29. peran (4)

1.5K 155 2
                                    

Setelah tiga hari berlibur di ibukota Alsia kembali ke kediaman Acandra di wilayah Tenggara. Gadis itu disambut dengan pelukan hangat dari sang ibu serta salam hormat dari para pelayan.

"Bagaimana liburanmu, Alsia?"

"Itu menyenangkan," balas Alsia membiarkan sang ibu mencium pipinya.

Begitu sambutan singkat selesai Alsi berjalan menuju kamarnya. Di lorong dia bertemu dengan Arsa.

Dengan senyuman manis Arsa berkata, "selamat datang di rumah. Maaf, aku baru selesai dengan urusanku."

"Tidak masalah," Alsia merentangkan tangan.

Sebuah pelukan hangat kembali terjadi.

"Omong-omong, ada sesuatu yang ingin aku bicarakan. Kapan kakak ada waktu?"

Alsia berfikir sebentar, dia harus segera bertemu dengan bawahan Orifiel dan memberikan mereka perintah.

"Sekarang," jawab Alsia singkat, "kau ingin membicarakan apa?"

"Hmm ... lorong ini bukan tempat yang cocok. Mari ke ruanganku."

Sejak si kembar menginjak usia 10 tahun sang ayah telah memberikan sepasang ruangan khusus yang hanya bisa dimasuki oleh si kembar. Ruangan itu bisa Alsia hias sesuka hatinya, takkan ada pelayan yang akan membersihkan kamar itu bila tak di beri ijin.

Ruangan pribadi Arsa seperti ruangan biasa, hanya ada sofa panjang, rak buku, kasur kecil, dan lain-lain.

Alsia duduk di sofa panjang kemudian bersandar.

"Jadi yang ingin aku bicarakan adalah soal posisi penerus. Aku ingin memberikan beberapa saran pada kakak."

Alsia masih diam, menunggu Arsa selesai berbicara.

"Kakak, tolong jangan anggap remeh nyawa bawahanmu, jangan juga anggap mereka mainan yang jika sudah membosankan bisa dibuang. Kakak harus menganggap mereka seperti keluarga."

Arsa selesai berbicara. Dari matanya jelas Arsa khawatir jika sang kakak sewaktu-waktu akan dikhianati oleh bawahannya sendiri atau yang lebih parah, Alsia bisa saja jadi tiran kejam.

Raut wajah Alsia sendiri masih datar. Dia kemudian menghela nafas berat.

"Aku bisa mengikuti saran pertama dan keduamu, Arsa, tapi tidak dengan saranmu yang ketiga. Bawahan adalah bawahan, sulit bagiku menganggap seseorang yang awalnya berada di bawahku sebagai keluarga. Kalau teman atau sahabat, mungkin masih bisa."

Arsa mengangguk singkat, dia juga tak bisa memaksakan sarannya agar diikuti Alsia. Secara perlahan Alsia bisa mencium aroma wewangian. Ini aroma yang sama dengan yang perna ia cium di kamar tidur Arsa.

"Hei, Arsa," Alsia sedikit menunduk, menatap pola pada meja, "jangan kecewa dengan ucapanku tadi. Aku bukan orang yang sebaik itu."

Gadis itu berdiri dan berjalan keluar dari ruangan pribadi sang adik. Wajah Alsia masih tidak menampakkan emosi apapun. Namun meski begitu dia tetap menyimpan kata-kata Arsa dalam pikirannya.

#
#
#

Tiga hari setelahnya Alsia memutuskan untuk pergi menemui bawahan Orifiel. Alsia hanya meninggalkan pesan pada pelayan jika dirinya hendak pergi sebentar menuju desa. Gadis itu berangkat dengan kereta kuda ditemani Raden dan Listra.

Hanya kesunyian yang ada di sepanjang perjalanan dan Alsia menyukai itu.

"Hei Listra," panggil Alsia.

"Ya, Nona muda?"

"Saat kita pulang sampaikan pada ayah, kita pulang terlambat karena ada serangan vampir. Kalau perlu kirimkan pada burung merpati jika aku harus menginap semalam di sebuah penginapan di pinggir desa."

Became The Side Character's Older SisterTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang