"Varen."
Alsia tanpa sadar menyebutkan nama dari rekan psikopatnya dulu dan membuat seluruh mata tertuju padanya.
"Ah, maaf. Silahkan dilanjut obrolannya."
"Rupanya Nona Alsia mengetahui tentang Varen si pembunuh berantai terburuk dalam sejarah kerajaan Zamri, ya."
Nona bangsawan berambut biru muda kembali berbicara.
"Saya pikir tidak ada orang yang tertarik lagi dengan sejarah itu karena terlalu menyeramkan." Kipas ditangannya kembali menutupi mulutnya.
"Ah, sebenarnya saya tidak membaca kisahnya. Saya hanya pernah melihat nama itu sekilas. Apa boleh anda memberitahu saya seperti apa kisahnya?"
Mata perempuan itu menatap Alsia dalam-dalam kemudian memperlihatkan senyuman manis. "Tentu saja."
"Dahulu, sekitar 50 tahun yang lalu kerajaan dihebohkan dengan penemuan beberapa mayat di tengah-tengah jalanan ibu kota. Semua mayat itu berada dalam kondisi yang tidak mengenakkan.
Setelah dilakukan otopsi, pihak penyelidik pun melakukan pencarian besar-besaran. Seminggu berikutnya kejadian yang sama kembali terjadi. Mayat-mayat itu ditaruh begitu saja di tepi sungai dengan kondisi badan yang tidak lengkap.
Sebulan berikutnya pembunuhan berantai kembali terjadi. Kali ini mayat-mayatnya ditemukan di sebuah gudang terbengkalai. Kondisinya benar-benar buruk karena ada beberapa tubuh yang seperti dijahit membentuk binatang. Petugas penyelidik juga menemukan sebuah kertas bertuliskan 'Maha Karya Oleh Varen' dari sanalah orang-orang mengenal nama Varen.
Nona bangsawan berambut biru muda itu pun selesai bercerita.
"Wah, saya juga pernah membacanya di buku sejarah. Rumornya, si pemburu berantai bukanlah manusia."
"Iya, banyak yang bilang jika pembunuh itu masih hidup sampai sekarang."
"Kejadiannya juga hanya terjadi di ibu kota saja maka dari itu keluarga Kerajaan memerintahkan untuk menutup seluruh akses keluar masuk ke ibu kota selama sepuluh tahun."
"Benar-benar mengerikan ya."
"Iya, saya penasaran siapa yang tega melakukan tindakan keji itu."
Para nona bangsawan lain mulai saling mengeluarkan informasi dan pendapat yang mereka miliki. Kali ini Alsia mendengar dengan seksama, dia cukup tertarik.
"Pembunuh berantai, hanya ada di satu daerah atau wilayah, korban selalu lebih dari satu, kondisi mayat tidak sempurna, dan yang terakhir, dijahit hingga membentuk hewan." Alsia mulai memikirkan beberapa ciri khas dari kisah itu.
Perempuan berambut hitam itu meneguk tehnya hingga habis. "Benar-benar tipikal Varen sekali."
"Omong-omong, nona bangsawan di wilayah ini sepertinya tidak terlalu takut dengan kisah itu. Apa karena penyebab teror utama di wilayah ini adalah vampir?" Alsia mulai memperhatikan satu per satu wajah nona bangsawan di sana.
"Nona Alsia, apa anda memiliki ketertarikan dengan buku sejarah?" Seorang nona bangsawan berambut hijau gelap bertanya dengan binar di matanya.
"Ah, aku hanya membaca beberapa buku yang menurutku menarik saja."
"Benarkah? Lalu apa yang anda lakukan jika bosan di rumah?"
Alsia menjawab dengan senyuman santai. "Menjahili adikku, rasanya seru melihat wajahnya kesal."
Beberapa nona bangsawan pun terkekeh. Mereka yang juga memiliki adik pun sependapat dengan Alsia.
"Wah, hobi yang unik ya. Kalau saya suka membaca buku fantasi, rasanya seperti masuk langsung ke dalam ceritanya."

KAMU SEDANG MEMBACA
Became The Side Character's Older Sister
Fantasy[Vote dulu sebelum membaca] [Dan kalo bisa jangan lupa follow] Karnika, salah satu fans dari antagonis sebuah novel. dia meninggal karna bom bunuh diri. bukannya pergi ke neraka atau surga karnika malah terlahir kembali di dalam novel favoritnya itu...