46. cekcok

529 35 0
                                        

Mata biru cerah bak langit di siang hari itu bertatapan dengan mata abu-abu keruh milik Ozkier. Pisau kecil yang berada di leher Alsia membut sang empu merasa geli. Alsia tertawa kecil.

"Kau perempuan yang tidak tau takut, ya," ucap Ozkier.

Alsia kembali memasang wajah santai. "Berhenti menatap mataku dan menjauhlah jika kau ingin mengetahui caraku mempengaruhi dirimu."

Dahi Ozkier berkerut. Dia pun menuruti ucapan Alsia namun tangannya masih menodongkan pisau ke leher Alsia.

Detik berikutnya pria itu tersadar. Untuk apa dia menuruti ucapan Alsia. Ini seberti bukan dirinya saja.

"Apa yang telah kau lakukan padaku, Alsia Acandra?" tanyannya dengan sorot mata tajam.

"Apa yang akan aku dapat bila memberitahu informasi itu padamu?" Alsia balik betanya.

Urat kekesalan muncul di wajah Ozkier. Melihar raut wajah Ozkier yang sepertinya hendak meledak itu akhirnya Alsia mengangkat tangan.

"Baiklah-baiklah, akan aku beritahu."

Alsia mengeluarkan sebuah kalung dari sakunya dan memperlihatkan batu berwarna abu-abu di kalung itu pada Ozkier.

"Ini permata langit. Sebuah batu yang memiliki kekuatan tersembunyi. Salah satunya adalah membuat seseorang bisa mengatakan isi hatinya tanpa beban."

"Lalu?"

"Adikmu meminta bantuanku agar perasaan benci tidak membutakan matamu."

Alis Ozkier menajam. "Aku tidak butuh bantuanmu!"

"Aku juga tidak ingin membantumu," balas Alsia cepat, "sejujurnya jika bukan karena Yoriez sudah kubiarkan kau menjadi orang sesat seperti putra mahkota."

Tangan Alsia terangkat. Menepis pelan tangan yang mengarahkan pisau pada lehernya itu.

"Kau tahu soal berita hilangnya beberapa putri bangsawaan. Putra mahkota-lah yang membunuh kemudian meminum darah mereka. Kata Arsa tindakannya itu merupakan salah satu cara mendapatkan kekuatan melebihi manusia biasa, tertulis di buku Desdemona."

Angin malam berhembus. Bulan yang berada tepat di belakang Alsia memancarkan cahaya hingga membuat rambut hitamnya sedikit bersinar.

"Hatimu yang tertutup itu akan membuatmu memilih jalan yang tidak bertanggung jawab, Ozkier Kusuma," ucap Alsia dengan nada dingin.

Perempuan itu pun melangkah pergi meninggalkan Ozkier yang diam mematung.

#
#
#

Esok paginya, sebelum Alsia pergi bersama keluarganya ke tempat rapat, ia meminta Arsa memberitahu sang ayah jika dia akan datang terlambat.

"Kau ingin mengajak anak itu?" tanya Arsa dengan tatapan heran. Dia bisa menebak isi pikiran Alsia.

"Iya, kau akan tahu alasannya nanti."

Alsia menepuk bahu Arsa pelan kamudian pergi mengikuti pelayan yang akan menuntunya ke kamar Rafhael dan Arputih.

"Sepertinya kakak sudah lebih dulu kenal dengan Duke," gumam Arsa kemudian menuju ke ruang rapat.

Di depan ruang rapat Arsa bisa melihat sang ibu menunggu kedatangannya. Sebelum Farah sempat bertanya, Arsa sudah lebih dulu memeritahu tentang keterlambatan Alsia.

"Di mana ayah?"

"Dia sedang berbicara empat mata dengan Tuan Duke. Mungkin sebentar lagi mereka akan-"

Omongan Farah terhenti karena suara keras dari dalam ruang rapat. Segera ksatria penjaga langsung membuka lebar pintu. Kedua melihat Mikael tengah menodongkan pedang ke arah leher Duke.

Became The Side Character's Older SisterCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang