20. bertemu (3)

1.6K 178 1
                                    

Pergi. Arsa harus menyuruh sang kakak dan Raden untuk segera pergi dari sini. Dia sudah menyadari jika sosok di depan mereka adalah vampir, terlebih lagi, pemimpin vampir.

Meski Arsa tidak tahu mengapa pemimpin vampir itu tidak menyerang mereka, ia harus tetap pergi secepatnya dari tempat ini.

Seorang pemimpin vampir baru saja terbangun dari tidur panjangnya. Hal itu tentunya mengundang bawahan setia vampir ini untuk datang dan melakukan penyambutan besar-besaran.

Arsa melirik ke arah Raden yang juga sedang menatapnya. Keduanya memikirkan hal yang sama kemudian mengangguk kecil.

Kini, hanya Alsia saja yang sibuk terpaku pada tokoh favoritnya.

"Kalian bisu?"

Angin dingin berhembus kencang. Bulan biru berada tepat di atas sosok Fino berdiri. Alsia mengaktifkan mode anak kecil dalam dirinya.

"Kami sedang beristirahat," Alsia menatapnya dengan mata berbinar-binar.

Fino menaikkan satu alisnya saat melihat raut wajah Alsia. Dia menyibakkan rambutnya ke belakang.

"Apa yang menyebabkan luka itu?" Fino bertanya sambil menatap luka di tubuh Raden.

"Ah, dia terjatuh dari puncak lereng."

Alsia menjawab, tidak ada rasa takut sedikitpun dari suaranya.

"Anu ... Apa anda penduduk di sekitar sini?"

Fino memiringkan kepalanya kemudian sedikit mengeryit. Sementara itu Arsa dan Raden yang berada di belakangnya begidik ngeri.

"Ya, bisa dibilang begitu. Kurasa."

"Kalau begitu ... Apa anda bisa memberitahu kami arah menuju desa terdekat?"

Mata merah itu menatap mata biru cerah Alsia sambil memikirkan sesuatu. Detik berikutya Fino tersenyum tipis.

"Tentu, makhluk kecil dan lemah seperti kalian harus segera mendapatkan mengobatan jika tidak ingin mati. Aku akan mengantar kalian."

Wajah alsia berseri-seri saat mendengar jawaban Fino, "terima kasih banyak!"

"Tidak masalah. Sesama manusia harus saling membantu bukan." Fino tersenyum, membuat kedua gigi taringnya sedikit terekspos.

Alsia masih dengan wajah polos serta kekanak-kanakannya. Dia menoleh ke belakang, raut wajah Arsa dan Raden jelas menunjukkan jika mereka berdua sedang tidak baik-baik saja.

"Raden, kau bisa jalan?"

Raden mengangguk pelan kemudian menghela nafas panjang, "Alsia, apa kau hanya pura-pura atau benar tidak tahu?"

"Soal apa?" Alsia bertanya balik.

Tentu Alsia tahu dengan jelas siapa sosok yang berada di depan mereka tadi namun, sedikit tidak masuk akal jika Alsia, yang notabene belum pernah bertemu vampir bisa langsung tahu mana manusia mana vampir.

"Jangan sembarangan meminta bantuan pada orang asing," Arsa bersuara.

Alsia memutar bola matanya malas, "aku tahu itu. Sudahlah, yang penting dia mau membantu kita menuju desa terdekat."

Arsa masih mengerutkan keningnya, dia ingin memberitahu sang kakak siapa sebenarnya sosok tadi. Akan tetapi, Arsa tidak bisa langsung memberitahunya.

Fino masih berada di dekat mereka dan Arsa memiliki kemungkinan buruk jika dia memberi tahu Alsia kebenarannya. Raden juga terlihat berpikiran demikian.

"Kalian sudah siap?"

Fino muncul setelah memeriksa area sekitar.

Alsia mengangguk sebagai jawaban. Dalam perjalanan keheningan muncul selama beberapa saat. Hanya ada suara langkah kaki dan hembusan angin malam.

Became The Side Character's Older SisterTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang