Pagi hari, Alsia dan Arsa tengah berada di dalam ruang kerja sang ayah. Mata biru cerah Alsia memperhatikan bagaimana cara Mikael mengerjakan semua dokumen dan berkas yang kelak akan diurus oleh dirinya.
Tak!
Mikael meletakkan penanya.
"Sekarang kau mengerti bukan? Biasanya dokumen harian berisi tentang laporan dari para ksatria yang berpatroli. Jika ada hal mencurigakan kau bisa menugaskan ksatria lain untuk memeriksanya."
Alsia mengangguk malas. Sementara Arsa mencatat poin-poin penting di buku catatannya. Selama pembelajaran, hanya Arsa yang kerap melontarkan pertanyaan.
Pertanyaan pertama yang keluar dari mulut Alsia membuat Mikael mengepalkan tangannya.
"Kepalaku sakit. Bisakah kita undur kelas ini untuk besok?"
"Bisa saja. Jika kau sudah paham dan bisa menjelaskan kembali apa yang baru ayah ajarkan."
"Intinya saja ya."
Mikael mengangguk. Alsia mengambil nafas dalam kemudian mulai merangkai dan mengucapkan kata demi kata terkait pembelajarannya hari ini.
Penjelasan Alsia bagus meski agak jauh dari kata sempurna.
"Boleh aku pergi sekarang?"
"Ya."
Alsia bangkit dan langsung melangkah pergi menuju dapur. Berfikir selalu menguras energi.
"Nona muda? Apa yang anda-"
Seorang pelayan di dapur berhenti bicara saat Alsia menaruh jari telunjuknya di depan bibirnya. Ada sekitar 5 pelayan dan 2 koki di sini.
"Lanjutkan tugas kalian. Aku cuman mau mengambil cemilan sendiri."
.
.
.Hari di mana Alsia ikut mengatar pihak utusan kerajaan suci menuju perbatasan di timur pun tiba. Alsia yang baru pertama kali bangun sepagi ini mencoba untuk tetap membuka matanya. Perjalanan kali ini akan memakan waktu setengah hari dan karena itu Raden terpaksa ikut menemani si kembar.
Di dalam kereta kuda Alsia duduk di samping ayahnya. Dia butuh bahu lebar untuk menjadi sandaran.
"Ayah, apa kita langsung mengantar mereka ke gerbang perbatasan?"
Arsa yang duduk di sebrang bertanya setelah memperhatikan pemandangan di luar jendela.
"Kita hanya akan mengantar mereka ke desa Tan."
Desa Tan adalah desa dengan lokasi paling dekat dengan gerbang perbatasan, itu membuat desa ini hanya ditinggali oleh kurang lebih 10 kepala keluarga. Meski perang telah berakhir 10 tahun lalu, masih banyak penduduk yang merasa waspada.
"Desa Tan? Itu mengingatkanku pada rumus Sin Cos Tan," batin Alsia.
Mengingat kembali, wilayah tenggara adalah wilayah yang kerap diabaikan oleh kerajaan.
.
.
.Sesampainya di desa itu Mikael mulai berbicara dengan utusan kerajaan suci dan beberapa penduduk sekitar. Alsia tak sengaja bertatap muka dengan Alfar.
Alsia tidak menunggu anak itu berbicara dia langsung berbalik dan pergi ke suatu tempat. Arsa mengikuti.
"Kak, kau tidak mau bicara dengannya?"
"Membicarakan apa?" Alsia balik bertanya dengan nada ketus.
Arsa mengeluarkan helaan nafas panjang. Meski sudah terbiasa dengan sifat Alsia yang terkesan judes Arsa masih merasa tidak enak pada anak yang bernama Alfar itu.

KAMU SEDANG MEMBACA
Became The Side Character's Older Sister
Fantasy[Vote dulu sebelum membaca] [Dan kalo bisa jangan lupa follow] Karnika, salah satu fans dari antagonis sebuah novel. dia meninggal karna bom bunuh diri. bukannya pergi ke neraka atau surga karnika malah terlahir kembali di dalam novel favoritnya itu...