#
#
#
#
Bagi para prajurit dan ksatria keluarga Acandra, perjalan melewati wilayah selatan dipenuhi oleh rasa kewaspadaan. Pengecualian untuk Alsia. Perempuan itu tenang-tenang saja sepanjang perjalanan.
Sesekali dia sampai ketiduran di dalam kereta kuda.
Sesampainya di wilayah selatan beberapa ksatria berganti dengan ksatria lain yang menjaga perbatasan. Alsia melihat sekitar, sepanjang perjalanan benar-benar sepi hanya tersisa beberapa orang saja yang terlihat sedang mengemasi barang-barangnya.
"Ah, ini baru keheningan sebelum badai. Suasana yang dulu begitu familiar kini terasa asing bagiku," pikir Alsia.
Dia pun sampai di kediaman Acandra. Hanya ada beberapa pelayan saja di sekitar sana. Itupun bukan pelayan biasa, mereka mantan prajurit.
Alsia bisa melihat kereta kuda lain di depan pintu masuk.
"Alsia, syukurlah kau baik-baik saja." Farah keluar dan melakukan pelukan penyambutan.
Perempuan bermata biru itu pun membalas pelukan sang ibu.
"Maaf membuatmu khawatir, ibu."
"Di mana Arsa?"
Suara berat yang terkesan dingin itu terdengar. Alsia menoleh ke asal suara dan terlihatlah Mikael yang mengenakan pakaian ala ksatria dengan lambang pasukan keluarga Acandra di dada kirinya.
"Dia bilang jika ia datang sedikit terlambat aku hanya perlu menunjukkan lokasi evakuasi padanya. Arsa akan kembali sambil membawa calon menantu untuk kalian berdua."
Kalimat terakhir benar-benar membuat Mikael dan Farah terkejut.
Tangan Mikael terangkat untuk memijat dahinya. Helaan nafas kesal juga terdengar dari mulutnya.
"Anak itu, aku pikir dia bisa bersabar lebih lama."
"Semua orang punya sisi gelapnya masing-masing," balas Alsia santai.
Mikael merenung sejenak. "Terserahlah. Nanti aku akan memarahinya."
"Ayo kita berangkat ke tempat evakuasi lebih dulu."
Total ada tiga tempat evakuasi untuk para warga, satu di bekas tambang terbengkalai milik keluarga Acandra. Satu di tambang milik Marchioness Sagala dan yang terakhir adalah Hutan Kelabu.
Sayangnya meski Hutan Kelabu adalah tempat teraman, Uras sang pemilik memiliki kriteria sendiri untuk mengijinkan orang-orang masuk.
Duke Sasir Kusuma saat ini sedang meminta izin pada kerajaan untuk melakukan penutupan wilayah selama beberapa bulan karena biar bagaimanapun masih ada pihak kerajaan yang tak terkena kutukan Fino.
Tentu saja Duke Sasir Kusuma tidak mengatakan jika perang dengan para vampir menjadi alasan dilakukannya penutupan wilayah. Seluruh rakyat kerajaan bisa geger dan itu akan memperburuk keadaan.
Saat ini beberapa sosok penting sedang melakukan diskusi di dalam kediaman Acandra.
Alsia sendiri sedang berada di dapur. Memanggang kue bikinan sendiri.
Suasana mansion yang sepi bisa membuat bulu kuduk siapa pun berdiri, kecuali orang pemberani.
Ketika waktu memanggang selesai Alsia mengambil sarung tangan dan mengeluarkan kue yang sudah matang itu. Semerbak aroma coklat dan roti memenuhi seisi dapur.
Bodo amat dengan etika bangsawan atau apapun itu. Alsia lapar dan ingin makan.
Tap! Tap!
Dua suara langkah kaki terdengar dari lorong dan berhenti tepat di depan pintu dapur. Alsia dan ketidakpekaannya mengabaikan itu dan memotong kuenya menjadi beberapa bagian yang tidak simetris. Ada yang kotak ada yang segitiga.
KAMU SEDANG MEMBACA
Became The Side Character's Older Sister
Fantasy[Vote dulu sebelum membaca] [Dan kalo bisa jangan lupa follow] Karnika, salah satu fans dari antagonis sebuah novel. dia meninggal karna bom bunuh diri. bukannya pergi ke neraka atau surga karnika malah terlahir kembali di dalam novel favoritnya itu...
