27. Jeno Secret

1.2K 174 12
                                        

Banyak hal yang Jeno lalui semenjak menginjakkan kakinya di dunia luar, seperti dia diam diam meminum obatnya di tempat sepi ataupun di kamarnya, menahan rasa sakitnya ketika tengah berkumpul dengan yang lain, tetap menjalankan menu dietnya walaupun dia sudah bosan, menganggapnya seakan akan itu adalah makanan favoritnya.

Seperti saat Jeno memesan salad setiap kali dia makan sesuatu, dia sedang menjalankan dietnya, Ketika Jeno ke kamar mandi di hari pertama pindah ke Mansion, dia tengah mutah darah di sana, dan sempat pingsan tanpa sepengetahuan siapapun.

Dia mengenakan pakaian kebesaran untuk menutupi tubuhnya yang kadang semakin mengurus, kadang menggemuk kembali, itu juga untuk menahan udara dingin agar dirinya tidak terserang demam yang sering kali terjadi jika dia terkena angin sedikit saja.

Saat misi di Gunung Pembuangan, Jeno menutupi tubuhnya begitu rapat karna dia memasuki daerah yang sangat tabu baginya, yaitu Tempat dimana penuh zat kimia, walaupun tau itu beresiko tinggi, Jeno tetap bertanggung jawab sebagai kapten, dia tidak mau terlihat lemah.

Wajah pucatnya di gunung, akibat dirinya yang menahan perasaan sakit yang menusuk nusuk tubuhnya, bahkan dia sempat muntah darah beberapa kali, alasan inilah yang membuatnya menyarankan agar dia berjalan sendirian menuju puncak.

Dia langsung membaringkan tubuhnya di tenda Jisung karna sudah tidak kuat lagi, berusaha tidur untuk mengalihkan rasa sakitnya. Ketika dia jatuh di lubang, dia rasanya ingin pingsan, namun tetap menahan diri dan menghadapi Tanaman Mutasi dengan seluruh tenaga yang tersisa.

Setelah itu, saat berada di Institute Medical, dia sempat meminta dokter spesialis khusus Kanker untuk membantunya Kemoterapi, yah walaupun bukan Kai, setidaknya dia bisa tetap sehat, dan diam diam mengatakan kepada Dokter untuk berbohong bahwa dia baik baik saja, hanya menunggu lukanya sembuh.

Sebulan penyembuhan luka tak Jeno siasiakan untuk minum obat secara teratur yang biasanya tak teratur akibat sering sekali berkumpul bersama yang lain.

Misi di hutan kemarin, Jeno senang mendapat udara segar, namun cuaca dingin membuatnya cemas dan memilih untuk mendouble pakaian yang di pakainya, dia juga sering hujan hujan karna nekat. Apalagi dirinya pernah demam tanpa sepengetahuan yang lain, bahkan sering jarang makan semenjak adanya Sunoo, Jeno menjadi semakin menyedihkan di sudut yang tak terlihat.

Saat berada di Mansion, atau sedang misi, dia tak segan mengolesi make up tahan air di wajahnya, agar wajah pucatnya tersamarkan. Semua usahanya untuk menutupi penyakitnya berjalan dengan lancar, namun resiko yang dia terima menjadi sangat tinggi.

Apalagi di tambah suasana hatinya yang akhir akhir ini sedikit meredup dari biasanya, ingatlah, mood juga mempengaruhi kesembuhan. Karna itu orang tua Jeno akan selalu membuat Jeno tersenyum bahagia, mengajarinya sejak kecil artinya sebuah senyuman bagi hidup agar kelak Jeno tak menjadi anak yang putus asa dan tetap bahagia walaupun mengetahui penyakit yang perlahan lahan mengurangi nyawanya. Kebahagiaan itulah yang membuat Jeno mampu bertahan sejauh ini, jangan sampai cahaya itu padam di hidupnya.

.

"Sayang... Kamu mau makan?" Jeno dengan lesu menoleh, kini dia benar benar di rawat seperti saat pertama kali penyakitnya muncul lagi, yaitu di infus dan menggunakan masker oksigen, Jeno tidak menyukainya, namun ini semua juga demi dirinya.

"Mommy... Nono gak nafsu makan..." Ucap Jeno tersenyum tipis di balik masker oksigennya.

Baekhyun menarik nafas panjang, mencoba menahan air matanya yang ingin turun melihat keadaan anaknya, dia sakit hati sekali melihat anaknya seperti ini.

"Makan dulu sayang"

"Um... Nono capek Mommy... Nono mau bobo..." Jeno menggeleng pelan. Baekhyun selalu menegang ketika Jeno mengatakan bahwa dia ingin tidur sejak dulu, karna dia takut, takut Bayinya tak akan pernah bangun lagi.

"Tapi seperti Janji ya?" Baekhyun mencoba tersenyum manis, namun matanya semakin memerah.

"Tentu, Nono janji pasti akan bangun untuk bermain bersama Mommy, Daddy, Kaiyi dan yang lainnya..." Jeno mengangguk dengan senyum tipis menghiasi wajahnya.

"Oke kalo gitu, Mommy nyanyiin"

Baehyun pun mulai mengalunkan nada nada indah dari bibirnya, tanpa sadar air matanya kembali turun, Jeno yang melihat Mommy nya kembali menangis mencoba memberikan senyuman manisnya, Mommy nya ini lebih cengeng daripada dirinya, sejak dulu selalu saja menangis setiap melihatnya, padahal dia tidak apa apa.

"Nono tidak suka kalo Mommy nangis..." Lirih Jeno mengulurkan tangannya, mengusap air mata yang jatuh di pipi mulus Baekhyun. Baekhyun menggeleng, memejamkan matanya.

"Enggak sayang... Mommy gak nangis, sungguh... Ini karna Mommy terlalu senang kamu pulang ke rumah" Ucapnya menggenggam tangan Jeno yang tak di infus itu dengan erat, hatinya semakin teriris jika Jeno seperti ini.

"Um... Nono percaya..." Lirih Jeno dengan suara kecil, perlahan lahan matanya tertutup, dia tertidur, tangisan Baekhyun langsung pecah ketika Jeno telah tertidur, Bayi nya sangat kuat! Dia benar benar mampu berjuang sejauh ini, Mommy bangga sama kamu Jeno, Daddy juga sangat bangga pastinya, kamu anak satu satunya Mommy, dia ingat ketika Jeno pertama kali mendengar penyakitnya, dia bingung, lama setelah di jelaskan dia menjadi kaget.

Lalu Jeno berkata

"Mommy, Daddy... Janji sama Nono ya, Mommy sama Daddy bakalan kasih Nono adik kecil kalau Nono sudah gak ada ya...? Promise please...?"

Sejak itu, semuanya berubah, keluarga yang harmonis di luar, menyembunyikan goresan luka menyakitkan di baliknya, Mommy kagum sama kamu Jeno... Kamu bisa menyembunyikan penyakitmu serapat itu di luar, Mommy tidak pernah menyangka kamu sedewasa ini.

"Hei jagoan, Kalau kamu mau Mommy janji, Nono juga harus janji buat sembuh total oke?" Baekhyun mencium tangan Jeno, menyalurkan seluruh rasa sayang juga kesedihannya di sana.

"Bae..."

Tak ada tanggapan, Baekhyun masih tenggelam dalam kesedihannya menatapi putranya yang terlihat lemah dan pucat.

"Bae... Jeno bakalan capek kamu tangisin mulu" Chanyeol yang tadinya tak berniat untuk mengganggu keduanya kini melangkah masuk ke dalam kamar Jeno, menghela nafas panjang.

"Kenapa?! Lagipula Bayi kita gak liat!"

"Dia bukan gak liat kamu sedih, tapi dia pura pura gatau biar kamu gak makin sedih... Anak kita udah dewasa, bukan anak kecil lagi"

"Seharusnya dulu kita gak biarin Jeno jadi anak yang ambis, ini semua gara gara dia mau ikut lomba Percobaan bahan kimia di Institute Penelitian!" Seru Baekhyun menepis tangan Chanyeol yang ingin menyentuh pundaknya.

"Semua udah takdir sayang, Kalo emang takdir Jeno gak kaya gini, waktu itu mau gimanapun dia gak bakalan sakit!" Ucap Chanyeol mengusap wajahnya dengan kasar.

"Tuhan gak adil sama anak kita Chanu!" Teriak Baekhyun frustasi, Chanyeol buru buru membekap mulut istrinya.

"Bayi lagi tidur..." Peringat Chanyeol membuat Baekhyun menstabilkan pikirannya, kembali tenang.

"Ayo, bicara di luar"



































































Yoit!

Gila, Viel Nangis brutal ngetik ini Gaes, gatau kenapa waktu ngetik air mata Viel langsung tes tes tes tanpa alesan, sedih banget pokoknya kalian gitu juga gak waktu bacanya? :'(

See u~

No Trace ✓Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang