55. punya nyali

506 30 0
                                    

Uras tetap tersenyum meski mendapatkan respon kurang ajar dari Farah, manusia kesayangan yang sudah ia besarkan dari kecil.

"Sampai sekarang aku tidak tahu seperti apa kriteria tampan di matamu, Farah."

"Kriteria pertama, dia haruslah manusia."

Uras menatap keluarga kecil itu sekilas kemudian menyuruh mereka untuk mengikuti dirinya pergi melalui salah satu jalan setapak. Alsia mendekati sang adik dan berbisik.

"Apa yang kalian berdua bicarakan?"

"Selain masa lalu ibu dan ayah, Uras mengatakan padaku jika sosok malaikat pelindung masih hidup dalam jiwa para keturunannya. Dia melihat kehidupan seperti apa yang keturunannya jalani dan merasakan setiap emosi mereka, itulah kutukan yang dideritanya karena sudah meninggalkan tugas menjaga tanah tempat ia diturunkan."

"Oh, begitu."

Setelah berjalan menyusuri Hutan Cemara selama beberapa menit tibalah mereka di depan bangunan berupa candi dengan bentuk persegi. Tingginya mungkin sekitar 7 meter dengan lebar 5 meter tanpa pintu. Uras melangkah masuk lebih dulu.

Di bagian dalam candi terdapat sebuah altar dengan tulisan kuno yang entah bagaimana bisa Alsia baca.

"Kehidupan manusia baik dan buruk adalah akibat dari perbuatan manusia itu sendiri."

Alsia tak sengaja membaca tulisan kuno, membuat perhatian orang lain tertuju padanya.

"Rupanya sering bolos kelas tak membuatmu buta huruf kuno," ujar Mikael.

"Eh, aku tidak pernah mempelajari tulisan kuno apapun. Tiba-tiba saja aku langsung bisa memahaminya. Seperti ada mesin penerjemah otomatis di kepalaku."

Alsia buru-buru mengungkap kebenaran. Dia merasa tak enak karena sang ibu dan adik menatapnya seakan-akan melihat orang jenius.

Uras menatap Alsia sebentar. "Hm ... Bersyukurlah pada darah serta kekuatan malaikat yang berada di dalam tubuhmu karena dua hal itulah kamu bisa memahami bahasa kuno dari langit ini, Alsia."

Ketika tangan Uras menyentuh tulisan kuno itu sebuah cahaya putih kebiruan muncul menerangi bagian dalam candi yang redup. Dari sanalah Arsa dan Alsia bisa melihat ukiran lain di dinding-dinding candi.

Dalam sekali lihat Alsia tahu jika semua tulisan kuno ini merupakan nasihat serta panutan untuk hidup. Berbeda dengan keluarganya yang fokus melihat kegiatan Uras pada altar Alsia sibuk membaca semua tulisan kuno pada dinding candi. Ini kali pertama baginya.

Di kehidupan sebelumnya Alsia menghabiskan waktunya untuk melatih serta menghapus rasa empati dan kemanusiaan dalam dirinya. Yaah, membunuh 1000 manusia tak bersalah pasti akan membuat si pembunuh merasa bersalah cepat atau lambat dan bagi Alsia yang dulu, perasaan manusia hanya akan menghambatnya.

"Kalau dipikir-pikir, tujuanku sekarang benar-benar berbeda dengan saat pertama kali masuk ke dunia ini," batin Alsia.

"Alsia." Farah memanggil sang putri.

Alsia menoleh ke arah altar yang sudah dikelilingi oleh ratusan cahaya kuning kecil. Perempuan itu berjalan mendekati sang ibu.

Farah berbisik, "berdirilah di belakang Uras. Ritual menetralkan untuk kutukanmu akan dimulai."

Kutukan pada diri Alsia sekarang memang tidak seburuk seperti di buku harian pada pendahulu kepala keluarga Acandra itu karena kutukan Alsia belum lengkap. Setengahnya masih ada pada Mikael dan jika pria itu mati maka kutukan Alsia akan lengkap dan akan seburuk milik para pendahulunya.

Untuk itulah ritual penetralan dilakukan.

Ketika Uras merentangkan tangan semua cahaya kuning berkumpul di antara kedua tangannya. Hewan suci itu berbalik menghadap Alsia.

Became The Side Character's Older SisterTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang