"Rizal kemana sih, kok dari tadi belum dateng?" tanya Chila dengan meminum jus alpukat nya
"Kan gue udah bilang tadi di panggil Pak Bambang." ujar Andika menjawab
"Tapi kok lama banget?"
"Yaudah sih, cowo lo juga gabakal ilang." sahut Sifa yang sedang memakan nasi gorengnya.
Chila menatap kesal ke arah Sifa, "Yang harusnya di panggil itu cowo lo, Derren. Kan dia kapten basketnya."
Tadi Rizal saat istirahat memang di panggil oleh Pak Bambang untuk urusan lomba basket antar sekolah, namun hingga sekarang belum juga kembali, padahal bel masuk sebentar lagi sudah berbunyi. Hal itu yang membuat Chila jadi kesal sendiri karna tak dapat bertemu dengan kekasihnya.
"Kan gue mager, yaudah si biar Rizal aja." balas Derren dengan memainkan ponselnya.
Chila berdecak, hingga tak lama kemudian datang seorang laki-laki yang langsung duduk begitu saja di antara mereka dengan kondisi wajah lebam-lebam.
Chila mengerutkan keningnya, "Kenapa Peb?" tanya Chila.
Dia adalah Febri, "Abis gelud, biasalah." jawab Febri dengan meminum minuman Andika.
"ANJING MINUMAN GUE COK, PESEN SENDIRI NGAPA!" kesal Andika.
"Udahh, ni minum punyaku." ujar Naura sambil menggenggam tangan Andika agar tidak membuat keributan.
"Norak, gitu doang marah." Sinis Febr.i
"Nyenyenye...." Andika menye-menye
Chila berdiri lalu menarik tangan Febri, "Ayo." ajaknya.
"Kemana?" tanya Febri.
"Ayooo..." paksa Chila.
"Iya kemana boncel? Gue laper belum makan." ujarnya.
Chila menatap kesal ke arah Febri lalu melepaskan tangan Febri, "Yaudah." kesalnya.
Febri kelabakan, "Eh oke oke, ayoo ayoo." Febri ganti menarik tangan Chila.
Chila akhirnya menuntun Febri ke arah UKS membuat Febri jadi paham jika Chila hendak mengobatinya. Memang selalu seperti itu, jika salah satu dari kelima inti ANOD itu terluka pasti Chila yang mengobati, itu kenapa Inti ANOD melindunginya. Bukan hanya karna Chila Queen ANOD. Tapi juga karna mereka berenam sudah bersahabat sejak kecil.
Chila mulai mengobati luka Febri, "Kenapa lo?" tanya Chila.
"Ga cocok lo cuek begitu." ledek Febri membuat Chila mendengus.
"Kenapa Perbiiii!" kesal Chila.
"Abis berantem di bilang."
"Ada masalah?" tanya Chila dengan menempelkan kapas yang sudah di tuang betadine ke luka Febri.
"Sedikit." jawab Febri dengan meringis kecil.
"Terus lo berantem sama siapa?" tanya Chila.
"Rahasia."
Chila langsung memasang wajah datar, "Jangan ngomong sama gue dua bulan." ujar Chila membuat Febri mendelik.
"Eehhh ehh ehh, ya ga bisa dong, oke gue kasih tau. Tapi gausah ngancem-ngancem begitu." ujarnya dengan memegang tangan Chila.
Chila bersidekap dada, menunggu jawaban Febri.
"Amel Amesya." jawab Febri membuat Chila mengernyit, ia merasa tak asing dengan nama itu.
"Lo suka dia?" tanya Chila membuat Febri menggeleng.
"Kaga lah, yakali." ujarnya mendengus.
Tanpa ada-aba Chila tiba-tiba saja memukuli wajah Febri sebanyak tiga kali, di pelipis, bibir, dan rahangnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
DERREN'S STORY {END}
Romancehanya sebuah kisah cinta sederhana anak remaja di masa putih abu-abunya. Ini adalah kisah ke bucinan seorang Leader gengster pada gadis biasa, gadis miskin yang hanya hidup dengan ayah tirinya. Seorang Leader gengster yang sangat mencintai ga...
