[SLOW UPDATE]
Setelah mengalami kecelakaan bus dan tewas, Renna bereinkarnasi menjadi salah satu anak dari tokoh villain psycopat dalam sebuah novel yang pernah ia baca. Parahnya lagi, kelak ia dan seluruh keluarganya akan dihukum mati oleh Male Lea...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
✯Happy Reading✯
"Apa yang akan Anda lakukan selanjutnya, Nona?" Hana yang entah sejak kapan sudah di sebelah Lycene bertanya kepada gadis itu.
"Entahlah, kurasa aku akan menyempurnakan ramuanku yang sebelumnya dulu."
"Kau bisa pergi Hana!" usir Lycene mulai menyibukkan diri dengan ramuan-ramuannya.
Baru saja Hana hendak membuka mulutnya untuk membuat alasan, Lycene sudah lebih dulu bersuara, "Jangan membuat banyak alasan, kau tidak bisa membiarkan anak buahmu berlatih tanpa pengawasan. Ingat! Kau pemimpin mereka."
"Baik, Nona." Pada akhirnya Hana hanya bisa mengangguk pasrah. Wanita itu lantas berbalik melangkahkan kakinya pergi meninggalkan ruang laboratorium nonanya.
Hana dengan langkah malasnya kini melangkahkan kakinya pergi ke tempat latihan para kesatria.
Saat di tengah perjalanan wanita itu berhenti saat seorang remaja lelaki menghampirinya. Zie … atau mungkin Zic? Entahlah, Hana tidak bisa membedakan keduanya karena terlalu mirip.
Terkadang ia heran dengan nonanya yang bisa dengan mudah membedakan mereka berdua hanya dengan sekali lirik. Ah, bahkan mungkin dari lubang hidungnya saja Lycene bisa membedakannya.
"Hallo Tuan Muda," sapa Hana sopan saat lelaki itu berdiri tepat di depannya.
"Hai, Hana," balasnya balik ramah.
Melihat respon ramah dan menyenangkan dari oknum di depannya Hana langsung bisa menebak bahwa ia adalah Zic. Karena Zie memiliki kepribadian yang sangat bertolak belakang dengan adiknya. Lelaki itu lebih cenderung dingin dan acuh pada sekitarnya.
"Apa kau ada melihat Lycene? Aku sudah mencarinya di sekitaran kastil tapi ia tidak ada. Kira-kira ke mana dia?" tanya Zic bingung, netra merahnya menatap ke sana ke mari mencari-cari.
"Maaf Tuan Muda, saya juga seharian ini belum ada bertemu dengan Nona. Apa Anda sudah mencarinya di dekat danau? Barangkali nona ada di sana."
***
Makan malam yang sangat harmonis, hanya terdengar dentingan peralatan makan yang saling beradu dengan piring tanpa ada percakapan apapun di dalamnya.
Rutinitas makan malam yang sama sekali tidak berguna menurut Lycene. Hanya saling diam tanpa bersuara lalu kembali ke tempat masing-masing begitu selesai.
Selalu seperti itu.
Lebih baik gadis itu makan sendiri di kamarnya. Melihat wajah ayahnya dan ibu si kembar sungguh membuat hati Lycene kesal, selera makannya jadi hilang seketika.
Dendam masa lalu itu … masih terukir jelas di hati gadis itu.
Karena berkat kebiadaban Luna—alias ibunya si kembar, ibunya Lycene harus merasakan pahitnya kematian karena racun.