39. upacara kedewasaan (3)

625 43 0
                                        

Beberapa menit setelah matahari terbenam, kereta kuda keluarga Count Acandra pun sampai di istana kerajaan. Arsa turun lebih dulu dan mengulurkan tangan pada sang kakak, sesuai dengan tata krama.

Mereka berdua telah mengenakan sebuah topeng dengan model dan warna hitam yang sama. Hanya saja milik Alsia diberi beberapa hiasan kecil.

Sesaat sebelum memasuki aula istana Arsa telah menyiapkan mentalnya. Dengan mengenakan topeng ini ia mengira akan menjadi perhatian para bangsawan. Akan tetapi, dugaannya ternyata salah.

Mata Arsa membesar kala melihat para bangsawan lain yang juga menggunakan topeng.

"Kenapa kau terkejut, Arsa? Kau tahu kan, beberapa anggota keluarga kerajaan tidak begitu menyukai keluarga Acandra," bisik perempuan bertopeng hitam di sebelahnya.

"Mereka memalsukan undangan," gumam Arsa yang dapat didengar Alsia.

"Lebih tepatnya mereka sengaja tidak memberitahu. Setelah upacara kedewasaan ada sebuah acara lelang. Sudah menjadi kebiasaan kerajaan Zamri jikalau semua bangsawan wajib menggunakan topeng jika ingin mengikuti acara lelang."

Alsia menunjukan senyuman kesal diam-diam. Sorot matanya menjadi tajam. "Menjengkelkan," pikirnya.

Tangan Alsia menarik sang adik ke salah satu sudut ruangan. Tempat di mana sebuah benda bernama kursi berada. Jujur, dari dalam lubuk hatinya Alsia khawatir harus berdiri selama acara berlangsung.

Ia duduk di sebuah sofa panjang.

Arsa tetap berdiri sembari mengedarkan pandangannya ke seluruh aula. Alsia yang mengetahui itu pun bertanya.

"Kau mau mencarinya?"

"Tidak juga."

"Jangan membohongi dirimu sendiri. Carilah dia setelah kita berdansa satu lagu."

Setelah beberapa saat menunggu. Si pembuat acara, putra mahkota pun muncul dengan gagah di atas tangga mengenakan topeng emas bersama pangeran kedua dan ketiga yang berada di belakangnya.

Tatapan Alsia tertuju pada pangeran kedua. Pria berambut merah lurus dengan mata hitam itu memiliki beberapa rumor buruk dan cukup terkenal di dunia bawah. Alsia bediri dan melakukan sambutan kedatangan untuk anak-anak raja dengan setengah hati bersama Arsa.

Setelah ucapan pembuka dan pidato dari sang putra mahkota, alunan musik mulai terdengar. Pesta dansa topeng pun dimulai.

"Arsa, kakimu kuat kan?" tanya Alsia dengan nada rendah.

Arsa tersentak. Dia memahami maksud dari pertanyaan Alsia.

"Tolong jangan injak kakiku yang berharga, kakakku sayang."

Alsia terkekeh pelan lalu kembali fokus.

Berbeda dengan pertanyaannya yang membuat Arsa was-was, putri pertama dari keluarga Acandra itu malah menari dengan anggun dan hebat layaknya seorang ahli. Arsa tersenyum tipis dan mengikuti alur yang diikuti sang kakak.

Cahaya lampu yang tergantung di langit-langit menambahkan kesan mewah pada tarian keduanya. Beberapa bangsawan menatap si kembar dengan tatapan takjub dan terpesona. Sedangkan para bangsawan yang tidak menyukai keluarga Acandra memiliki tatapan serius tertuju pada aksesoris di pakaian Alsia.

Si kembar bisa merasakan tatapan dari semua orang. Untuk saat ini selagi sang kakak tak melakukan pergerak, dia akan tetap diam.

Musik pertama pun selesai.

Kini Alsia akan melakukan rencananya. Mencicipi hasil kerja keras koki istana kerajaan.

.
.
.

"Akhirnya aku menemukanmu, Nona Alsia."

Became The Side Character's Older SisterCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang