Suara gemuruh pertarungan makin terdengar. Alsia memandang ngeri pada pemandangan di depannya. Banyak bekas serangan benda tajam serta zat asam di mana-mana.
"Raden," panggil Alsia sambil mengguncang tubuh Raden pelan.
Luka dari luar memang bisa disembuhkan oleh kekuatan suci, tapi tidak dengan yang di dalam. Serangan Fino tadi mengandung racun yang cukup kuat.
Namun, Raden sendiri sudah sering memakan tanaman beracun secara tidak langsung karena kecerobohannya. Tubuhnya pun sudah punya kekebalan terhadap racun, meski masih sedikit.
Kesadaran Raden akhirnya kembali, detik berikutnya Manusi serigala itu mengeluarkan beberapa batuk darah. Bukankah berwarna merah, darah yang keluar memiliki warna hitam.
"Sudah merasa lebih baik?" tanya Alsia.
Raden menghirup udara segar dengan rakus. Dia menoleh ke sekitarnya.
"Kita ... Harus pergi, Nona muda."
"Maunya sih begitu, tapi karakter favoritku akan mati jika ditinggal begitu saja melawan anak itu," batin Alsia.
Tap!
Alsia mengedarkan pandangannya, sesaat dia melihat sebuah bayangan hitam berlari melewati dirinya dengan cepat. Bulu kuduk Alsia berdiri, dia merasakan beberapa vampir berada disekitarnya.
"Mungkin karena pemimpin mereka dalam bahaya vampir vampir ini bergegas menolongnya. Kalau begini, lebih baik aku pergi saja."
Gadis itu berdiri. Jika para vampir berkumpul kemari maka sudah jelas pasukan pemburunya juga akan datang.
"Nona muda!"
Suara asing terdengar. Alsia menoleh pelan pada segerombolan ksatria yang mengenakan jubah hitam dengan hiasan berwarna biru serta lambang pasukan pemburu vampir.
"Kalian ..." Alsia memasang wajah seolah-olah terkejut akan kedatangan mereka.
"Anda baik-baik saja?" Salah satu ksatria langsung berlutut di depan Alsia.
Gadis itu mengangguk pelan. Ksatria itu menoleh ke arah temannya kemudian saling mengangguk.
Ksatria itu kembali menatap Alsia, "nona muda, mari ikut saya ke tempat yang lebih aman."
"Bagaimana dengan Listra?" tanya Alsia, "juga bawahan Kertiel. Masalahnya akan jadi rumit jika mereka bertemu dengan pasukan pemburu vampir," sambungnya dalam batin.
"Soal itu, anda tenang saja nona muda. Kamu akan menemukan Listra." Ksatria itu merentangkan tangan, berniat menggendong Alsia dan membawanya pergi.
Alsia melakukan kontak mata pada Raden. Manusia serigala itu langsung mengetahui apa yang Alsia inginkan. Dia mengangguk pelan sebagai balasan.
Gadis itu pun pergi bersama si ksatria menuju penginapan yang telah dipesan Listra sebelumnya. Raden awalnya mengikuti Alsia dari belakang lalu saat ksatria lengah di kabur manuju area pertarungan tadi.
Di tempat penginapan itu Alsia hanya bisa duduk diam di kamarnya, "pasti sebentar lagi ayah akan datang dan membantu Yoriez mengalahkan Fino. Aku harap vampir itu berhasil bertahan hidup."
Dalam kesunyian malam, Alsia memandangi langit hitam tanpa cahaya bulan dengan tatapan kosong.
"Jika dia mati, maka aku perlu menguasai politik kerajaan suci Sloane untuk menepati janjiku pada Orifiel tentang anak-anak keturunan malaikat. Aku bisa menggunakan perjanjian antara keluarga Acandra untuk melancarkan rencana cadangan ini."
Ketukan pintu terdengar, seorang pelayan di penginapan hendak mengantar makanan untuk nona muda itu. Alsia membuka pintu perlahan, perhatian langsung tertuju pada senyuman sang pelayan yang mirip dengan Orifiel.

KAMU SEDANG MEMBACA
Became The Side Character's Older Sister
Fantasy[Vote dulu sebelum membaca] [Dan kalo bisa jangan lupa follow] Karnika, salah satu fans dari antagonis sebuah novel. dia meninggal karna bom bunuh diri. bukannya pergi ke neraka atau surga karnika malah terlahir kembali di dalam novel favoritnya itu...