Dengan diresmikannya Alsia sebagai penerus kepala keluarga Acandra beberapa bangsawan, bahkan, keluarga Kerajaan mulai menunjukkan pergerakan secara terang-terangan. Begitupun dengan rencana Arsa dan Alsia yang mulai berjalan.
Mikael? Dia sibuk melakukan banyak hal tentang pasukan pemburu iblis dan hubungan kerja samanya dengan seluruh bangsawan di wilayah Tenggara. Meski tahu kedua anaknya membuat rencana sendiri, pria itu tidak masalah. Mereka sudah besar dan tahu konsekuensi dari semua tindakan yang keduanya lakukan.
Alsia memandangi setumpuk surat lamaran dari beberapa bangsawan yang jelas adalah orang-orang suruhan. Meski niat mereka terlihat jelas Alsia tetap membaca semua surat itu.
Dia bukannya mau membalas satupun surat. Alsia hanya tertarik dengan kalimat-kalimat gombalan yang dibuat oleh para pelamar itu.
Ketukan pintu ruang kerja Mikael dan Alsia terdengar.
"Masuklah," ujar Alsia.
Kepala pelayan datang dengan membawa nampan berisi surat lainnya.
"Kali ini surat apa lagi?"
"Ini adalah surat dari Duke Orifiel Altalun. Baru saja datang dengan kereta barang."
Mikael menerima surat itu. "Taruh barang-barang pemberian Duke ke gudang."
"Baik, Tuan."
Kepala pelayan pun undur diri. Alsia menatap Mikael selama beberapa saat untuk memperhatikan ekspresi sang ayah.
"Kenapa menatapku? Apa kau khawatir pihak kerajaan mencurigai Orifiel?" tanya Mikael yang masih fokus membaca isi surat.
"Tidak. Toh, Paman Orifiel sendiri yang memutuskan membantu ayah secara terang-terangan."
"Lalu, kau mau apa?"
Alsia tersenyum. Dia sedang memikirkan rangkaian kata macam untuk meminta bantuan dengan rencananya.
Mikael melirik sang putri sekilas kemudian menghela nafas. Dia menaruh kacamata yang sedari tadi ia kenakan ke atas meja.
"Kau butuh bantuan apa dari ayahmu ini?"
"Oh, ayah orang yang peka rupanya."
"Hidup lama dengan seseorang akan membuatmu tahu hal-hal kecil dari orang itu," ujar Mikael.
Tangan kanannya mengangkat cangkir teh yang telah dingin kemudian meneguk beberapa kali.
"Aku ingin ayah menjadi seorang ayah yang pilih kasih."
"Uhuk!"
Ucapan spontan tanpa beban dari Alsia sontak membuat Mikael tersedak air teh. Alsia tersenyum jahat melihat reaksi sang ayah.
"... Apa kau sedang bermusuhan dengan adikmu?"
Alsia menggeleng. "Bukankah ayah dulu pernah menyarankan aku dan Arsa memiliki hubungan buruk. Kami akan berpura-pura bertengkar hebat kemudian ayah akan berpihak padaku dengan begitu pihak lawan akan membujuk Arsa agar berpihak pada mereka."
"Dan kenapa kalian ingin melakukannya?"
"Agar Arsa bisa bertunangan dengan istrinya di masa lalu. Keluarga wanita itu berpihak ah, lebih tepatnya terpaksa berpihak pada lawan. Begitu pertunangan diresmikan, sisanya terserah Arsa."
"Dan bagaimana jika calon menantuku itu menolak?"
"Arsa akan sedikit keras, seperti ayah dulu."
Mikael tersentak. Sebelum ia kembali mengajukan pertanyaan Alsia sudah menjawabnya dengan santai.
"Uras memperlihatkan masa lalu ayah dan ibu padaku. Tapi tenang, aku tidak akan mengajak ayah bertarung atau apapun. Tidak tahu kalau Arsa."
Alsia mengambil cangkir es tehnya lalu menghabiskan dalam sekali teguk kemudian mengambil permen mintz.

KAMU SEDANG MEMBACA
Became The Side Character's Older Sister
Fantasy[Vote dulu sebelum membaca] [Dan kalo bisa jangan lupa follow] Karnika, salah satu fans dari antagonis sebuah novel. dia meninggal karna bom bunuh diri. bukannya pergi ke neraka atau surga karnika malah terlahir kembali di dalam novel favoritnya itu...