Mereka bertiga tengah berteduh di bawah sebuah pohon rindang. Rintik hujan kian mereda namun itu tidak mengurangi hawa dingin yang menusuk kulit.
Alsia, dengan tangan menopang dagu menatap sang adik yang masih berusaha menyembuhkan luka Raden.
"Sudahlah Arsa, berhenti membuang-buang energimu itu."
Percuma, dari tadi Arsa tidak mendengarkan satupun ucapan Alsia.
"Dasar keras kepala," Alsia melayangkan pukulan pelan pada kepala Arsa.
Buk!
Itu membuat sang empu tersadar dari lamunannya. Arsa menatap sang kakak dengan mata berkaca-kaca.
"Beristirahatlah, aku tidak ingin mengurus 2 orang yang pingsan nanti."
Dia berfikir sejenak kemudian menghentikan proses penyembuhannya. Suara nafasnya berantakan dan itu mengundang rasa kasihan Alsia. Gadis kecil itu bangkit, hujan masih rintik dan sebentar lagi hari akan malam.
"Mau kemana?"
"Aku akan mencari sesuatu untuk di makan. Kau istirahat saja di sini!"
Segera Alsia langsung melangkah pergi, meninggalkan Arsa yang tak sempat mengutarakan isi pikirannya.
Dalam hal mencari makanan Alsia cukup pilih-pilih. Sebenarnya dia bisa saja membawakan beberapa jenis rumput yang bisa dikonsumsi namun sesuatu di dalam hatinya mengatakan untuk mencari bahan makanan yang mengenyangkan, seperti buah.
Setelah berkeliling, Alsia menemukan pohon buah sayangnya buah pohon itu terlalu kecil dan pastinya tidak akan mengenyangkan. Karena itulah Alsia juga ikut membawa tanaman obat yang sekiranya bisa di makan mentah sebagai pengganjal perut.
Alsia bisa melihat sang adik dari kejauhan. Dia mempercepat langkahnya.
"Nih!"
Arsa berkedip cepat ketika melihat semua yang di bawa Alsia.
"Darimana kakak tahu tumbuhan apa saja yang bisa di makan?"
"Dari guru dan buku tentunya. Makanlah."
Alsia duduk di samping Arsa.
Rintik hujan sudah reda sepenuhnya, bersamaan dengan hilangnya sumber penerangan dan datangnya kegelapan malam.
Meski begitu, mata Alsia sudah membiasakan diri dengan kegelapan. Dia masih bisa melihat sekitar meski samar.
"Hei, Arsa. Apa kau tahu cara membedakan Utara dan Selatan?" Alsia bertanya.
" ... Tahu, berdirilah menghadap arah matahari terbit. Sisi kiri adalah Utara dan sisi kanan adalah selatan."
Arsa mengambil beberapa buah dan memakannya. Alsia melakukan hal yang sama.
"Ah, begitu ya ... Kupikir harus menemukan bintang Utara atau semacamnya," tutur Alsia sambil menatap langit.
"... Itu juga bisa," Arsa ikut menatap langit, "tapi langit malam tidak selalu cerah bukan?"
"Kau benar."
Tubuh serigala yang tengah terbaring tak berdaya di dekat mereka mulai bergerak. Yang pertama menyadari itu adalah Arsa.
"Ugh!"
"Raden, jangan bergerak dulu. Lukamu belum tertutup sepenuhnya," ucap Arsa dengan nada khawatir.
Alsia menatap datar pada Raden yang tidak mempedulikan ucapan Arsa dan masih tetap berusaha untuk bangun
"Oi!"
Tuk!
Dengan satu lemparan buah dari Alsia, Raden kembali tumbang. Arsa makin panik.

KAMU SEDANG MEMBACA
Became The Side Character's Older Sister
Fantasy[Vote dulu sebelum membaca] [Dan kalo bisa jangan lupa follow] Karnika, salah satu fans dari antagonis sebuah novel. dia meninggal karna bom bunuh diri. bukannya pergi ke neraka atau surga karnika malah terlahir kembali di dalam novel favoritnya itu...