Beberapa hari setelahnya, Alsia keluar dari kamarnya setelah selesai didandani oleh para pelayan. Entah kenapa belakang ini banyak pelayan yang berlalu lalang.
"Ini membuat kewaspadaanku meningkat."
"Nona muda, tuan besar memanggil anda," seorang pelayan memberikan pesan suara.
Alsia tak menjawab, dia hanya mengangguk kemudian berjalan sendiri menuju kamar sang ayah. Cuaca pagi ini sedikit berawan tapi tidak ada tanda-tanda awan hujan.
Saat melewati lorong panjang dengan jendela besar di salah satu sisi dinding, Alsia melihat beberapa burung bertengger. Ia menghentikan langkahnya.
Dia menatap lekat seorang burung berwarna hijau yang terlihat sedang bersembunyi.
"Kenapa akhir-akhir ini banyak burung di sekitar sini?"
Alsia pun kembali melanjutkan langkahnya.
Tok!
Tok!
Tok!
"Ayah, ini aku."
"Masuklah," suara Mikael yang keras terdengar dari luar ruangan.
Alsia membuka pintu, dia bisa melihat ayahnya yang sedang sibuk dengan tumpukan dokumen di atas meja.
"Kenapa ayah memanggilku?" Tanya Alsia saat dirinya sudah duduk di sofa tunggal.
"Sebentar lagi hari ulang tahunmu bukan? Hadiah apa yang kau inginkan?"
Alsia berfikir sejenak, "ini bisa jadi kesempatan untuk keluar dari mansion."
"Entahlah, aku mau lihat-lihat dulu barang apa saja yang menarik perhatianku."
Alsia melirik sang ayah. Dia cukup kagum dengan kemampuan Mikael yang masih tetap bisa memikirkan dirinya sambil fokus menulis sesuatu pada kertas di meja.
"Kalau ayah sedang sibuk, ayah bisa mengobrol denganku nanti-"
Tak!
Mikael menaruh pena kacanya kemudian menatap Alsia dan tersenyum seduh, "ulang tahunmu dan Arsa 3 hari lagi, sayangnya ayah tidak bisa ikut merayakannya. Maaf, ya."
"Kenapa?"
Mikael menyibakkan rambutnya kebelakang saat beberapa helai rambut terasa menghalangi pandangannya.
"Maaf, Tuan Duke mengundang ayah untuk sebuah acara penting di ibukota. Sebagai balasannya ayah akan memberikan hadiah tambahan setelah pulang. Bagaimana?"
"Aku sih, tidak masalah tapi kalau Arsa, mungkin dia akan kesal pada ayah," jawab Alsia sembari bersandar pada sofa.
Crip!
Crip!
Suara kicauan burung di luar jendela menarik perhatian Alsia. Ia bangkit kemudian berjalan menuju jendela besar yang berada tepat dibelakang meja kerja Mikael.
"Apa sekarang burung-burung mulai bermigrasi, ayah?"
Mikael tak langsung menjawab meski dia sudah tahu kebenarannya. Ia tengah memikirkan jawaban yang cocok sekaligus ingin mengetes Alsia.
"Alsia, apa kau tau sesuatu yang aneh pada burung-burung itu?"
Gadis kecil berambut hitam itu memperhatikan sekawanan burung di luar kemudian kembali menatap sang ayah dan mengangguk.
"Ayah pernah bilang kalau burung hantu adalah hewan malam, tapi di dahan pohon itu ada burung hantu," Alsia menunjuk ke arah salah satu pohon besar.
Mikael tersenyum kecil, "lagi? Temukan keanehan lainnya."

KAMU SEDANG MEMBACA
Became The Side Character's Older Sister
Fantasy[Vote dulu sebelum membaca] [Dan kalo bisa jangan lupa follow] Karnika, salah satu fans dari antagonis sebuah novel. dia meninggal karna bom bunuh diri. bukannya pergi ke neraka atau surga karnika malah terlahir kembali di dalam novel favoritnya itu...