"Ko gue daritadi ga ngeliat Derren ya?" tanya Sifa pada Chila di sebelahnya.
Mereka sedang ada di kantin sekolah, ini adalah waktunya jam istirahat dan mereka sedang makan Mie ayam.
"Udah pergi." jawab Chila datar.
Sifa mengernyit, ia bingung tak mengerti. Sedari pagi ia hanya melihat Febri yang mengantarkan Chila ke kelas, lalu Andika yang membelikan Chila minum tadi dan Vino yang ia sempat lihat dengan Fadhila sedang ada di taman sekolah. Ia tak melihat Derren sama sekali padahal niatnya ia akan menjelaskan semuanya hari ini.
Dan lagi, Sikap Chila juga berubah, tak seperti biasanya. Gadis itu biasanya banyak bicara, entah ghibah, bercanda, berbicara yang tidak jelas atau yang lainnya, tapi sedari tadi Chila hanya diam, berbicara juga jika seperlunya saja.
"Pergi kemana?" tanya Sifa dengan meminum jus jeruknya.
"Gatau, gapeduli." balas Chila ikut meminum jus alpukat nya lalu berdiri dan pergi meninggalkan Sifa.
Sifa bingung, ia masih tak paham, pergi? Pergi kemana? Sifa berpikir mungkin hanya pergi ke markas, ke rumah saudaranya atau yang lain, ya mungkin.
••***••
Seminggu kemudian
"Kunti, ko udah seminggu Derren belum masuk? Ujian nasionalnya aja udah selesai. Apa dia ga ikut ujian sekolah? Nanti kalo dia tinggal kelas gimana?" tanya Sifa.
"Gue juga ga ngeliat Rizal seminggu ini, dia gamasuk juga?" lanjut Sifa.
Chila yang sedang membaca novel mengepalkan tangannya kesal, "Gue gatau dan gue gapeduli, gausah tanya-tanya soal mereka." bentak Chila lalu keluar kelas.
Sifa terkejut, dia hanya menanyakan Derren lalu kenapa Chila semarah itu sampai membentaknya, apa dirinya salah bicara?
Seseorang menepuk bahunya dari belakang membuat Sifa menoleh, "Kenapa Van?" tanya Sifa, itu adalah Revan.
"Bos- emm Derren sama Rizal udah pergi, pergi jauh, dan itu alasan kenapa Chila marah kalo ditanya soal mereka. Mereka udah pergi, pergi dari kita semua, ninggalin semuanya." jelas Revan.
TESS
Satu Air mata Sifa menetes, apa maksudnya ini? Apakah ini yang selama ini Derren maksud pergi darinya? Apa ini yang di maksud pergi? Dan derren benar-benar pergi darinya.
"Lo bohong kan Van?" Sifa berharap itu semua tidak benar.
Revan menggeleng lemah, "Mereka udah pergi."
"Apa mereka ga akan balik lagi?" tanya Sifa.
Lagi-lagi Revan menggeleng lemah, ia tidak tau.
Sifa langsung mengambil tasnya dan berlari keluar kelas, seminggu ini ujian nasional telah selesai, dan sekarang hanya menunggu nilai dan raport untuk mengetahui kenaikan kelas maupun kelulusan, mau sekolah atau tidak itu sudah bebas.
Air mata terus turun dari matanya membasahi pipinya, "Pasti bohong, Derren pasti ada di rumahnya, dia cuma gamau ketemu gue karna dia marah ke gue, dia cuma menghindar dari gue, dia gamungkin pergi." gumam Sifa tak karuan.
Sifa berlari lalu menyetop taxi, "Ke alamat****" ucap Sifa, ia akan ke rumah Derren.
••***••
KAMU SEDANG MEMBACA
DERREN'S STORY {END}
Romancehanya sebuah kisah cinta sederhana anak remaja di masa putih abu-abunya. Ini adalah kisah ke bucinan seorang Leader gengster pada gadis biasa, gadis miskin yang hanya hidup dengan ayah tirinya. Seorang Leader gengster yang sangat mencintai ga...
