Jaziel, Thea, Nediva, dan Kenaz berdiri di depan pintu observatorium yang kini terbuka lebar. Di dalam, Lael masih berdiri mematung, pandangannya terarah pada hamparan langit malam melalui jendela kaca bundar besar di atas sana. Siluetnya tampak tegar namun penuh keraguan. Hawa ketegangan memenuhi udara.
"Dia pasti mendengar percakapan kita," gumam Nediva lirih, menatap punggung Lael.
"Tidak peduli. Kita harus bicara dengannya," tegas Kenaz, langkahnya sudah siap memasuki ruangan.
Namun Thea menahan lengan Kenaz. "Jangan gegabah. Kau tahu Lael tidak suka dipojokkan."
Kenaz mendengus, melepaskan genggaman Thea. "Jadi kita harus berdiam diri di sini selamanya?"
"Tidak," sela Jaziel cepat. Ia melangkah maju ke dalam observatorium, diikuti oleh yang lainnya. "Kita bicara dengannya. Dengan tenang. Kita di sini bukan untuk bertarung."
Lael mendengar langkah kaki mereka mendekat, tapi ia tetap tak bergerak. Punggungnya kokoh seperti batu karang, seakan menolak untuk menghadapi mereka.
"Berhenti di situ," suara Lael akhirnya terdengar, dingin dan tajam.
Keempat ksatria abadi berhenti serentak. Mereka saling pandang sebelum Jaziel akhirnya berbicara.
"Lael, kau tahu kenapa kami ada di sini."
Lael tertawa kecil, namun tawanya penuh kepahitan. Ia berbalik perlahan, menatap saudara-saudaranya dengan mata penuh amarah terpendam.
"Tentu saja. Samyaza sudah menyampaikan semuanya. Dan kalian... datang untuk membujukku?" Lael melangkah mendekat, sorot matanya menembus satu per satu mereka. "Apakah kau juga termakan tipu dayanya, Jaziel? Kau yang dulu paling bijaksana di antara kami."
"Ini bukan tentang Samyaza, Lael," jawab Jaziel dengan nada tenang. "Ini tentang kita—tentang kesempatan terakhir kita untuk memperbaiki semuanya."
"Memperbaiki?" Lael mendengus keras. "Memangnya apa yang bisa diperbaiki? Kesalahan kita tak termaafkan. Kita dihukum karena kelemahan kita sendiri. Apa kalian pikir kita bisa menebusnya begitu saja?"
Thea melangkah maju, suaranya lembut namun penuh ketegasan. "Kita bisa mencoba, Lael. Dunia ini masih bisa diselamatkan. Dan kau tahu itu."
Lael menggeleng pelan, kecewa. "Tidak semudah itu, Thea. Kau lebih tahu bagaimana kekuatan Azazel. Perangkapnya sudah mengakar, dan kita semua adalah pion yang dia gerakkan."
Kenaz, yang sedari tadi menahan diri, akhirnya tak bisa lagi membungkam emosinya. "Kau bicara seakan kau sudah menyerah, Lael! Apa itu maksudmu? Bersembunyi di sini dan membiarkan dunia runtuh?"
"Kau tidak mengerti apa-apa, Kenaz!" bentak Lael, kini emosinya memuncak. "Kau dan saudara-saudara kita yang lain terlalu mudah percaya! Terlalu mudah tergoda untuk bertarung lagi, seakan itu bisa menyelesaikan segalanya."
"Tapi kau lebih memilih diam?" Nediva akhirnya angkat bicara, suaranya dingin namun menusuk. "Kau mengutuk kami karena mencoba, sementara kau sendiri tenggelam dalam keraguan. Apa bedanya dirimu dengan kami dulu?"
Lael menatap Nediva tajam, tapi tak bisa membalas. Kata-kata itu menyentuh sesuatu di dalam dirinya, sesuatu yang selama ini ia pendam.
"Kita di sini bukan untuk bertarung denganmu, Lael," lanjut Nediva. "Tapi untuk mengingatkanmu siapa kita. Kita saudara. Dan saudara tak saling meninggalkan."
KAMU SEDANG MEMBACA
SEVEN UNKNOWN
FanfictionJatuh cinta itu hal biasa. Lantas bagaimana jika orang yang kau cintai bukanlah seseorang yang kau pikirkan selama ini? Bagaimana bila seseorang yang kamu cintai mendadak memiliki rahasia tergelap? Rahasia yang jauh menembus nalar mu. Rahasia yang...
