Jalan menuju Axum dipenuhi dengan debu dan asap pertempuran. Lael, Kenaz, Thea, Nediva, dan Jaziel berjalan dengan cepat, tekad mereka tidak tergoyahkan meskipun kelelahan mulai terasa. Namun, tiba-tiba, sekelompok pengikut Gregory muncul dari balik pepohonan, menghalangi jalan mereka.
"Kami tidak akan membiarkan kalian mencapai Axum," kata pemimpin kelompok itu, seorang pria bertubuh besar dengan pedang berdarah di tangannya.
Lael menghela napas, menarik pedangnya dengan gerakan cepat. "Kami tidak punya waktu untuk ini."
Kenaz mengangkat tangannya, energi api mulai berkumpul di telapak tangannya. "Kalau begitu, mari kita selesaikan ini dengan cepat."
Thea dan Nediva saling memandang, lalu mengangguk. Mereka siap bertarung. Jaziel, menggenggam erat senjatanya, matanya penuh tekad.
Pertempuran pun dimulai.
Lael melesat ke depan, pedangnya berkilauan di bawah sinar matahari. Dia menyerang dengan presisi, setiap ayunan pedangnya menghancurkan pertahanan musuh. Kenaz melepaskan bola api ke arah kelompok pengikut Gregory, ledakannya membuat beberapa dari mereka terlempar ke belakang.
Thea dan Nediva bekerja sama dengan sempurna. Thea menggunakan kecepatannya untuk mengalihkan perhatian musuh, sementara Nediva menyerang dengan kekuatan penuh, tongkat magisnya mengeluarkan gelombang energi yang menghancurkan.
Jaziel, menggunakan senjatanya dengan cerdik, menyerang dari jarak jauh dan membantu yang lain dengan taktiknya.
Namun, jumlah pengikut Gregory terlalu banyak. Meskipun Lael dan yang lainnya bertarung dengan gigih, mereka mulai kelelahan. Musuh terus datang, seolah-olah tidak ada habisnya.
"Kita tidak bisa terus begini!" teriak Thea, menendang seorang musuh yang mendekat.
Lael menggeram, pedangnya menebas dua musuh sekaligus. "Kita harus bertahan! Axum sudah dekat!"
Tiba-tiba, suara sayap yang kuat menggema di udara. Cahaya suci menyinari medan pertempuran, dan para Archangel muncul dari langit. Mereka turun dengan penuh wibawa, pedang suci mereka berkilauan.
Michael, pemimpin para Archangel, melangkah maju. "Kami akan mengambil alih dari sini," katanya, suaranya penuh otoritas.
Lael dan yang lainnya menganggak, lega melihat bantuan datang. Mereka mundur sejenak, memberikan ruang bagi para Archangel untuk bertindak.
Para Archangel bergerak dengan kecepatan dan kekuatan yang luar biasa. Setiap ayunan pedang mereka menghancurkan musuh dengan mudah. Energi suci yang mereka pancarkan membuat pengikut Gregory tidak berdaya.
Raquel melesat ke depan, pedangnya memotong musuh seperti pisau melalui mentega. "Kalian tidak layak menghalangi jalan mereka!" teriaknya, matanya berpendar dengan kemarahan suci.
💎💎💎💎💎💎💎
Udara di Ruang Maha Suci terasa begitu berat, seolah-olah setiap napas yang diambil adalah perjuangan. Cahaya suci yang biasanya memancar dari dinding-dinding ruangan kini redup, digantikan oleh aura gelap yang menyebar dari tubuh Gabriel. Di tengah ruangan, Aiden berlutut, darah mengalir dari luka di dadanya. Tangannya masih mencengkeram erat pedang suci, tetapi kekuatannya hampir habis.
Gabriel berdiri di depannya, matanya berpendar keperakan dengan intensitas yang menakutkan. Di tangannya, pecahan kristal terakhir berkilauan dengan cahaya yang tidak wajar. Kristal itu telah menyerap darah Aiden, dan sekarang kekuatannya sepenuhnya berada dalam kendali Gabriel.
KAMU SEDANG MEMBACA
SEVEN UNKNOWN
Fiksyen PeminatJatuh cinta itu hal biasa. Lantas bagaimana jika orang yang kau cintai bukanlah seseorang yang kau pikirkan selama ini? Bagaimana bila seseorang yang kamu cintai mendadak memiliki rahasia tergelap? Rahasia yang jauh menembus nalar mu. Rahasia yang...
