"Maaf Bunda."
"Bunda udah peringatin kamu dan bilang berkali-kali, kontrol emosi kamu sebaik-baiknya, selesain masalah secara dewasa, jangan mengedepankan emosi, tapi pake otak kamu. Sifa bakal tertekan berada di deket kamu kalau kamu egois, hanya karna cowo itu dekat Sifa kamu sampai memukulinya."
"Dia peluk Sifa Bun, dia suka sama Sifa, dia mau ngambil Sifa." bantah Derren.
"Justru Sifa akan pergi kalau kamu gabisa nanganin ini secara dewasa, jangan apa-apa berantem apa-apa marah, coba selesain dan omongin pake pikiran dingin Derren. Bunda udah bilang, kamu itu masih labil, Bunda ga ngelarang kamu pacaran atau apapun karna kamu udah besar, kamu udah dewasa, Bunda tau, tapi kamu harus bisa bertanggung jawab. Kalau kamu emosian kaya gini, siapa yang deket Sifa kamu pukulin lama-lama Sifa bakal risih sama kamu Derren, kalau kamu masih labil dan gabisa dewasa, putusin sifa! Bunda gamau Sifa ngerasa tertekan sama kamu." ujar Bundanya membuat Derren menggeleng keras.
"Enggak! Derren minta maaf, maaf Derren emosian, maaf Derren kurang dewasa, Derren kurang bijak, maaf. Derren bakal perbaikin kesalahan Derren, Maaf Bunda." ujar Derren. "Tapi jangan suruh Derren putus sama Sifa." lanjut Derren.
Bu Vira yang melihat Derren tunduk kepada Bundanya hanya tersenyum simpul, senakal-nakalnya Derren, Bundanya adalah kelemahannya, Derren tak takut pada siapapun kecuali Bundanya, semuanya bisa Derren sentak kecuali Bundanya, semuanya melihat Derren itu brandal namun Bundanya melihat Derren hanya seorang anak yang nakal dan keras kepala.
"Minta maaf sama orang yang kamu pukuli, minta maaf sama Sifa, dan minta maaf sama pak Bambang yang udah kamu bentak." ujar Kirana.
"Cepuan." maki Derren pelan pada pak Bambang, pasti sebelum bundanya masuk ke ruang BK pak bambang lebih dulu mencepukan nya dulu.
"Pak Bambang yang salah, kenapa dia bentak-bentak Derren, kenapa dia gabisa nanya baik-baik sama Derren, kenapa dia sentak-sentak Derren, emang dia pikir Derren anjing harus di sentak dulu baru nurut." kesal Derren.
"Dia bentak kamu karna kamu salah."
"Tapi ga seharusnya dia ngebentak Derren, emang dia pikir dia siapa, cuma guru, Derren bisa turunin jabatan nya. Bunda bilang Derren ga dewasa karna gabisa ngontrol emosi dan marah-marah ke Rifki, berati Pak Bambang juga ga dewasa karna udah sentak-sentak Derren sama marahin Derren." jawab Derren tak mau kalah.
Bundanya menghela nafas lalu berpandangan dengan Bu Vira, Bu Vira tertawa pelan sedangkan Bundanya hanya menggelengkan kepalanya tak tau lagi harus bagaimana menangani anak satu-satunya ini yang benar-benar merepotkan.
"Tidak apa Bu, memang Pak Bambang yang selalu keras jika menangani murid-murid bandel, Derren salah satunya. Pak Bambang memang mendidik muridnya terlalu keras dan jika berhadapan dengan Derren yang lebih keras jadi menimbulkan keributan." ujar Bu Vira.
"Tuh kan, yaudah berati Derren ga salah." Derren melipat tangan nya di dada ketika mendapat pembelaan dari Bu Vira.
"Tetep kamu minta maaf sama pak bambang." suruh Kirana.
Derren tak terima, "Pak bambang dulu yang minta maaf ke Derren, abis itu Derren yang minta maaf ke dia." jawab Derren yang lagi-lagi membuat Bundanya hanya bisa menghela nafas lelah.
"Derren," panggil Bu Vira, Derren menoleh dan menurunkan tangannya yang bersidekap dada.
"Ya bu?" jawab Derren.
KAMU SEDANG MEMBACA
DERREN'S STORY {END}
Romancehanya sebuah kisah cinta sederhana anak remaja di masa putih abu-abunya. Ini adalah kisah ke bucinan seorang Leader gengster pada gadis biasa, gadis miskin yang hanya hidup dengan ayah tirinya. Seorang Leader gengster yang sangat mencintai ga...
