Berbeda dengan Mikael, sebaliknya Farah bisa menenangkan Alsia dengan mudah. Bulan tanpa alasan, Alsia menyukai suara wanita itu."Ba-bagaimana bisa?" Mikael menatap Farah tak percaya.
"Jangan menatapku seperti itu. Kau memang tidak ahli dalam hal ini, Mikael."
Mikael terdiam, hari ini, di dalam lubuk hati terdalamnya. Mikael Acandra sudah bertekad untuk mempelajari cara menjadi ayah yang baik dan benar.
.
.
.
.
.5 tahun berlalu.
Sekarang Alsia tengah bermain ayunan sendiri di bawah pohon beringin. Rambut hitam yang di kuncir dua ditambah dengan baju berwarna kuning membuat Alsia semakin imut. Mata birunya menatap langit cerah yang berwarna senada.
"Bosan, alur utama dari novel itu masih 19 tahun lagi. Apa yang harus kulakukan agar tidak bosan?" Gumam Alsia sambil menggerakkan ayunan maju-mundur dengan pelan.
"Haruskah aku percepat saja alurnya? Tapi itu menyusahkan."
"Kakak!"
Suara teriakan dari seseorang membuat raut wajah Alsia semakin muram. Seseorang berlari mendekati dirinya.
Alsia menoleh ke belakang, ekspresi wajahnya tidak sepenuhnya berubah.
"Arsa! Apa yang kau lakukan disini?" Alsia bertanya pada adik kembarnya dengan nada datar.
"Tadi aku melihat ada ikan yang unik di kolam! Aku mau tau, apa kakak tau jenis ikan ini?"
Arsa berkata sambil membuat sebuah gambar hewan di tanah mengunakan ranting pohon. Alsia memandang datar gambar hewan itu.
"Apa kau yakin ini ikan, Arsa? Lebih mirip monster menurutku."
Arsa memasang wajah cemberut, "iya, iya, aku tahu gambarku buruk. Jawab saja pertanyaanku tadi."
Gadis kecil berambut hitam itu mencoba memikirkan jawaban tepat yang sekiranya tidak telalu blak-blakan.
"Hmm ... Aku tidak tau, mungkin jika aku melihatnya secara langsung aku bisa tau," ujar Alsia menatap sang adik.
"Kalo begitu ayo kita ke kolam!" Ajak Arsa dengan penuh semangat lalu mengandeng tangan Alsia dan menariknya secara paksa.
Alsia melihat ke arah tangannya yang sedang digandeng.
"Kalo tidak salah ada cara membunuh hanya dengan bergandengan tangan. Sudah lama aku tidak mempraktekkannya," batin Alsia.
Sesampainya di kolam Alsia memandang takjub bayangan wajahnya yang berada di air.
"Woah, aku tetap belum terbiasa dengan wajah imut ini. Mungkin jika aku sudah dewasa, wajah imut ini akan digantikan dengan wajah wanita yang mempesona," batin Alsia mengagumi dirinya sendiri.
"Kak! Itu ikannya!" Arsa berteriak sambil menunjuk sesuatu yang muncul di permukaan kolam.
Alsia memandang sesuatu yang di tunjuk oleh Arsa dengan heran. Ia kemudian tersenyum licik.
"Kurasa itu bukan ikan... Mau ku ambilkan?" Tawar Alsia pada adiknya.
"Benarkah? Tentu aku mau!" Ucap Arsa dengan mata berbinar-binar.
Alsia kemudian menatap ke arah sesuatu yang mengambang di atas kolam tadi. Sesuatu itu berenang mendekati si kembar.
Tangan Alsia sudah bersiap-siap lalu dengan cepat tangan Alsia masuk ke dalam kolam, menahan kepala sesuatu tadi.
"Sudah kuduga, ini bukan ikan... Tapi ular," batin Alsia. Ia langsung mengangkat tangannya ke atas.
Cipratan air mengenai bajunya dan baju adiknya. Tatapan Arsa yang tadi berbinar-binar langsung di gantikan dengan tatapan takut pada si ular.

KAMU SEDANG MEMBACA
Became The Side Character's Older Sister
Fantasy[Vote dulu sebelum membaca] [Dan kalo bisa jangan lupa follow] Karnika, salah satu fans dari antagonis sebuah novel. dia meninggal karna bom bunuh diri. bukannya pergi ke neraka atau surga karnika malah terlahir kembali di dalam novel favoritnya itu...