berat, seperti membawa kehadiran yang tidak bisa diabaikan.


Ketiganya menoleh bersamaan, tubuh mereka menegang ketika melihat siluet sosok yang mendekat dari kejauhan. Lambat laun, sosok itu semakin jelas—seorang pria tinggi dengan rambut perak yang tergerai, jubah hitam panjang melambai ditiup angin yang tak kasat mata. Tatapan matanya tajam dan dingin, sorot keperakan itu memancarkan otoritas yang mengancam.



Johnny segera melangkah ke depan, berdiri melindungi Ara dan Alceena di belakangnya.

"Siapa kau?" tanyanya pada sosok asing itu, tangannya terkepal kuat.


Mereka bertiga langsung bersikap defensif, tubuh tegang siap menghadapi apa pun yang akan dilakukan sosok itu. Samyaza berhenti beberapa langkah di depan mereka, wajahnya tenang tanpa ekspresi yang jelas. Ia memandang ketiganya satu per satu, seperti sedang menilai kekuatan dan kelemahan mereka.


"Tenang," ucap Samyaza, suaranya dalam, bergema seperti suara dari jurang yang tak berdasar. "Jika aku datang untuk menyakiti kalian, kalian sudah merasakannya sekarang."


Johnny tetap memandangnya dengan curiga. "Kalau bukan untuk itu, apa maumu?"


Samyaza menatap Johnny lebih lama dari yang diperlukan, matanya tampak menyelidik, nyaris terpesona—sebuah reaksi yang mengejutkan Johnny. "Kalian benar-benar mirip," gumamnya pelan, lebih kepada dirinya sendiri.


"Maksudmu apa?" tanya Johnny tajam, tidak suka dengan sorot mata pria itu.


Samyaza tidak langsung menjawab. Alih-alih, ia menghela napas berat, lalu berkata, "Kalian bisa rileks. Kali ini, tujuan kita sama: menghentikan Azazel."


Ketegangan sedikit mereda, meskipun Johnny dan Alceena masih tampak curiga.


"Sekutu?" Alceena bertanya dengan skeptis, alisnya terangkat. "Sejak kapan kau berpihak pada kami?"


Samyaza menatap Alceena sekilas, senyum samar muncul di bibirnya, tanpa benar-benar menawarkan kehangatan. "Jangan salah paham. Aku tidak berpihak pada siapa pun. Tapi jika Azazel berhasil mencapai tujuannya, tidak akan ada lagi keseimbangan, dan itu tidak bisa kubiarkan."


Alceena masih tidak sepenuhnya percaya. "Dan apa jaminannya kau tidak menjebak kami?"


Samyaza mengangkat bahu ringan. "Percaya atau tidak, itu pilihan kalian. Tapi aku akan memberikan sesuatu yang kalian butuhkan."


Tatapannya kembali jatuh pada Johnny, kali ini sorot matanya lebih intens, seperti mencoba memahami sesuatu yang rumit. "Kau..." katanya pelan, "...aku masih tidak mengerti apa yang dimiliki seorang manusia sepertimu hingga membuat seorang ksatria abadi seperti Anya rela melakukan apa pun demi bisa bersatu denganmu di setiap kehidupan yang kau jalani."


 SEVEN UNKNOWNTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang