Note : kalimat dalam cetak miring berarti dalam bahasa Inggris.
Ketiga pemuda dengan paras tampan itu masih setia menatap layar komputer dengan resolusi tinggi selama berjam-jam tanpa sempat beristirahat. Mereka mengulik semua database yang bisa diretas dengan hitungan detik oleh Jerome dan Jamie. Jeffrey yang ditugaskan oleh Yuta untuk mengawasi kinerja dua anak itu juga tidak luput dari penyiksaan ini.
"Astaga.... Mataku bisa juling kalau begini terus...." keluh Jamie. Dia melepaskan kacamata minusnya kemudian mengerjap-ngerjapkan kedua matanya yang mulai lelah membaca aksara Rusia yang terpampang di layar komputernya. Saat ini Jamie sedang memeriksa date base dari KGB yang berhasil dia retas.
"Apalagi aku.... Aku mulai melihat dirimu membelah diri menjadi empat. Aku melihat empat Jamie sekarang.... Oh Tuhan....." timpal Jerome sambil mengangkat empat jarinya ke arah Jamie. Kantung matanya juga mulai menghitam. Tanda kurang tidur selama berhari-hari.
"Makan yuk.... Lapar...." ajak Jamie. Dia mengusap-usap perutnya yang mulai tampak berlemak karena beberapa hari ini hanya duduk saja tanpa melakukan aktivitas lain yang berarti.
Jerome mengangguk. Dia berdiri menghampiri Jamie kemudian berjalan bersama menuju ke arah dapur. Saat hendak melewati Jeffrey, pandangan Jerome terkunci pada apa yang terpampang di layar komputer Jeffrey.
"OH MY GOD !!!! Dude !!!! Is that a live show?" Jerome bergegas mendekati Jeffrey, sementara Jeffrey yang kepergok sedang menonton live show sexy dancers langsung salah tingkah. Dia berusaha menutupi layar komputer dengan menggunakan kedua tangannya.
"Eiyyyy..... pantas saja pekerjaan kita tidak selesai. Rupanya yang satu ini malah asyik menonton penari telanjang...." cibir Jamie.
"Shut your mouth off !!!! Kan kalian yang ditugaskan oleh Yonathan. Bukan aku....." elak Jeffrey.
"Kin kiliin ying ditigiskin ilih Yinithin. Bikin iki. Dasar.... Otak mesum ya mesum saja.... Nggak usah banyak alasan...." ejek Jamie lagi sambil bersedekap.
Jeffrey hampir saja memukul wajah Jamie yang mengesalkan itu sebelum dihentikan oleh Jerome.
"Wait a minute.... Ini maksudnya apa?" Jerome menunjuk ke salam satu pop up bar yang menyala-nyala di bagian bawah layar komputer.
"Katanya hacker. Masak nggak tahu itu apa....." ejek Jeffrey.
"I know what exactly that blinking thing is. Yang aku mau tahu, apa dia bagian dari web ini ataukah hanya advertisement?" selidik Jerome.
Jeffrey meng-klik pop up bar yang menyala kemudian menunjukkannya pada Jerome. "Kalian tahu kan, saat kita masuk ke situs macam ini, kita dialihkan ke situs yang lain. Biasanya, pop up bar bisa dengan mudah diblokir. Tapi entahlah, pop up bar yang satu ini selalu muncul setiap sepuluh menit sekali. Aku pikir ini semacam malware."
Jerome mengangguk. "Ini memang malware. Tapi, kenapa dia selalu mengarahkannya ke situs ini ya?" gumam Jerome.
"Kamu juga menonton ini, Jer?" tanya Jamie terkejut.
Wajah Jerome bersemu merah. "Kadang-kadang. I'm also a human, Jamie...." jawab Jerome sambil tersenyum sampai kedua matanya menghilang.
"Jadi, apa kesimpulanmu, young master?" tanya Jeffrey.
Wajah Jerome kembali berubah serius. Dia lalu duduk di kursi Jeffrey kemudian sibuk menekan-nekan keyboard komputer. "Aku sempat menanyakan ini kepada teman-teman anonimku yang lain. Mereka juga sering bingung dengan malware ini. Harusnya dengan firewall biasa saja, dia bisa terblokir. Tapi, kenapa dia terus-terusan muncul ya? Dan anehnya, malware ini menjurus ke satu IP address. Dan itu adalah....." Jerome menekan tombol 'enter'.
KAMU SEDANG MEMBACA
SEVEN UNKNOWN
FanfictionJatuh cinta itu hal biasa. Lantas bagaimana jika orang yang kau cintai bukanlah seseorang yang kau pikirkan selama ini? Bagaimana bila seseorang yang kamu cintai mendadak memiliki rahasia tergelap? Rahasia yang jauh menembus nalar mu. Rahasia yang...
