16. utusan (2)

2K 187 4
                                    

"Mereka akan tinggal di sini selama 3 hari?" Alsia kembali menanyakan hal yang baru saja ia dengar dengan wajah kesal.

Metilda mengangguk kecil. Alsia mendengus. Selang beberapa saat ketukan pintu terdengar. Listra mengatakan jika Tuan Count ingin berbicara setelah makan malam.

Raut wajah Alsia menjadi makin buruk.

"Metilda, aku mau makan malam dikamar."

Metilda mengangguk patuh dan melangkah pergi. Alsia memperhatikan tupai peliharaannya, Hermonso yang tengah tertidur pulas.

"Sekarang ayah pasti tahu jika aku sudah mengetahui fakta jika keluarga Acandra adalah keluarga pemimpin pemburu vampir. Cepat atau lambat ayah akan mengajariku hal itu. Senjata serta teknik bertarung rahasia keluarga Acandra."

Alsia memijat keningnya, "aku ingin cepat-cepat bertemu dengan antagonis utama."

Setiap hari memori Alsia tentang kehidupan lamanya mulai pudar. Alsia tidak mempermasalahkan hal itu, dia akan sadar jika sewaktu-waktu dirinya melupakan sesuatu yang penting.

...

"Kau sudah mengetahuinya bukan, Alsia?"

Mikael bertanya sambil menghadap rak buku. Alsia menatap punggung sang ayah dengan wajah datar.

"Tahu apa? Soal ramalan yang mengatakan jika keluarga kita di takdirkan untuk membunuh raja vampir? Atau soal teman bermainku yang ternyata manusia serigala?"

Mikael memang terkejut mendengar pertanyaan Alsia yang terakhir namun dia bisa menetralkan raut wajahnya. Tangan Mikael mengambil sebuah buku memberikannya pada Alsia.

"Bisa tidak besok saja aku membacanya?"

"Asalkan kau membaca sampai akhir." Mikael duduk di hadapan Alsia.

"Kau punya pertanyaan?"

Alsia mengangguk, "kenapa ayah membiarkan mereka menginap? Dari yang kudengar dari para pelayan biasanya ayah akan langsung mengusir seseorang jika sudah bersikap kurang ajar."

"Sudah kulakukan. Tapi ibumu menyuruh mereka untuk menginap selama seminggu, namun begitu mendengar perilaku bawahannya, dia sepertinya malu dan berniat pergi setelah tiga hari."

Berkat ikatan batin antara ayah dan anak, Alsia langsung tahu siapa yang dimaksud oleh sang ayah. Alsia mulai memperhatikan buku yang diberikan ayahnya.

"Ini buku apa?"

"Buku harian dari kepala kaluarga Acandra terdahulu. Jika kau membacanya sampai habis kau akan tahu dia orang seperti apa."

Alsia mulai membuka halaman pertama buku. Dia agak penasaran dengan isinya. Di halaman petama raut wajah Alsia masih biasa saja. Di pertengan halaman Alsia mengeryit sebal. Begitu sampai di halaman terakhir Alsia tidak bisa menyembunyikan rasa terkejutnya.

Mikael tersenyum cerah, dia menikmati perubahan emosi putri kecilnya.

"Bagaimana menurutmu, Alsia?"

"Dia licik."

Mikael tertawa kecil, "Ayah juga mengatakan itu saat pertama kali membacanya."

Pada halaman pertama isi buku itu hanya memperlihatkan keseharian dari si pemilik buku. Di pertengahan halaman si pemilik buku dengan senang hati memberantas para vampir.

Kerajaan sloane dan kepala keluarga Acandra terdahulu pun membuat sebuah perjanjian.

Sepintas kepala keluarga Acandra terdahulu terlihat seperti orang bodoh yang mudah ditipu. Yang membuat Alsia terkejut adalah, fakta jika sebenarnya keluarga Acandra memiliki hak penuh atas kerajaan suci Sloane melalui kesepakatan yang sudah dibuat.

Became The Side Character's Older SisterTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang