44. reuni

458 30 0
                                    

Di daerah hamparan rumput hijau setinggi mata kaki. Terlihat seekor pengendara kuda berjubah yang tengah memacu kudanya dengan kecepatan ekstrim. Itu Alsia. Rafhael duduk di depannya sambil mencekram tali pengaman dengan erat.

Butuh kurang lebih 15 menit bagi Alsia untuk sampai di tempat tujuannya. Begitu sampai Rafhael langsung melompat turun dan mengeluarkan sebagian isi perutnya. Ini kali pertama baginya merasakan perjalanan ekstrim Alsia.

Kedua sampai di sebuah desa kecil di wilayah perbatasan Selatan dan ibu kota. Alsia menatap sebuah papan berisikan nama desa itu. Perhatiannya berfokus pada sebuah lambang ular emas yang tertusuk pedang di ujung papan. Setelah menunggu kondisi Rafhael membaik, Alsia pun menuntun kudanya memasuki desa.

Ia berhenti di depan sebuah toko obat-obatan yang memiliki lambang ular emas tertusuk pedang di jendela toko.

Alsia mengikat kudanya di depan toko lalu masuk bersama Rafhael. Di dalam toko dirinya langsung di sambut tatapan hangat dari si pemilik toko. Sebuah senyuman yang sangat Alsia ketahui.

"Yo, aku menemukan orang yang ingin kau lindungi ini."

Si pemilik toko tak bisa menahan rasa terkejutnya kala matanya bertatapan dengan bola mata berwarna biru cerah bak langit cerah di siang hari milik Rafhael. Detik berikutnya si pemilik toko kembali memunculkan senyuman tenangnya.

Sorot mata yang dipenuhi kasih sayang nan kehangatan itu membuat sebutir air mata Rafhael trun karena mengingat orang tersayangnya.

"Ayah," gumam rafhael yang dapat didengar Alsia.

Tangan Alsia terangkat, mengelus rambut Rafhael dengan lembut.

"Tuliskan koordinatmu yang sekarang," pintah Alsia.

"Tidak. Kau tidak perlu repot-repot mengunjungiku lagi. Beberapa hari lalu aku sudah berdiskusi dengan Kertiel. Supaya tidak mengatakannya dua kali aku akan menemui ayahmu secara langsung dan membahas beberapa hal."

Tangan si pemilik toko mengambil selembar kertas kosong dan mulai menekuknya hinga membentu sesuatu.

"Sulit menemui ayahku bagi seorang buronan," ucap Alsia.

Si pemilik toko yang tengah dirasuki Orifiel itu tertawa kecil. "Tenang saja, aku akan menemuinya sebagai Orifiel Altalun, bukan buronan kerajaan."

Alsia menaikkan alisnya bingung. Orifiel berjalan menuju Alsia dan Rafhael di sebelahnya sembari membawa origami kertas.

"Tenang saja, kau akan segera tahu. Tunggulah sekitar tiga minggu lagi dan sampai saat itu, tolong jaga anak ini, ya."

Orifiel berjongkok. Menyamakan tinggi dengan anak laki-laki berambut abu-abu.

"Siapa namamu, nak?"

"Rafhael Andhira, nama panggilanku Rapa!"

Orifiel tersenyum manis. "Baiklah, Rapa. Senang bertemu denganmu. Kita akan bertemu lagi nanti."

Orifiel memberikan sebuah origami berbentuk bunga itu pada Rafhael. "Tapi, kita akan bertemu dalam wujud asliku. Jaga kesehatanmu, ya."

"Oh, baiklah." Rafhael menerima origami itu dengan senyuman khas anak-anak.

Sesudahnya Alsia kembali ke tempat Raden dan Arputih berada. Di sana juga ada ketua regu 18 yang telah menyiapkan tempat untuk Alsia. Setelah menginap semalam lagi Alsia pun pergi menuju kediaman Acandra di ibu kota.

Kedatangannya bersama Rafhael dan Arputih tentunya membuat Alsia menerima tatapan penuh tanda tanya dari sang ayah dan ibunya.

"Ada apa ini, Alsia? Apa kau mengikuti jejak ayahmu yang mengambil anak jalanan?" tanya Farah.

Became The Side Character's Older SisterTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang