18. bertemu (1)

2.1K 176 0
                                        

[salah satu cara untuk mengaktifkan kekuatan suci adalah dengan kebaikan. Kebaikan yang berasal dari hati yang tulus.]

Alsia merasa kerepotan dengan kalimat yang tertera di buku berjudul 'kekuatan suci'. Dia mengernyit sebal.

Kebaikan, itu artinya dia hanya bisa mengaktifkan kekuatan suci untuk menolong orang lain.

"Kenapa kekuatan suci tidak boleh digunakan untuk diri sendiri?" Alsia bertanya pada siapapun yang mendengarnya.

"Harus ada syarat tertentu agar seseorang mendapatkan kekuatan, kakak. Dunia tak segampang yang kakak pikiran," Arsa menjawab sambil tetap membaca buku itu.

Dia dan Alsia menduduki sebuah batang pohon yang tumbang. Alsia menatap langit yang mulai dipenuhi oleh awan-awan gelap.

Hawa dingin serta aroma hujan mulai tercium oleh Raden.

"Nona muda, tuan muda, sepertinya kita harus segera berteduh ..."

"Tunggu sebentar, aku hampir mencapai bab 12," Arsa masih fokus pada bukunya.

"Aku sudah nyaman dengan batang pohon ini," kata Alsia cuek. Tangan kirinya memainkan daun-daun yang ada.

"Kenapa kau tidak ambilkan payung saja?"

Meski yang keluar dari mulut Alsia terdengar seperti pertanyaan, itu sebenarnya perintah. Raden orang yang peka, dia juga tahu posisinya.

"Baiklah," Raden menjawab dengan nada datar.

Anak laki-laki berambut coklat gelap itu berjalan menuju kereta kuda. Alsia mengalihkan pandangannya pada lereng yang tak jauh dari lokasinya duduk.

Ia berdiri kemudian mendekati lereng itu. Sebuah pagar kayu yang usang menjadi pemisah antara lereng dan hutan.

"Cukup dalam ya ... Jika aku melompat ke bawah seberapa banyak tulangku yang akan patah?"

Mata biru langit itu menyipit kala melihat sesuatu yang bergerak di bawah lereng.

"Apa itu hewan buas? Atau sesuatu yang lain?"

Alsia menundukkan tubuhnya ke depan. Pegangan tangan Alsia pada pagar kayu sedikit melemah.

Krak!

Pagar kayu itu patah di bagian bawah. Tubuh Alsia hampir saja terjatuh ke dalam lereng jika saja Raden dan Arsa terlambat menarik dirinya.

"Kakak! Itu berbahaya!" Arsa berteriak khawatir.

"Apa kau tidak takut pada hal-hal yang berbahaya seperti ini?" Raden bertanya dengan alis yang berkerut.

Alsia menatap keduanya dengan senyuman santai, "aku tidak takut mati."

Bagi Raden dan Arsa yang mendengar itu, mereka sama-sama beranggapan jika Alsia memiliki keberanian yang besar. Namun, bagi Alsia sendiri, kata-kata seperti itu hanyalah refleks kecil yang sudah tertanam dengan baik dalam dirinya.

Gadis kecil itu berdiri, membersihkan pakaian dari debu kemudian memperbaiki ikat rambutnya.

"Kita harus segera kembali," tutur Raden yang merasakan setetes air hujan di hidungnya.

Arsa mengandeng tangan sang kakak. Ketiganya berjalan menuju tempat peristirahatan. Raden memimpin di depan.

Insting manusia serigala itu cukup hebat, di tambah dengan beberapa pengetahuan bertahan hidup yang dipelajari dari buku perpustakaan membuat Raden bisa mengetahui bahaya apa yang akan datang.

Beberapa untaian rambut yang berdiri, rasa besi di mulut, serta suara gemuruh. Raden tahu akan datangnya petir. Dia segera berbalik dan mendorong Arsa dan Alsia.

Became The Side Character's Older SisterCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang