Ada sebuah sambutan kecil yang Alsia dapatkan begitu sampai di mansion berupa tatapan tajam serta aura penuh intimidasi dari sang ayah, Mikael. Beberapa ksatria yang berdiri di belakang Alsia bergidik ngeri dan menundukkan pandangannya meski mereka tau mereka tak salah.
Alsia yang melihat sambutan sang ayah hanya bisa tersenyum kecut.
"Selamat pagi, ayah."
"Matahari sudah terlalu tinggi, Alsia Acandra," sela Mikael dengan urat kekesalan di lehernya.
"Oh?" Alsia menatap ke arah matahari, "kurasa ayah benar. Selamat siang kalau begitu," balas Alsia sambil tersenyum santai.
Mikael menghembuskan nafas panjang kemudian memijat dahinya. "Sebenarnya apa yang membuatmu begitu betah tinggal di ibukota?"
Alsia berjalan mendekat ke arah sang ayah lalu merentangkan tangan. Meminta sebuah pelukan sambutan. Mikael pun memenuhi permintaan sang putri.
"Ayah pernah bilang bukan, selalu awasi musuh lebih dekat dari kita mengawasi rekan kita."
Pelukan sambutan yang singkat itu pun selesai. Mikael pun kembali teringat dengan ucapannya itu lalu mengerutkan dahinya.
Pria berambut biru gelap itu mengangguk pelan, "ya, itu benar."
Sebuah sentilan dahi didapatkan Alsia. Perempuan itu meringis sedikit sambil merintih sakit.
"Meski begitu, bukan berarti kau bisa meninggalkan rumah dengan sebuah surat berisikan lima kata saja, Alsia. Lain kali tinggalkan pesan yang lebih jelas atau jika kau terlalu malas langsung bicarakan di hadapanku."
Alsia hanya bisa nyengir mendengar nasihat sang ayah. Keduanya pun masuk bersama kala sinar matahari makin menyengat.
Sebelum pergi berguling-guling di ruangannya, Alsia terlebih dulu memberikan Mikael sebuah dokumen kegiatan di kediaman Acandra yang ada di ibukota. Mikael mengenakan kacamatanya. Membaca dokumen itu dengan cepat lalu melontarkan sebuah pertanyaan.
"Kau tidak memecat semua mata-mata kerajaan?"
"Begitulah," jawab Alsia santai lalu melemparkan dirinya ke sofa panjang, "jika di pecat semua kita akan kekurangan pelayan dan pihak kerajaan akan kembali mengirimkan mata-mata terus menerus. Aku muak jika harus bertemu dengan wajah-wajah baru lagi."
Mikael melanjutkan membaca dokumen. Beberapa menit kemudian pertanyaan kedua pun muncul.
"Ayah dengar kau menemukan bibit unggul di kawasan kumuh. Apa kau yakin akan merawatnya? Biasanya bibit unggul yang telah terkontaminasi racun hanya akan menjadi bibit busuk."
"Tidak apa, toh, menghabiskan uang untuk hal yang tidak berguna juga merupakan salah satu kebiasaan nona-nona bangsawan."
Alsia meminum teh dingin dalam beberapa tegukan lalu memasukan satu buah macaron dan langsung berdiri. Melihat putrinya hendak pergi Mikael membenarkan posisi kacamatanya.
"Hanya karena Arsa sudah memiliki banyak bawahan kau tidak perlu terburu-buru memperbanyak bawahanmu juga, Alsia. Ini adalah saranku sebagai ayahmu."
Sebelum membalas perkataan sang ayah, Alsia terlebih dulu menelan macaron di mulutnya kemudian menatap sang ayah.
"Apa aku terlihat terburu-buru? Lagi pula cepat atau lambat bawahan ayah juga akan jadi bawahanku."
Alsia melambaikan tangan kemudian keluar dari ruangan Mikael. Melihat sosok putrinya yang menjauh membuat Mikael memiringkan kepalanya.
"Apa dia sekarang benar-benar ingin menjadi penerus keluarga Acandra?"
.
.
.Langkah kaki Alsia mengantar sang empu menuju ruangannya. Namun di tengah-tengah perjalanan dia mendengar suara dari taman belakang. Alsia melihat sang kembaran tengah berkumpul bersama beberapa orang yang wajahnya cukup familiar.

KAMU SEDANG MEMBACA
Became The Side Character's Older Sister
Fantasy[Vote dulu sebelum membaca] [Dan kalo bisa jangan lupa follow] Karnika, salah satu fans dari antagonis sebuah novel. dia meninggal karna bom bunuh diri. bukannya pergi ke neraka atau surga karnika malah terlahir kembali di dalam novel favoritnya itu...